Apa yang dikehendaki Allah

Apa yang dikehendaki Allah

Kita manusia adalah makhluk, ciptaan Allah. Sebagai makhluk, kita tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya dinginkan, dikehendaki AlKhalik, Yang Maha Pencipta. Paling-paling kita hanya bisa meraba-aba, mereka-reka, menerka-nerka, mengira-ngira berdasarkan masukan, informasi yang kita terima, yang kita peroleh. Semuanya itu bersifat zhanni, asumsi, tak lebih dari itu, bukan suatu kepastian.

Rasulullah mengemukakan : “Demi nyawaku yang berada dalam genggaman tanganNya, jika sekiranya kalian tidak bedosa, niscaya Allah melenyapkan klian dari muka bumi ini dan akan didatangkanNya suatu kaum pengganti yang akan berbuat dosa, kemudian istighfar, dan Allah pun berkenan mengampuni mereka” (HR Muslim dari Abi Hurairah, dalam Tarjmah Riadhus Shalihin, jilid I, hal 372, hadis no.11, jilid II, hal 153, hadis no.3, Tafsir Ibnu Katsir, jilid I, hal 407).

Dari sabda Rasulullah tersebut, kita bisa saja berasumsi, beranggapan bahwa Allah menghendaki sepanjang masa manusia ini berbuat dosa dan disela, diselingi sesa-at-sesat masa bertobat, memohon ampunan. Dari asumsi, anggapan tersebut, selanjutnya kita bisa pula berasumsi, beranggapan bahwa tujuan Allah dengan hal itu adalah agar di antara sesama manusia senantiasa saling ingat mengingatkan, saling menyeru kepada kebaikan, saling mencegah dari kemunkaran. Dengan begitu, dakwah haruslah berlansung sepanjang masa, tanpa terputus, tanpa ada jeda, pause, istirahat.

Allah berfirman : “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya” (QS 10:99).”Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat” (QS11:118). “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat saja, tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya (QS 16:93). “Sekiranya Allah menghendaki niscaya kamu dijadikanNya satu umat saja, tapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan” (QS5:48).

Simak lagi keterangan Rasulullah berikut. Seorang hamba yang telah bebuat dosa, lalu ia berkata : “Ya Allah ampunilah akan daku atas dosaku!”. Allah Maha Berkat dan Maha Mulia menyahut : “HambaKu mengetahui bahwa ia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosanya, maka Aku telah mengampuni dia”….. Hamba itu pun mengulangi perbuatan dosanya….. dan berkata : “Wahai Tuhanku ampunilah dosaku” – “HambaKu mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang dapat mengampuni dosanya” – “Saya telah mengampuni dosanya!”. Kemudian kembali lagi ia mengulangi prbuatan dosanya, ia pun berkata : “Ya Tuhanku, ampunilah dosaku!” – Allah Maha Berkat dan Maha Mulia _ “HambaKu mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang berkenan mengampuni dosanya… Saya telah mengampuni hambaKu, berbuatlah sesuka hatimu….!” (HR Bukhari, Muslim dari abi Hurairah, dalam Tarjamah Riadhus Shalihin, jilid I, hal 371, hadis 11, Tarjamah Lukluk walMarjan, ilid II, hal 1043, hadis no.1754). Intinya rutinitas berbuat dosa yang disertai dengan permohonan ampunan.
1

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: