Ketiadaan Kepekaan Sosial

Ketiadaan Kepekaan Sosial

Keadaan kesejahteraan sosial masyarakat Indonesia kini (tahun 2002) tak lebih baik dari lima puluh tahun yang lalu, bahkan lebih buruk. Suasana kesejahteraan dan mentalitas masyarakat Indonesia seperti yang dilukiskan oleh HB Jassin (tahun 1953) “Sungguh banyak sekali yang menjengkelkan. Pejuang yang berpura-pura, profiteur-profiteur yang ulung merampas kedudukan yang baik, sedang pejuang-pejuang yang sebenarnya tersingkir, pseudo pemimpin dan pseudo politikus (badut-badut politik) yang mempergunakan rakyat buat kepentingan dirinya, birokrasi yang membikin lumpuh jalannya seluruh kementerian, Pemerintah dan orang-orang Pemerintah yang banyak bicara tapi tidak segan menjual negara kalau ada kesempatan untuk itu buat kepentingan dirinya sendiri, kongres-kongres yang memakan biaya puluhan ribu rupiah (kini ribuan dibaca jutaan) dan tidak ada manfa’atnya yang langsung, sedang rakyat tidur di bawah jembatan dan wagon-wagon dan bermatian kelaparan, pertandingan kecantikan yang sia-sia dan berdasarkan keriahan yang kosong. Dan banyak lagi yang membikin hati mendongkol, penguasaha-pengusaha yang kejam memeras keringat buruhnya dan membayarnya tidak cukup separoh dari kebutuhan hidupnya, sambil memakai kedok sosialis atau bapa keluarga perusahaannya. Orang yang menyebut dirinya marhaen tapi hidupnya minta disembah-sembah seperti kaum menak jaman Pajaajaran beberapa abad yang lalu” (“Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Essay”, 1954).

Demikianlah potret diri kondisi kesenjangan sosial masyarakat Indonesia delapan tahun setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Semuanya tetap seperti itu hingga kini, tak ada yang berubah. Betapa banyak politisi yang mengatasnamakan rakyat, mencatut nama rakyat untuk kepentingan dirinya. Betapa banyak pejabat pemerintah yang banyak bicara, tapi tak menghasilkan apa-apa. Betapa banyaak seminar-seminar yang menelan biaya ratus jutaan rupiah, tak membawa hasil apa-apa. Betapa banyak uang negara yang dihabiskan untuk jalan-jalan ke luar negeri, sementara rakyatnya hidup melarat (benar-benar tak ada rasa kepekaan sosial). Betapa banyak acara-acara mewah, glamor, sementara yang lain mengais sampah untuk hidup. Betapa banyak konglomera-konglomerat yang mengisap keringat buruh, sementara nasib buruh compang camping (benar-benar homo homini lupus, exploitation de l”home par l’home). Betapa anyak yang merasa dirinya sebagai pejuang wong cilik (rakyat marhaen), namun hidupnya seperti kapitalis. Rakyat, dari generasi ke generasi sudah payah, dan bertanya apakah kondisi ini akan dilestarikan ?

1

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: