Sosok Koboi Bush Dalam Media

Sosok Koboi Bush Dalam Media

Tekanan demi tekanan yang dilakukan AS terhadap Timur Tengah belakangan ini dengan dalih memrangi terorisme lebih disebabkan karena George Buh merupakan wujud ultrakonservatif dalam politik Amerika. Dari tokoh-tokoh konservatif AS dalam satu dekade terakhir, Bush merupakan figur yang paling konservatif dan nontoleran terhadap pandangan di luar demokrasi ala AS.

Kini, Bush takut kehilangan momentum meraih dukungan publik menjelang pemilihan presiden di AS dengan meneruskan operasi militer di Irak dan Timur Tengah. Sepak terjang AS di mancanegara yang tampaknya didasari filosofi pre-emptive strike atau serangan pendahuluan untuk menangkal segala potensi ancaman terhadap kepentingan negara adidaya tersebut terlihat akan diteruskan George W Bush.

Kebijakan Bush yang tidak populer ini sudah ditentang para mantan Presiden AS, seperti Jimmy Carter dan Bill Clinton, yang menasehati untuk meninggalkan kebijakan kekerasan. Kebijakan Bush saat ini justru menampilkan wajah AS sebagai aggressive power di dunia.

Akibat sepak terjang AS dalam perang melawan terorisme, terlihat sejumlah negara sekutu mulai menjauhi, atau setidaknya mengambil jarak. Eropa pun terlihat perlahan-lahan menjauhi Bush.

Namun, kendati kehilangan simpati, Bush tetap mendapat dukungan dari sejumlah rezim Timur Tengah yang menjadi boneka AS. Rezim-rezim tersebut memang terlanjur tidak populer di mata rakyatnya sehingga otomatis mereka mendekat pada AS yang dianggap mampu memberikan perlindungan.

Bagaimanapun, Bush mulai menjumpai batu sandungan di dalam negeri terhadap kebijakan pengarahan militer AS yang diterapkan di mancanegara. Dalam beberapa bulan terakhir terbit sejumlah buku best seller di AS yang menelanjangi kebohongan Bush dalam politik, terutama menyangkut kebijakan melawan terorisme, seperti The Lies of George Bush Mastering the Politics of Deception karya David Corn, Lies and The Lying Liars Who Tell Them karya AL Franken dari Partai DEmokrat, dan The Great Unraveling Losing Our Way in the New Century karya Paul Krugman.

Seluruh tulisan tersebut menenlanjangi ambisi George W Bush dan blunder kebijakan yang dilakukan Timur Tengah, terutama keserakahan untuk menguasai sektor perminyakan dunia (KOMPAS, Sabtu, 20 Desember 2003, hal 32, Fokus : Bayangan Kelam Negeri 1001 Malam).

Begitu George Walker Bush berkuasa, demokrasi sudah lama hilang, digantikan dengan “democrazy”. Asas prtama demokrasi model baru ini adalah menghalalkan perbuatan balas dendam atas nama keluarga, bukan negara.

Pertaraungan antara keluarga besar Sadam Hussein melawan keluarga besar Bush sudah berjalan dua dekade. Dulu, ketika muda, Saddan adalah sekutu dekat Washington. Dengan tertangkapnya Saddam, dan terbunuhnya Uday dan Qusay, maka Bush senior dengan perusahaan raksasanya, Carlyle, semakin kaya berkat proyek-proyek rekonstruksi Irak. Sedang Bush yunior bisa bernafas lega dapat memperbesar kans mnang dalam pemilihan presiden tahun 2004.

Bush yunior (yang pandir itu), tidak seperti bapaknya yang diplomat ulung. Ia dikenal sebagai koboi, yang waktu muda sering menyopir ugal-ugalan dan bermabuk-mabukan. Ia suka mangkir waktu menjadi pilot, kurang berbakat di bangku kuliah, gagal menjadi pengusaha, dan sampai kini sering salah ucap,

Berkat koneksi politik, ia terpilih mnejadi gubernur. Tiba-tiba ia menjadi fanatik menjalankan agama, sehingga yakin bahwa Tuna-lah yang menjadikan ia sebagai presiden negara adidaya itu, walaupun kemenangannya diwarani cedera hukum dan ditentukan putusan Mahkamah Agung.

Merasa sebagai wakil Tuhan di dunia, juga masih menyimpan energi besar sebagai koboi, Bush yunior suka mengacungkan dan menembakkan pistolnya ke mana-mana. Dia merasa menjadi jagoan sendirian di dunia ini, yang dalam istilah politiknya disebut dengan unilateralisme.

Ia merasa Cina tak layak menjadi negara adidaya, menyebut PBB hanya sebagai ajang debat, melecehkan Protokl Kyoto yang bertujuan mencegah punahnya lingkungan hidup. Setelah tragedi 11 Septembr, ia bukan cuma bersikap ulilateralistis yang sadis terhadap dunia, malah rakyatnya sering ditakut-takuti, juga dimata-matai lewat Patriot Act, dan juga dibohongi berkali-kali. Ia tidak menajwab misteri tenang hubungan keluarganya dengan keluarga besar Bin Laden dan ogah mengungkapkan peranan Arab Saudi dalam tragedi 11 September.

Setelah tragedi 11 September pula, ia membohongi dunia. Tindakan politik luar negerinya didasari filafat preemptive strike (serbu dulu urusan belakangan). Ia pandai mengarang cerita WMD (senjata pemusnah massal). Apakah ada atau tidak, urusannya juga belakangan. Ia tak akan meninggalkan Irak sebelum minyak negara itu disedotnya sebanyak-banyaknya, dan mengajari rakyat Irak mengenai demokrasi ala AS (baca democrazy) (idem, hal 10, Politika : Mari Belajar “Democrazy”, oleh Budiarto Shambazy). 1

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: