Pemahaman Islam

Pemahaman Islam

Meskipun putera KH Wahid Hasyim, cucu Syekh Hasyim Asy’ari, namun KH Abdurrahman Wahid, pemahaman Islamnya amat sangat jauh berbeda sekali dengan ayah dan kakeknya. Kala BPKI membicarakan rancangan pertama UUD pada 13 Juli 1945, Wahid hasyim mengajukan usul agar ditetapkan bahwa yang dapat menjadi Presiden dan Wakil Presiden hanya orang Indonesia asli yang beragama Islam, dan agama negara adalah Islam dengan menjamin kemerdekaan orang-orang beragama lain untuk beribadat menurut agamanya masing-masing (Dasrizal : “KH Wahid Hasyim Pemuda Yang Berhasil Meneruskan Kebe3saran Para Leluhurnya”, ESTAFET, No.12, Th.II, Edisi Oktober 1986, hal 23-25, Yang Muda Pada Masanya). Bagi seorang demokrat KH Abdurrahaman Wahid, menetapkan syarat seorang Presiden dan Wakil Presiden harus beragama Islam, adalah diskriminatif, tidaka adil. Dan juga bagi KH Abdurrahman Wahid, ideologi Pancasisla itu yang mampu mempersatukan bangsa Indonesia ini, dan bukan Islam. Berdasarkan pemikiran ini KH Abdurrahman Wahid mendirikan PKB yang bersifat terbuka dan berasaskan Pancasila.

Dalam hubungan ini, Prof Dr Amien Rais tak beda dengan KH Abdurrahman Wahid, sama-sama menyukai ideologi Pancasila katimbang Islam. Meskipun mengusung keunggulan ciri-ciri negara Islam yang ditegakkan di atas dasar keadilan, musyawarah dan persamaan, namun Prof Dr Aamien Rais lebih menyukai ideologi Pancasila dari pada Islam. Juga tak beda dengan Prof Dr Munawir Syadzali (penulis buku “Islam dan Negara”) yang setelah menganalisa cukup padat tentang perkembangan negara Islam sejak dari masa Nabi sampai kini, namun yang menarik selera, menggelitik hatinya adalah Negara Pancasila Indonesia, bukan negara Indonesia yang mengacu pada Islam (KH Firdaus AN : “Dosa-Dosa Yang Tak Boleh Berulang Lagi”, 1992:83, Timbangan Buku “Islam dan Negara”). Meskipun membaca, mengutip Said Ramadhan, Muhammad al-Ghazali, Sayid Quthub, Muhammad al-Bahi, Musthafa as-Siba’I, hasan al-Banna, bahkan mengantarkan terjemahan karya Abul A’la al-Maududi “Khilafah Dan Kerajaan”, namun Prof Dr Amien Rais, pemahaman Islamnya berbeda dengan mereka. Betapa pun, kami – kata Abul A’la al-Maududi – akan tetap menciptkan masyarakat Islam. Kami akan tetap berusaha mewujudkan cita-cita itu. Kami tidak akan berhenti barang sejenak untuk memperjuangkan hal itu, kapan dan dimana saja, tidak peduli apakah ada persoalan yang akan kami hadapi (“Kemerosotan Ummat Islam Dan Upaya Pembangkitannya”, 1984:3). Namun Prof Dr Amien Rais mengingatkan akan pendapat Mr Mohammad Roem bahwa aspirasi hukum Islam sepenuhnya dapat ditampung dalam negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD-1945. Syukur, Prof Dr Amien Rais menutup uraiannya dengan “wallahu a’lam” (Panduan Umum Musyawarah Wilayah Muhammadiyah, Aisyiyah, Nasyiyatul Aisyiyah DKI Jakarta, Periode : 1995-2000, halaman 40-56, Hubungan Antara Politik Dan Dakwah).Berdasarkan pemikiran ini, Prof Dr Amien Rais mendirikan PAN yang juga bersifat terbuka dan berasaskan Pancasila.

Berpangkal pada kesamaan, sama-sama bersifat terbuka dan berasaskan Pancasila, seenarnya PKB, P, PDI-P, GOLKAR sangat berpeluang besar berkoalisi menjalin kerjasama dan persatuan. Namun kesamaan visi dan misi tidaklah menjamin teerwujudnya kesatuan dan persatuan. Persatuan hanya beangkat dari kesamaan kepentingan, bukan dari kesamaan visi dan misi politik. Inilah realita, faakta bahwa di dalam politik (yang bukan berlandaskan pada ajaran Islam) tidak ada musuh abadi dan kawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi (Buletin Dakwah AL-ISLAM, Edisi 047, Tahun VII, “Menghalalkan Segala Cara, Haram”).

Meskipun sama-sama pernah diasuh, dididik, dibina, digembleng oleh Haji Oemar Said Tjokroaminoto, namun Soekarno, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, pemahaman Islamnya saling berbeda. Masing-masing melahirkan madzhab sendiri-sendiri. Yang saty mengusung Negara Pancasila. Yang lain mengusung Negara Islam. Meskipun mengusung Islam, namun PII, HMI, ICMI, NU, Muhammadiyah, PERTI, PERSIS, Irsyad, pemahaman Islamnya berbeda satu sama lain, bahkan berubah sikon berubah pula pemahahaman Islamnya. Meskipun sama-sama alumni HMI, namun Dahlan Ranuwihardjo, Nurcholish Madjid, Abdul Ghafur, Ismail Hassan Meutareum, Akbar Tanjung, Anas Urbaningrum, pemahaman Islamnya berbeda satu sama lain, bahkan kini tak lagi mengusung Islam. Meskipun sama-sama pernah duduk dalam Dewan Redaksi mengarahkan PANJI MASYARAKAT, namun Rusydi Hamka, Marwan Saridjo, Afif Amarullah, Fachry Ali, Komaruddin Hidayat, Assyumardi Azra, Syafe’I Anwar, pemahaman Islamnya berbeda satu sama lain, bahkan kini hampir-hampir tak lagi mengusung Islam. Meskipun sama-sama berbicara tentang Islam, namun Soekarno, Ruslan Abdulgani, Rosihan Anwar, Taufiq AG Ismail, HB Jassin, pemahaman Islamnya berbeda satu sama lain.

Akibat kesenjangan pemahaman Islam itu, maka berlanjut dengan kesenjangan pemahaman tentang Syari’at islam, tentang Menegakkan Syari’at Islam, tentang Pemerintahan Islam, tentang Negara Islam, tentang Pembangunan Islam, tentang Pengadilan Islam, tentang Politik Islam, tentang Ekonomi Islam, tentang Masyarakat Islam, tentang Budaya Islam, tentang Pasukan Islam, dan lain-lain.

Sikap orang terhadap Islam itu berbeda-beda. Ada yang menerima Islam seluruhnya sebagai orang takwa. Ada yang menolak Islam itu seluruhnya sebagai orang kafir. Ada pula yang menerima Islam sebagiannya dan menolak Islam sebagiannya tergantung padaa sikon. Ada yang kebaikannya lebih banyak dari kesalahannya. Ada yang kesalahannya lebih banyak dari kebaikannya (Disimak dari QS 2:1-20,85, 35:32).

1

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: