Soeharto di mata pengecamnya

1 Soeharto di mata pengecamnya

“Kekuatan cenderung korup, dan kekuatan mutlak, mesti korup besar ” (Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely), ungkap Lord Action. Lebih lanjut ia mengungkapkan “harus disadari bahwa kekuasaan itu tak senang bertanggungjawab, ia menyuburkan kelalaian berpikir dan kebodohan” (Soegiarso Soerojo. “Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai”, 1988:105. “Tentara yang berkuasa cenderung tidak menyukai partai” ungkap pakar HTN UI Prof Dr Yusril Ihza Mahendra (SAHID 06, 10/96:74)). “Masa awal Orba, terlihat jelas bahwa elite pemerintahan kompak bersatu untuk mencegah munculnya kekuatan organisasi Islam”, ungkap Amir Santoso (GATRA 5, 17/12/94:100).

2 Riwayat keprajuritan Soeharto penuh misteri, dan tak mulus dari kriminalitas politik-ekonomi. “Waktu menjadi Pangdam Diponegoro, Soeharto melakukan usaha bersama dengan Liem Soei Liong. Soeharto tak percaya sama pribumi. Dia bisa bekerjasama dengan Cina”, ungkap pakar politik Dr Deliar Noer (AKSI 84, 23-29/6/98:19).

3 Soeharto yang dulunya kopral melihat satu-satunya kemungkinan kehidupan adalah jadi TNI. Dia masuk TNI bukanlah karena idealisme. Berbeda dengan Jatikusumo yang berjuang demi jayanya kedudukan bangsa Indonesia dari Belanda, si penjajah. “Berbeda dengan Ir Soekarno, Soeharto tidak memiliki isme”, ungkap Dwi Susanto, Dekan Fisip Unas (BERITA BUANA 19/6/98:3).

4 MRY Pohan mempertanyakan “Siapa sesungguhnya yang melakukan kudeta terhadap pemerintahan Presiden Soekarno ?”. WF Wertheim berupaya menemukan “Hubungan Soeharto dengan kup Untung, mata rantai yang hilang”. “Waktu Soeharto dilantik sebagai Pejabat Presiden tahun 1967, apa kehebatan beliau ?” tanya Abdullah Hehamahua (MEDIA DAKWAH 5/93:30).

5 Soeharto mengkhianati sebagian amanat SUPERSEMAR ayat I, agar “menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan pimpinan Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS” dan “melaksanakan dengan pasti segala ajaran Pemimpin Besar Revolusi”. SUPERSEMAR diselewengkan untuk hanya membubarkan PKI dan mengatur jalannya negara. Itulah dua kekuasaan yang ada pada SUPERSEMAR yang dipakai oleh Presiden Soeharto, menurut penjelasan Hari Sabarno dari F-ABRI DPR. Namun penjelasan Hari ini tak dapat ditelusuri kebenarannya, karena naskah SUPERSEMAR itu hilang (dihilangkan atau memang tidak ada ?). Bagi Hari, Bukti/data historis SUPERSEMAR taklah penting. “Tanpa SIM (lewat kudeta konstitusional ?) tidak ada masalah, asalkan tidak menabrak-nabrak (menyeleweng dari konstitusi ?) (KOMPAS 11/3/97:14).

6 Sejak pengangkatannya sebagai Presiden tahun 1968, Soeharto melakukan Manipulasi Politik, dengan memperkenalkan politik musyawarah dan (atau untuk) mufakat, dengan arti sepakat dulu, baru musyawarah, sehingga muncul Konsensus Nasional, yang menjadi biang petaka berantakannya cita-cita demokrasi. SI-MPRS tahu 1968 yang mengangkat Soeharto menjadi Presiden RI dengan TAP No.XLIV/MPRS/1968, dipertanyakan apakah ini merupakan “Kudeta Konstitusional; dengan memanipulasi SUPERSEMAR agar Presiden Soekarno tak dapat mencabut SUPERSEMAR itu kembali (DETIK 044, 5-11/1/94:77).

7 Soeharto merekayasa, seolah-olah negara berada dalam keadaan tidak aman, penuh ancaman (bahaya laten PKI ?), dengan memanipulasi TAP No.VI/MPRS/1968, sehingga selalu digunakan dalih demi stabilitas nasional (security approach). Soeharto menyalahgunakan disiplin militer untuk melakukan diktator militer (diktator konstitusional) dan pembantaian. Soeharto telah memperkuda ABRI untuk kepentingan ambisi pribadi dan keluarga serta kolega dekatnya untuk mengkonsilidr kursi (tahta/mahkota) dan dompet (hara/kekayaan)-nya. Namun demikian masih tetap saja ada ABRI yang sadar, yang siap menghadapi risiko, semacam Soemitro, Ishak Juarsa, Yusuf, Jasin, Widodo, Sugeng, Ali Sadikin, Azis Saleh, Suyitno Sukirno, dan lain-lain

8 Ekonomi nasional di bawah kepemimpinan Soeharto didominasi oleh Cina, dan Kapitalis Internasional. Dominasi ekonomi etnis Cina dapat disimak dalam EXPO 1, 4/8/84 dan 2, 18/1/84. Informasi tentang andil perjuangan etnis Cina pada masa penjajahan Belanda, Jepang, dan masa revolusi fisik dapat ditemukan dari elite Tionghoa Muslim. Majalah EXOPO akhirnya dilarang terbit, karena Soeharto khawatir kalau lingkungannya, termasuk dirinya sendiri secara tak langsung terungkap.

9 Rakyat di bawah kepemimpina Soeharto mengalami kemelaratan, kesengsaraan, pengangguran, perkosaan, tak mendapatkan keadilan dan kesejahteraan sosial-ekonomi. Dalam hubungan ini tampaknya adalah “suatu kemustahilan, kondisi golongan miskin itu akan berubah tanpa sesuatu kekuasaan. Dan suatu kekuasaan tidak akan lahir, tanpa diperjuangkan” (TOPIK 6, 14/2/84:6).

10 Di bawah kepemimpina Soeharto meningkat kriminalitas dan kejahatan, yang disebabkan oleh kegagalan pembangunan ekonomi. Tahun 1996 oleh YLBHI dinyatakan sebagai Tahun Kekerasan, Potret Pelanggaran HAM di Indonesia, Penindasan oleh bangsa sendiri.

11 Dua puluh tahun yang lalu (sebelum Agustus 1978) dengan mengaitkan nilai tukar rupiah pada dollar AS sebesar Rp.415 per dollar, maka nilai tukar rupiah merosot terhadap Yen, DM dan mata uang lain, karena menurunnya nilai tukar dollar terhadap mata uang asing lain. Belakangan (sekitar Juni 1998) dengan menerapkan sistem kurs mengambang, nilai tukar rupiah turun tajam terhadap mata uang lain sampai Rp.15.700 per dollar. Selama belum ada Kemerdekaan Ekonomi, sistem apapun yang dilakukan, namun Ekonomi Dunia tetap saja dikendalikan dari Wall-Street Amerika Serikat, yang tanpa peduli dengan kesengsaraan dan kemelaratan umat manusia, asalkan mereka menerima kembali dana bantuan yang mereka pinjamkan berupa utang beserta seluruh bunganya.

12 Para konglomerat dan koruptor tetap konsekwen membela Soeharto sebagai Bapak Pembangunan, Pembangun Agung, Pembangun Sukses, karena telah merasakan kelezatan hubungan KKN yang rapi dan mesra. Suharto beserta pejabat dekatnya, baik sipil maupun militer (kwartet militer, birokrat, teknokrat, konglomerat) mengkomersialkan jabatannya dengan menggadaikan negara ini kepada Cina dan kapitalis Internasional yang harus ditebus dan dibayar kembali sepanjang masa oleh rakyat.

13 Soeharto melakukan pengkhianatan terhadap jiwa, semangat dan amanat Pancasila/UUD-45 dengan menggunakan/menjadikan Pancasila itu sendiri sebagai \satu-satunya ideologi (Asas Tunggal). Soeharto merekayasa “kebulatan tekad bayaran”-nya untuk mendukung Asas Tunggal-nya melalui segala macam media. Soeharto melakukan berbagai rekayasa, sehingga Indonesia dilihat oleh dunia luar sebagai negara demokrasi. Soeharto merekaayasa DPR dan MPR sebagai legalisator untuk mengesahkan seluruh kebijakan yang sesuai dengan keinginan dan kemauannya (sebagai stempel Soeharto). Kedudukan Ssoeharto sebagai Presiden//Panglima Teringgi ABRI direkayasa agar berada lebih tinggi/kuat dari MPR. “Wajah kultur Jawa yang dianut elite politik orde baru dengan Asas Tunggal-nya menempatkan Presiden Soeharto sebagai pusat kekuasaan dan menempati hierarki tertinggi dalam sistim ketatanegaraan” (AKSI 84, 23-29/6/98:22).

14 David Jenkisn (dalam THE SYDNEY MORNING HERALD 10 April 1986) menulis seolah-olah Presiden Soeharto mempunyai kekayaan bermilyar-milyar dollar Amerika Serikat (KOMPAS 7/5/86:XII). ASIA WEEK (Hongkong) secara detail mengungkapkan kasus petrus (penembakan misterius) sebagai War-Criminal di bawah kepemimpinan Soeharto.

15 Anak-anak Soeharto pernah terlibat kasus perjudian di daerah puncak, tetapi polisi terpaksa angkat tangan untuk mengadakan pengusutan lebih lanjut. Sebagian jarangan bisnis keluarga Cendana (putera Soeharto) antara lain dapat diamati pada KOMPAS 13/5/97:18.

16 Jauh hari telah diramalkan (diprediksikan berdasarkan trends/kecenderungan data dan informasi) bahwa nanti Soeharto ingin mengundurkan diri sambil menunjuk penggantinya secara diktator dan tidak konstitusional. (Presiden yang sudah mengundurkan diri, yang telah menyatakan berhenti, yang sudah tak punya kekuasaan, dan sudah jadi rakyat biasa/umum, menetapkan dan mengangkat Presiden baru dengan memanipulasi konstitusi UUD-45 pasal 8 dengan bantuan pakar hukum tatanegara).

17 Soeharto tahun 1998 bukanlah seorang yang arif yang bijak (jalma limpat, saparapat tammat, een goed verstaander heeft maar, een half woord nodig), yang tak mampu melihat, meramalkan, memperkirakan, memprediksi, mempunyai intuisi tajam akan terjadinya Tragedi Mei 1998 yang mengenaskan, yang hanya berambisi melestarikan akumulasi kekayaan dan kekuasaannya bersama keluarga dan kolega dekatnya. Pemimpin yang arif dan bijak tak akan membiarkan rakyatnya dalam kesengsaraan dan kemelaratan, seperti seorang bapak yang tak akan makan lebih dulu sebelum anaknya kenyang.

18 Pengecam diancam lewat spanduk “Hentikan Hujatan/Pengusutan Terhadap Mantan Presiden Soeharto Agar Tidak Terjadi Pertumpahan Darah”, dan pernyataan “Jenderal Besar HM Soeharto adalah Negarawan Sejati Yang Arif Dan Bijaksana, yang dengan kesadaran sendiri mengundurkan diri sebagai Presiden, demi menjaga keutuhan dan keselamatan negara kesatuan RI” (REPUBLIKA 19/6/98:2, AKSI 84, 23-29/6/98:6). Pendukung, pengagum, pembela, pengacara Soeharto serentak melantunkan “Right or wrong my Soeharto”.

19 Fungsi utama dari Konstitusi yang diperjuangkan oleh para pendukung demokrasi adalah “pembatasan kekuasaan para penguasa”. Fungsi ini dalam UUD-45 sama sekali sangat samar. Prinsip “persamaan” antara warganegara dengan Kepala Negara di depan hukum di hadapan pengadilan sama sekali tak diatur dalam Konstitusi UUD-45. Dominasi kekuasaan sangat berlebihan diberikan oleh UUD-45 kepada penguasa (Kepala Negara/Presiden). Hampir tak pernah pertanggungjawaban Presiden yang dipermasalahkan oleh MPR. Hampir semuanaya diterima secara bulat tanpa cacatan dan catatan. Apalagi tak ada pemisahan secara tegas antara lembaga DPR dan lembaga MPR. Dan juga tak ada rumusan yang tegas tentang utusan daerah (tingkat I, II, III ?), golongan (minoritas, mayoritas, sipil, militer, konglomerat ?).

(Sumber antara lain : “Sudah Saatnya Pimpina Orba Jatuh”, oleh Mayjen (Purn) Ismail Hudaya, dll)

= Bekasi 7 Juli 1998 =

2 Pasal-pasal hukum/konstitusi yang dilanggar mantan Presiden Soeharto

Mei 1997, YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia) menerbitkan ” 1996 : Tahun Kekerasan, Potret Pelanggaran HAM di Indonesia ” yang menyajikan contoh-contoh kasus penjarahan hak-politik dan hak sipil rakyat yang dilakukan oleh regim pemerintah Orde Baru di bawah Presiden Soeharto sekitar 1996.

Contoh kejahatan (dosa-dosa kekuasaan) mantan Presiden Soeharto diungkapkan mulai dari tumbuh suburnya KKN (kejahatan ekonomi melalui penyelewengan Kepres), perilaku otoriter terhadap masyarakat, melakukan kekerasan fisik, membunuh secara perdata lawan-lawan politiknya, hingga memenjarakan dan membantai siapa saja yang melawan Pancasila. Juga kejahatan di bidang hukum dan pers, dan lain-lain (SABILI, No.7, Th.VIII, 20 September 2000, hlm 84).

Alangkah baiknya juga, kiranya YLBHI berkesempatan menerbitkan buku tentang “Pasal-pasal Hukum/Konstitusi yang dilanggar oleh mantan Presiden Soeharto” dan “Pasal-pasal Hukum/Konstitusi yang dilanggar oleh TNI/POLRI” sejak Maret 1966 sampai Mei 1998. Sekaligus menjelaskan pihak yang berhak/berwewenang mengadukan (mengajukan tuntutan/guggatan) dan mengadili pelanggaran tersebut.

Bagaimana sikap Hukum Acara Pidana terhadap terdakwa yang tuli, terhadap terdakwa yang bisu, terhadap terdakwa yang buta, terhadap terdakwa yang sakit saraf, terhadap terdakwa yang sakit jiwa, terhadap terdakwa yang bua huruf, terhadap terdakwa yang buta Bahasa Indonesia. Dan bagaimana pula status pengacara, penasehat hukum, kuasa hukum terdakwa, apakah hanya sebatas pendamping terdakwa saja, ataukah juga mencakup sebagai wakil/kuasa hukum terdakwa ?

= Bekasi 15 Februari 1999 =

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: