Menangkal kemunkaran dari ide Haji Miskin (Tokoh Paderi Minang)

1 Belajar menangkal kemunkaran dari ide Haji Miskin (Tokoh Paderi Minang)

Perang Paderi di Sumatera Barat dipicu dari kalangan santri/tuanku (Harimau Nan Salapan, Walisongonya Minang, hasil didikan Tuanku di Kubupisang Ampek Angkek Agam), yang sejak dari awalnya membawa nama dan panji pemurnian/pembelaan eksistensi agama Islam. Dalam perang Paderi isu yang diangkat adalah gerakan pemurnian syari’at Islam lepas dari segala kesesatan khurafat dan bid’ah, bebas dari segala maksiat dan kemunkaran.

Gerakan pemurnian di Sumatera Barat (Minangkabau) idenya datang dari haji muda (Haji Miskin, Haji Sumanik, Haji Piobang) yang telah lama mukim di Makkah. Gaung pemurnian ini kemudian menjadi panas dan membakar kaum adat yang merasa kedudukan dan wibawanya mulai tergusur. Dari sinilah awal mula peperangan Paderi berlansung, karena kaum adat dan kaum tua meminta bantuan pemerintah kolonial Belanda untuk memberangus gerakan pemurnian tersebut. Kemudian terjadi perang fisik antara tentera pemerintah dan ummat Islam. Sasaran utama dari gerakan Paderi adalah memberantas maksiat dan kemunkaran, seperti tarikus-shalah, sabung ayam, ampok-judi. Dan mulai dengan mendidik, menggembleng beberapa anak muda untuk melaksanakan nahi munkar dan kemudian melakukan amar makruf.

(ISHLAH, Edisi 73, 1997, hal 13, “Daun Kering Dan Semangat Agama”, Aqib Suminto : “Politik Islam dari Hindia Belanda”.

Piagam Bukit Marapalam merupakan bukti konkrit akan keberhasilan gerakan dakwah Islamiyah berikut aktivitasnya di Minangkabau memberikan tashawwur Islamiyah secara waadhih kepada ummah, sekaligus memanaje dakwahnya sehingga mampu memberikan corak Islami terhadap norma-norma dan tatanan kehidupan bermasyarakat dalam batas-batas tertentu, sehingga tercapai “adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah, syara’ mangato, adat mamakai, alam takambang jadi guru”.

(ALMUSLIMUN, No.293, Agustus 1994, hal 69, Tsaqafah : “Perspektif Dakwah Islamiyah di Indonesia” oleh Feri Afridal)

Apa ide yang diperjuangkan oleh trio Haji Sumanik, Haji Piobang dan Haji Miskin ? Bagaimana cara yang ditempuh mereka memperjuangkan ide tersebut ? Berhasil ataukah gagal perjuangan mereka ? Jika gagal, apa faktor yang menyebabkan kegagalan tersebut ? Ini memerlukan kajian khusus untuk dapat bercermin pada perjuangan Kaum Paderi menumpas maksiat dan kemunkaran.

Siapakah pelanjut perjuangan mereka ? Bagaimana cara yang ditempuh Imam Bonjol, Tuanku Rao, Tuanku Tambusai dalam memperjuangkan ide mereka ? Berhasil atau gagal ? Jika gagal, faktor apakah yang menyebabkan kegagalan mereka ? Bagaimana cara perjuangan Harimau Nan Salapan ? Berhasil ataukah gagal ? Jika gagal, apa faktor penyebab kegagalan ? Di samping alam takambang, maka sejarah peristiwa lampau juga jadi guru (ibrah, pedoman, pelajaran).

Pada masa kini, apakah masih ada yang melanjutkan perjuangan trio Haji Miskin, Haji Sumanik, Haji Piobang ? Yang lansung berdakwah ke dalam daerah maksiat dan munkarat, bergaul menarik mereka ke daerah thaiyibat makrufat.

= Bekasi 25 September 2000 =

2 Kondisi Umat Islam di mana-mana (Antara Jihad dan Demokrasi)

SABILI No.12Th.Iv Rajab 1412H (sembilan tahun yang lalu) mengulas lenyapnya kemenangan FIS secara demokratis dengan judul “Aljazair Antara Jihad dan Demokrasi” (hlm 52-54). Antara lain dikemukakan bahwa : Demokrasi ternyata sesuatu yang mahal di negara-negara dunia ketiga. Demokrasi itu sendiri seringkali bersifat nisbi dan tidak jelas batasannya. Demokrasi dalam prakteknya ternyata kerap kali menyimpang jauh. Di negara yang menyatakan diri menganut faham demokrasi, kenyataan politik yang berlaku sering menyimpang dari yang dicita-citakan. Pada prakteknya demokrasi itu tak lebih dari suatu doktrin yang dipakai untuk memelihara kepentingan Barat. Fakta amenunjukkan, ukuran demokrasi adalah sejauh mana kepentingan negara-negara Barat dengan biangnya AS terlindung. Negara Barat tak segan-segan mendukung rejim represif dan otoriter yang dianggap bisa memelihara dan menjaga kepentingan Barat. Tuduhan anti demokrasi dengan lugas ditempelkan kepada gerakan Islam betapapun didukung oleh mayoritas rakyat. Demokrasi hanya dikenakan Barat (Yahudi dan Kristen) dan pendukungnya kepada gerakan-gerakan di luar Islam, yang akan membantu terpeliharanya stabilitas dominasi Barat dengan As sebagai biangnya. Teriakan-teriakan lantang tentang demokrasi yang digaungkan oleh Barat (Yahudi dan Kristen) dan pendukungya, tidak lebih dari demokrasi semu. Memobilisasi massa melakukan pergolakan secara luas, terbukti cukup effektif dalam menghadapi pemerintahan yang represif dan otoriter.

Di hampir semua negara ketiga, militer merupakan kekuatan sangat dominan di panggung politik dan kekuasaan. Hampir tidak ada negara-negara dunia ketiga yang pemerintahannya lepas dari kendali militer. Rejim militer di negara-negara dunia ketiga, rata-rata memendam kebencian yang dalam terhadap aspirasi Islam dan gerakan Islam. Betapapun besarnya dukungan rakyat kepada gerakan Islam menurut cara demokratis, tidak berarti aspirasi Islam bisa ditegakkan dengan leluasa. Memperjuangkan Islam ternyata taka cukup hanya dengan satu sektor kekuatan. Diperlukan penguasaan dan penghimpunan potensi secara integral dan terpadu dari berbagai bidang. Diperlukan organisasi yang memiliki kekuatan bersenjata melawan junta militer. Diperlukan militer yang berpegang pada rasa kemanusiaan dan berpihak pada rakyat dan penguasa adil, bukan berpihak pada penguasa lalim, meskipun dri kelompok sendiri. Diperlukan militer yang berdiri secara netral dan hanya mendukung yang mendapat kepercayaan rakyat, tanpa turut campur tangan dalam urusan-urusan politik.

Kondisi di mana relatif rakyat hidup miskin dan bodoh, tidak memungkinkan demokrasi dilaksanakan secara jujur daan baik. Agar supaya demokrasi dapat dilaksanakan secara baik diperlukan pendidikan rakyat yang relatif memadai dan tingkat kehidupan ekonomi yang cukup.

SABILI No.8/Th.VIII 16 Rajab 1421H dalam Telaah Utama tampil membawakan pelajaran dari negara-negara Islam dan gerakan-gerakan Islam yang diobok-obok oleh musuh-musuh Islam, seperti kekacauan yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Sudan, Somalia, Iran, Irak, Turki, Pakistan, Libya, dan lain-lain. (Bks 1-9-1996)

1

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: