Memasyarakatkan Pesan Islam

Memasyarakatkan Pesan Islam

Setiap Muslim ketika membaca kalimah syahadah “La ilaaha illallah Muhmmadur Rasulullah”, berarti pada saat itu ia telah mengakui bahwa satu-satunya hukum yang harus ia patuhi adalah Hukum Allah, yang berdaulat atas dirinya hanyalah Allah, pemerintahnya hanyalah Allah, hanya Allah lah yang harus ia patuhi, dan hanya hal-hal yang benar menurut Allah dan RasulNya sajalah yang benar baginya. Seseorang, begitu menjadi Muslim, berarti konsekuensinya ia berkewajiban menilai segala sesuatu berdasarkan al-Qur:an dan Sunnah, bukan berdasarkan pendapatnya sendiri, pendapat atau kebiasaan masyarakat. Ia harus menerima apa yang sesuai dengan Firman allah dan Sunnagh RasulNya, dan menolak apa pun yang bertentangan dengan keduanya, tak peduli apa kata orang dan apa yang mereka lakukan. Adalah bertentangan (kontradiktif) bila di satu pihak ia mengatakan bahwa ia adalah seorang Muslim, tapi di lain pihak ia masih lebih menurutkan pendapat dan seleranya sendiri, atau kebiasaan masyarakat, atau apa yang dikatakan dan dilakukan oleh orang-orang yang enggan menuruti al-Qur;an dan Sunnah. Seorang Muslim hanya akan menyrahkan seluruh masalah hidupnya kepada ajaran al-Qur:an dan Sunnah, dan mengesampingkan pemikirannya sendiri, atau adat kebiasan masyarakat, atau perkataan dan perbuatan orang yang tak menuruti ajaran Allah dan RasulNya. Seorang Muslim harus tetyap berada dalam ikatan Islam, yaitu menerima firman Allah dan Sunnah RasulNya sebagai kriteria kebenaran dan keadilan, dan memandang segala sesuatu yang bertentangan dengannya sebagai kebatilan. Setiap saat ia membuat keputusan terhadap segala persoalan hidup berdasarkan metode, petunjuk yang telah digariskan dalam Kitab Allah dan Sunnarh RasulNya, bukan berdasarkan metode yang ditentukan oleh kemauan dirinya sendiri, atau adat kebiasaan, atau aturan yang dibuat oleh masyarakat (Abul A’la Maududi : “Dasar-Dasar Islam, 1984:25-27).

Seorang Muslim senantiasa terikat dengan hukum-hukum Islam. Tindak tanduknya terikat pada syari’at Islam. Ia selalu terikat dan wajib menjalankan hukum-hukum Islam. Seorang Muslim menjalankan suatu perbuatan atau meninggalkan suatu perbuatan, semata-mata berlandaskan hanya kepada nash-nash syar’I saja, bukan karena pertimbangan maslahat atau mudharat menurut otaknya. Seorang Muslim wajib mengikatkan dirinya ahanya dengan pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum Islam, tanpa melakukan kompromi dengan pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum kufur (Buletin Dakwah AL-ISLAM, Edisi 047, Tahun VII, hal 2-3). Masdar F Mas’udi, wakil Direktur Eksekutif Perhimpunan Penyantun Pesantren Dan masyarakat, pengarang buku “Agama Keadilan, Risalah Zakat (Pajak) dan Islam” dengan tegas mengatakan bahwa sumber pemikiran bukanlah Hadits Shahih, melainkan maslahat mursalah (realitas empirik). Ia menolak RUU Zakat dengan dalih tidak adil (Suplemen Republika TEKAD, No.29, Tahun I, 26 Juli – 1 Agustus `1999). Seperti juga Abdurrahman Wahid, Said Aqil Siradj, Masdar F Mas’udi menyatakan bahwa tidak ada negara Islam. Tersiarat di dalamnya bahwa yang dikehendaki adalah sistem negara sekuler. Mereka menentang segala macam bentuk legalisasi ajaran Islam (Amsar A Dulmanan : REPUBLIKA, 30 Juli 1998). Na’udzubillahi min dzalik.

Setiap Muslim berkewajiban memasyarakatkan pesan-pesan Islam. Salah satu pesan islam adalah agar senantiasa berpegang dan berpedoman hanya pada ajaran Islam itu sendiri dan melucuti seluruh ajaran, ideologi baik lokal, regional maupun internasional. Sedangkan yang bukan Muslim bebas melakukan sesuatu yang disukainya, dan menyebut dirinya dengan sebutan yang disukainya, asalkan saja tak mengganggu, merintangi dakwah Islam.

Setiap Muslim berkewajiban menyru siapa saja ke dalam Islam secara totalitas. Ideologinya Islam. Politiknya Islam. Ekonominya Islam. Sosiologinya Islam. Budayanya Islam. Pertahanannya Islam. Keamanannya Islam. Ketertibannya Islam. Pemerintahannya Islam. Pembangunannya Islam. Pengadilannya Islam. (Fathi Yakan : “Bagaimana Kita Memanggil Kepada Islam”, 1978:99-159, Garis-Garis Besar Ajaran Islam, Muh Quthb : “Jawaban Terhadap Alam Fikiran Barat Yang Keliru Tentang Al-Islam”, 1981).

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain Allah” (QS 7:3). “Masuklah kamu ke dalam Islam secara Keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan” (QS 2:208). “Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain, karena jalan-jalan itu menceraikan kaamu dari jalan-Nya” (QS 6:153). “Dana janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya dan mereka telah menyesatkan kebanyakan manusia dan mereka tersesat dari jalan yang lurus” (QS 5:77). “Dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sesungguhnya orang itu telah sesat dari jalan yang lurus” (QS 2:108).

1

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: