Meraih Kembali Harga Diri Yang Hilang

Meraih Kembali Harga Diri Yang Hilang

(Oleh : Dr H Jalaluddin Rachmad)

Adalah pedih menyadari bahwa kita, kaum muslimin, dewasa ini bukanlah penguasa-penguasa bumi sebagaimana seharusnya. Kita akan merasa malu apabila ummah ini, yang mengklaim sebagai ummah yang teraik, hanyalah sebuah mainan kecil yang berada di tangan para akafir dan musyrik. Untuk meredakan kepedihan ini, biasanya kita berpaling ke masa lalu yang gemilang, ketika kaum Muslimin menaklukkan separuh dunia, ketika suara muazin merupakan nada musikal terbaik dunia. Kita jarang melampuai hal itu, dan mulai berpikir tentang alasan-alasan sejati di balik kegemilangan itu. Gerangan apakah yang mengubah oenunggang-penunggang unta di gurun-gurun sunyi dan gersang menjadi tolak ukur pengetahuan dan kebijaksanaan (hikmah) ? Gerangan apakah yang mengubah suku-suku yang bertikai menjadi kesatuan kekuatan kebaikan dan kebajikan ? Gerangan apakah yang membuat penggembala-penggembala bodoh menjadi penakluk-penakluk Kekaisaran Bizantium dan Persia ?

Marilah kita lihat apa yang telah dilakukan Rasulullah untuk mewujudkan revolusi menakjubkan ini. Yang pertama-tama dilakukan Rasulullah saw ialah menanamkan di dalam hati pengikut-pengikutnya kalimah la ilaha illallah. Dia mengajarkan kepada mereka bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, bahwa selain Dia tidak patut disembah dan dipuja, bahwa semua manausia, betapapun berkuasanya mereka, hanyalah sesuatu yang kecil dan hina dihadapan Allah (Abul A’la Maududi : : “Pokok-pokok Pandangan Hidup Muslim”, 1983:50-51, TAUHID). Selanjutnya Alqur:an mengingatkan mereka bahwa manusia yang termulia adalah yang paling takwa (QS 49:13). Hal ini memberi kaum muslimin-awal harga diri, dan sepenuhnya menyirnakan rasa rendah diri mereka. Kaum Muslimin-awal percaya bahwa kemuliaan adalah milik Allah, Nabi-ya, dan para mukmin. Begitu rasa rendah diri sirna, bersemayamlah di dalam hati mereka rasa harga diri yang konstruktif. Kita semua tahu dari sejarah Islam, bagaimana Ja’far bin Abi Thalib ra berdiri dengan gagah berani di hadapan kaisar Ethiopia, dengan meyakinkan mempertahankan kebenaran Islam. Dan ketika orang bertanya, mengapa kaum Muslimin tidak bersujud di hadapan Kaisar, dengan tegas Ja’far ra berkata “Rasulullah telah melarang kami bersujud dihadapan siapapun kecuali Allah.

Kita tahu bagaimana kaum-kaum sederhana dari dusun-dusun terpencil di padang pasir memasuki istana-istana megah Romawi dan persia, menolak aturan-aturan keharusan bersujud di hadapan raja-raja manusia. Kita tahu dari sejarah, bagaimana Umar bin Khattab ra menolak pakaian-pakaian raja yang diberikan kepadanya ketika ia memasuki Yerusalem sebagai seorang penakluk nan jaya. Kita dapat menyaksikan bahwa kaum Muslimin-awal tidak terpesona oleh kemegahan duniawi dari apa yang disebut kekaisaran-kekaisaran beradab.

Jika kaum Muslimin dewasa ini ingin mengambil alih peran sebagai (pemimpin) penjuru dunia, maka mereka harus memperoleh kembali harga diri ini. Mereka harus mendapat kembali hakikat kalimah tauhid. Banyak dari kita sering tenggelam oleh apa yang kita anggap sebagai kebesaran negeri ini (Amerika), sedemikian terpesona, sehingga kita lupa bahwa kita adalah Muslim, yang lebih unggul daripada mereka dihadapan allah. Kadang-kadang kita berusaha menyembunyikan keimanan kita, seolah-olah Islam adalah sesuatu yang mengganggu.

Kadang-kadang kita merendahkan assalamu’alaikum hanya karena kita takut dikenali sebagai Muslim. Hampir tidak ada dari kita yang ingin pergi kepada kum tak beriman, yang menyerukan kebenaran Islam sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. Dan sahabat-sahabatnya.

Berkenaan dengan itu, akan kami pparkan tindak kepahlawanan ibnu Mas’ud ra sebagaimana dikisahkan dalam Adhwa’u ‘alal-Hijrah. Dia dikenal sebagai orang yang pertama membacakan AlQur:an kepada kaum kafir setelah Rasulullah saw. Setelah kaum kafir di Makkah bermufakat melarang orang mendengarkan AlQur:an, para sahabat berkumpul di suatu tempat. Mereka membahas situasi dan berkesimpulan bahwa salah seorang di antara mereka harus membacakan AlQur:an dihadapan kerumunan para kafir dengan kesudian menanggung risiko disiksa. Abdullah bin Mas’ud bersedia melakukan hal itu. Sahabat-sahabat yang lain menolaknya dengan mengatakan “Kami merasa khawatir tentang dirimu. Yang kami perlukan adalah seseorang yang didukung oleh keluarga-keluarganya yang berpengaruh sehingga mereka bisa mencegah kaum kafir itu dari menyiksanya”. Segaimana sudah anda ketahui, Abdullah bin mas’ud adalah salah seorang biasa. Namun, dia bersikeras melakukan tugas itu. Dia pergi ke pasar dan membaca AlQur:an keras-keras. Sebagaimana telah diduga sebelumnya, mereka menyiksanya. Dia kembali kepada saudara-saudaranya dengan wajah berlumuran darah. Pernyataan Abddulah itu dengan indah mencerminkan pengaruh tauhid dalam kehidupannya. Di dunia saat ini, ketika semua filsafat telah gagal membawakan kepada manusia kedamaian dan kebahagiaan, kita yang merasa tidak hanya bangga sebagai Muslim, tetapi juga bersedia menanggung risiko demi keimanan mereka.

Kita perlu mendapat kembali milik kita yang telah hilang : harga diri. Sekali Anda kehilangan hal itu, dengan mudah Anda tunduk kepada megahan kultur barat. Sekali Anda mendapatkan hal itu, dengan mudah Anda deteksi kemerosotan peradaban ini.

“kamu adalah sebaik-baik umat, yang telah dibangkitkan untuk umat manusia. Kamu serukan kebaikan, dan kamu mencegah kerusakan, dan kamu beriman kepada allah. Dan jika ahlul-kitab telah beriman, maka hal itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan dari mereka adalah pelaku-pelaku keburukan”(QS 3:110). “Dan kemuliaan hanyalah bagi Allah, Nabi-Nya dan mereka yang beriman” (QS 63:8).

Adalah menarik untuk dicatat bahwa kata al-izzah (kemuliaan) juga disebutkan dalam AlQur:an sebagai salah satu watak Muslim dalam berhubungan dengan kaum kafir, maka kita perlu sekali lagi menunjukkan kerendahan hati kita kepada saudara-saudara seiman.

“Wahai orang-orang beriman. Bila di antara kamu menolak agama ini, maka allah akan mendatangkan kaum yang dicintai Allah dan yang mencintaimereka menunjukkan kerendahan hati terhadap-Nya, bersungguh-sungguh di jalan allah, dan tidak akan takut orang-orang yang mengutuk” (QS 5:54).

Penting pula untuk dicatat bahwa al-izzah yang patut kita banggakan bukanlah didasarkan atas kebangsaan dan harta. Allah mengkaruniakan kemuliaan bukan kepada merekaa yang terkaya, bukan pula kepada mereka yang lahir dalam bangsa tertentu. “Yang termulia di antara kamu adalah yang paling takwa”. Umat terbaik ialah umat yang menyerukan kebaikan dan melarang kemungkaran sementara mereka beriman kepada allah. Anda adalah yang termulia, jika anda beriman. Kemuliaan itu hanyalah bagi allah, Nabi-Nya, dan para mukmin.

Untuk mengakhiri tulisan pertama ini, baiklah saya ingatkan Anda dan diri saya bahwa untuk memperoleh kembali kegemilangan Islam, hendaknya kita raih kembali milik kita yang hilang : harga diri Muslim. Di dalam Islam tiada jalan untuk membanggakan ras, kebangsaan, kekayaan, atau pendidikan. Di dalam Islam tiada jalan untuk memuliakan segala sesuatu di luar Islam. Mengemukakan identitas Anda sebagai Muslim, memperoleh kemuliaan dengan merendahkan diri di hadapan Allah, menunjukkan kemuliaan Islam di hadapan kafir, haruslah menjadi kebanggaan kita. Tetapi, membanggakan ras, kekayaan, dan keintelekan Anda, merupakan al-kibr (kesombongan). Kepada yang pertama dijanjikan kemenangan, kepada yang kedua kehancuran.

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah saw bersabda “Barangsiapa memiliki sedikit saja kesombongan di dalam hatinya, maka ia tidak akan masuk surga”.

(Mimbar Jum’at MUBALIGH INDONESIA, Bekasi Barat, Edisi 14 /Th.I/2002, 9 Mei 2002)

1

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: