Mengaji Arah Dakwah Rasulullah

Mengaji Arah Dakwah Rasulullah

1 Pada awal masa pemerintahan Abu Bakar ada sementara orang yang mengira hanya Nabi Muhammad sajalah yang berhak memungut zakat, karena beliaulah yang disuruh mengambil zakat pada ayat 103 surah Taubah yang terjemahannya : “Ambillah sedekah dari pada harta mereka, buat pembersihan dan penghapusan kesalahannya”. Menurut paham mereka, hanya pemungutan yang dilakukan Nabi Muhammad saja yang dapat membersihkan dan menghapuskan kesalahan-kesalahan pada ayat 103 surat Taubah tersebut. Begitu juga ayat-ayat lain seperti ayat 24-25 surah Ma’arij yang terjemahannya : “… dan orang-orang yang pada harta mereka ada hak yang ditentukan bagi orang yang meminta dan orang miskin”.

2. Pada masa belakangan ada sementara orang yang menduga bahwa ajaran tentang bai’ah bukanlah ajaran Islam. Hadits mauquf riwayat Imam Ahmad bin Hambal yang terjemahannya berbunyi : “Tidak ada Islam kecuali dengan berjama’ah, tidak ada jama’ah kecuali dengan amir, tidak ada amir kecuali dengan bai’ah, dan tidak ada bai’ah kecuali dengan tha’at”, disebutkan bukanlah ucapan Rasulullah, melainkan hanyalah ucapan Umar bin Khaththab.

3 Juga ada sementara orang yang menolak bahwa Qur:an ataupun Hadits secara harfiah menyebutkan perlunya khilafah. Mereka menolak bahwa Nabi pernah berusaha melaksanakan kekuasaan politik, dan menyatakan bahwa Nabi tidak menentukan pemerintahan permanen setelah beliau meninggal, agama tidak menentukan suatu bentuk pemerintahan tertentu.

4 Sejarah mencatat bahwa setelah menerima beberapa firman Allah, maka Rasulullah lansung bangun berdiri memberi peringatan mengajak ahli rumah tangga beliau (Khadijah, isteri beliau, Ali bin Abi Thalib, anak paman beliau, Zaid bin Haritsah, anak angkat beliau) supaya beribadah hanya kepada Allah, mengerjakan shalat.

Sampai sa’at itu firman-firman Allah yang diterima Rasulullah baru mengenai : Perintah membaca dengan nama Tuhan, Maha Pencipta, Maha Pemurah. Perintah bangun berdiri menyampaikan perintah. Perintah mengagungkan Tuhan. Perintah membersihkan pakaian, Perintah menghindari perbuatan dosa. Perintah menabahkan hati. Perintah menyebarkan kurnia Tuhan. Larangan memberi karena ingin menerima lebih banyak. Larangan bersikap bengis terhadap anak yatim. Larangan menolak orang yang meminta. Keterangan bahwa manusia diciptakan Tuhan dari segumpal darah. Keterangan bahwa yang mengajara manusia dapat menulis dan yang mengajar manusia apa-apa yang tidak diketahuinya adalah Tuhan, Maha Pemurah. Keterangan bahwa hari kemudian lebih baik dari hari sekarang.

Secara harfiah, firman-firman Allah tersebut tidak menyebutkan, bahwa Tak ada Tuhan selain Allah, bahwa Muhammad itu Rasulullah, bahwa Shalat itu diwajibkan.

5 Rasulullah sungguh sudah disiapkan Allah membawa risalah (amanat wahyu), sehingga sanggup menerima memikulnya. Segera risalah beliau terima, segera pula beliau teruskan, beliau sampaikan. Rasulullah menerima perintah Allah untuk menyampaikan risalah tanpa dijelaskan cara menyampaikan dan mempertahankan risalah itu. Pelaksanaannya diserahkan kepada beliau menurut kemampuan akal, pengetahuan kecerdasan beliau. Rasulullah juga dibekali Allah dengan bakat seagai negarawan, pejuang dan penakluk. (Muhammad Husain Haekal : “Sejarah Hidup Muhammad”, 1984:59, 89,221).

6 Rasulullah berpikir-pikir, bagaimana mengajak kaum Quraaisy. Waktu itu Abu Bakar bin Abi Quhafah dari kabilah Taim adalah teman akrab Rasulullah, orang dewasa pertama yang diajak Rasulullah menyembah Allah yang Esa dan meninggalkan penyembahan berhala. Abu Bakar tidak ragu-ragu memenuhi ajakan Rasulullah dan beriman akan ajakan itu, membersihkan pakaian dan jiwa, berderma kepada orang yang membutuhkan dan berbuat kebaikan kepada anak yatim.

7 Sasaran Dakwah Nabi Musa dimulai ke arah istana, ke arah penguasa Fir’aun, baru kemudian kepada kaumnya Bani Israil. Sebaliknya Dakwah Rasulullah dimulai ke arah keluarga dekat, kemudian kepada masyarakat Arab, dan selanjutnya kepada ummat manusia seluruhnya.

8 Tiga tahun sesudah kerasulan, Allah memerintahkan Rasulullah supaya : Memberi peringatan kepada keluarga dekat. Melimpahkan kasih sayang kepada orang-orang yang beriman, yang mengikuti Rasulullah. Menyampaikan apa yang sudah diperintahkan Allah. Tidak menghiraukan orang musyrik

Perintah Allah ini pun tanpa dijelaskan cara menyampaikan dan mempertahankannya. Segera menerima perintah itu, Rasulullah segera mengundang makan keluarga-keluarga ke rumah beliau, dan mengajak mereka beriman kepada Allah, serta mengajak mereka mendukung risalah beliau. Kemudian Rasulullah meningkatkan seruannya kepada penduduk Makah. Dari bukit Shafa beliau menyeru bahwa tak ada sesuatu kebahagiaan/keuntungan selain mengucapkan “Tak ada Tuhan selain Allah”. Sampai sa’at ini pun tak ada firman Allah yang secara harfiah menyebutkan bahwa “Tak ada Tuhan selain Allah”.

9 Pada musim ziarah ke Makkah (Zulhijjah, sepuluh tahun sesudah kerasulan), dua belas orang penduduk Yatsrib berikrar kepada Nabi Muhammad di celah gunung ‘Aqabah (Ikrar Aqabah pertama) untuk : Tidak menyekutukan Tuhan. Tidak mencuri. Tidak berzina. Tidak membunuh anak-anak. Tidak mengumpat. Tidak memfitnah. Tidak menolak berbuat kebaikan.

Nabi Muhammad menugaskan kepada Mus’ab supaya amembacakan Qur:an dan memberikan pelajaran agama Islam serta seluk beluk hukum agama di kalangan Muslim Aus dan Khazraj.

10. Pada Zulhijjah tengah malam, sebelas tahun sesudah kerasulan, tujuh puluh lima orang jama’ah haji dari Yatsrib (tujuh puluh tiga pria dan dua wanita) berikrar kepada Rasulullah di celah gunung ‘Aqabah (Ikrar Aqabah kedua) untuk : Membela Rasulullah. Mendengar dan setia )ta’at). Akan berkata benar. Tidak takut kritik. Selesai ikrar, Rasulullah minta mereka memilih dua belas orang pemimpin dari kalangan mereka untuk diberi tugas sebagai penanggungjawab masyarakatnya.

Secara harfiah pun tak ada firman Allah yang memerintahkan Rasulullah untuk mengambil bai’ah dari pengikutnya untuk membelanya. Ikrar Aqabah ini adalah ikrar pertahanan (defensif), membela diri, kehormatan, tanah air, kebebasan beragama, bukan untuk melakukan tindakan permusuhan (agresif).

11 Di Madinah Rasulullah mengajak kaum Muslimin supaya masing-masing dua bersaudara demi allah. Setiap orang dari kalangan Muhajirin dipersaudarakan Rasulullah dengan setiap orang dari p;ihak Anshar. Kemudian Rasulullah mengadakan persetujuan dengan pihak Yahudi atas landasan kebebasan. Diikuti dengan suatu ikrar perjanjian persahabatan dan persekutuan serta menetapkan adanya kebebasan beragama. Perjanjian tertulis ini disebut juga dengan Konsatitusi Madinah. Diantara isi Konstitusi Madinah ini menyebutkan bahwa bilamana timbul perselisihan tentang sesuatu masalah , maka penyelesaiannya diserahkan kepada Allah dan kepada Rasulullah. Dalam Konstitusi Madinah ini Rasulullah menonjol sebagai pemimpin negara, yang dipercayakan menyelesaikan segala peristiwa kenegaraan dan segala persengketaan.

12 Untuk mengamat-amati gerak-gerik pihak quraisy, serta menggentarkan Quraisy dan Yahudi, setelah delapan bulan di Madinah, Rasulullah mengirimkan tiga puluh orang pasukan dari kalangan Muhajirin di bawah pimpinan paman beliau, Hamzah bin Abdul Muthalib ke tepi laut Merah. Rasulullah juga mengirimkan enam puluh orang pasukan dari kaum Muhajirin di bawah pimpinan Ubaidah bin Harits ke Wadi Rabigh di Hijaz. Dan dua puluh orang pasukan dari Muhajirin di bawah pimpinan Sa’ad bin Abi Waqash ke daerah Hijaz. Setelah tiga belas bulan tinggal di madinah, Rasulullah mengepalai dua ratus orang dari Muhajirin dan Anshar menuju Buwat dengan sasaran kafilah yang dipimpin oleh Ummaiyah bin Khalaf. Dua atau tiga bulan kemudian, Rasulullah memimpin dua ratus lebih orang kaum Muslimin menuju ‘Usyaira di pedalaman Yarbu’ menunggu kafilah Quraisy yang dikepalai Abu Susfyan lewat.

Sampai sa’at ini belum ada firman Allah yang secara tegas (sharih) secara harfiah memerintahkan Rasulullah menyusun kekuatan, mempersiapkan pasukan bersenjata.

13 Tak ada firman Allah yang secara harfiah memerintahkan Rasulullah untuk mengajak manusia mendukung, membela, melindungi beliau. Juga tidak untuk mengadakan bai’ah seperti ikrar Aqabah maupun Konstitusi Madinah. Dalam ikrar Aqabah disepakati untuk membela Rasulullah secara setia. Dan dalam Konstitusi Madinah disepakati menyerahkan kekuasaan kenegaraan kepada Rasulullah.

14 Ringkasnya :

# Rasulullah sudah dipersiapkan Allah sebelumnya sebagai Rasul untuk menerima, memikul, menyampaikan risalah. Juga Rasulullah dibekali Allah dengan kecerdasan, kecakapan, bakat untuk menjadi negarawan, pejuang dan penakluk.

# Cara pelaksanaannya diserahkan Allah kepada Rasulullah menurut kemampuan akal, pengetahuan, kecerdasan beliau.

# Tak semua perkataaan, perbuatgan, kegiatan Rasulullah dapat ditemukan rujukan yang tegas (sharih) dari firman Allah.

# Tak ada firman Allah yang secara tegas (syarih), yang secara harfiah memerintahkan Rasulullah untuk mengadakan perjanjian persekutuan, baik di kalangan sendiri, maupun dengan kalangan lain (non-Muslim).

#Risalah yang dibawa Rasulullah bukanlah semata-mata spritual, tetapi juga mencakup pemerintahan (negara).

# Politik dan militer tak terpisah dari Risalah.

# Pesan-pesan Qur:an, adakalanya dapat ditemui dalam potongan ayat, dalam satu ayat, dalam beberapa ayat, dalam satu surah, dan adakalanya dalam keseluruhannya.

= Bekasi 9 Desember 2000 =

asrir

1

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: