Tips media untuk Amien Rais

Catatan dari media untuk Amien Rais

1 Ketua MPR-RI / Ketua Umum PAN Prof Dr Amien Rais
mengakui sering mengatakan sesuatu hal secara langsung
apa adanya. Ia juga menyampaikan permintaan ma’afnya
kepada bangsa Indonesia karena telah memilih
Abdurrahman Wahid sebagai Presiden. Hal itu
mendorongnya ingin menebuss kesalahannya dengan
mengusulkan sidang istimewa (SUARA PEMBARUAN, Senin, 6
November 2000, hlm 19).

2 Terpilinya Gus Dur menjadi Presiden dipelopori oleh
Poros Tengah (Amien Rais cs) melalui rekayasa politik
yang tidak dilandasi logika politik yang berlaku umum
dalam sebuah negara yang demokratis. Ini adalah
sepenuhnya menjadi tanggungjawab para anggota MPR yang
memlihnya. Pertanggungjawaban itu dapat diwujudkan
dalam bentuk pengunduran diri secara sukarela dari
keanggautaan MPR (idem, hlm 8, Danang S).

3 Kritik Amien Rais yang keras dan terbuka, membuat
orang “pasang kuda-kuda”. Situasinya akan lain, jika
Amien Rais dengan kebesaran hati mengakui turut
bertanggungjawab terhadap kepemimpinan Gus Dur yang
tidak kondusif untuk cita-cita reformasi.
Konsssekuensinya mundur dari Ketua MPR. Jika dia
melakukan ini, posisi moralnya sangat tinggi. Dia
bertanggungjawab Gus Dur, tidak saja sebagai Ketua
Mpr, tetapi juga penggagas Poros Tengah (KOMPAS,
Minggu, 22 Oktober 2000, hlm 4, Nurcholish Madjid).

4 Dalam rangka berandai-andai, jika Amien Rais jadi
Presiden, maka besar sekali kemungkinan akan timbul
banyak masalah dan kesulitan. Pokok permasalahan
terpusat pada ketidaksiapan masyarakat-rakyat yang
sudah terbiasa terdidik dalam suasana budaya
neo-feodalisme (pseudo-demokrasi, primordial,
paternalisme, mengacu ke atas, apa kata kiayai, sitim
panutan). Mental perhambaan (apa kata atasan) yang
sudah terhunjam dalaam secara sistimatis, baik dengan
indoktrinasi, intimidasi, maupun dengan provokasi dan
buldorisasi akan merintih berduka nestapa menerima
kebebasan dan kemerdekaan secara politis-ekonomis
(catatan 1 Oktober 1997 untuk SUARA MUHAMMADIYAH).

5 Dua tahun yang lalu, awal Agustus 1998, JAWA POS
Surabaya memberitakan adanya kegiatan dari tokoh-tokoh
yang berupaya mengkoordinir, mengorganisir,
menggalang, menggerakkan massa untuk melancarkan “Aksi
Anti Amien Rais” di bebeapa lokasi di Jawa Timur.
Kini, awal November 2000 sejumlah warga di Jawa Timur
dibawah pimpinan Kiyai-Kiyai muda berunjuk rasa
mencekal Amien Rais datang berkunjung ke Jawa Timur.

6 Dibutuhkan upaya-upaya sistimatis dalam pendidikan
politik rakyat dalam arti sebenarnya secara
menyeluruh, sehingga di seantero tanah air dan di
segala kalangan lahir orang-orang yang bermental
demokrat, yang jujur, yang berani mengingatkan bila
menyimpang, dan bukan orang-orang yang bermental
elitokrat atau plutokrat yang suka cari muka dan tidak
mau mengingatkan bila tersalah, bukan bermental oke
boss, terserah bapak, sumuhun dawuh. Yang mampu
bersikap seperti yang diucapkan Filosof Perancis
Voltaire “I don’t agree with what you say, but I will
defend to the dead your right to say it”.

7 Cendekiawan yang telah merintis dan menunjukkan
ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan pemerintahan dan
kenegaraan antara lain adalah : Jamaluddin al-Afghani,
Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Muhammad Iqbal, Mohammad
Natsir, Said Ramadhan, Muhammad al-Gahazali, Sayid
Quthub, Abul A’la al-Maudidi, Nameg Kemal, Muthahari,
Talegani, Bazargan, Syari’ati, Bani Sadar, Khomaini,
dan lain-lain (Dr H M Amien Rais, Hubungan antara
Politik dan Dakwah, 1995).

8 Bung Karno sebagai pencipta Pancasila dan Soeharto
sebagai penyelamat Pancasila, ternyata telah kualat
kepada Pancasila itu sendiri. Masyarakat mulai
melupakan dan meninggalkan Pancasila (SUARA PEMBARUAN,
Senin, 6 November 2000, hlm 9, JB Wahyudi). Masalah
pergantian Presiden di negara yang bersistim
pemerintahan presidensial akan selalu membawa dampak
yang luas terhadap seala aspek kehidupan (idem, hlm 8,
Danang S).

9 Dalam masyarakat yang lebih matang budaya demokrasi,
tak perlu khawatir akan sering terjadinya pergantian
kabinet dalam waktu pendek. Dan bukanlah alasan untuk
mengkambinghitamkan sistim parlementer sebagai
penghalang pembangunan (GELANGGANG, No,3, Tahun 1967,
Ir Anto T). Dalam sistim pemerintahan parlementer,
akumulasi kekuasaan akan lebih tercekal, akan sangat
sulit terangsang, suara rakyat banyak (parlemen) lebih
dominan dari suara tungal penguasa (presiden). Akan
sulit tumbuh berkembang sikap “father who knows best,
can do anything he wants”.
= Bekasi 8 November 2000 =

1

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: