Sasaran akhir dakwah Rasulullah

Sasaran akhir dakwah Rasulullah

Hasil akhir dakwah Rasulullah adalah berdirinya/tegaknya pemerintahan Islam dengan konstitusi pertamanya adalah Piagam Madinah. Kaum Muslimin di bawah pimpinan Rasulullah setelah kedudukan mereka teguh, setelah posisi mereka kuat, mereka menunaikan secara sempurna (secara murni dan konsekwen) amanah yang tercakup dalam al-Qur:an Surat al-Haj, ayat 41, yaitu : # mendirikan syalat, mengeluarkan za, memberikan kemudahan kepada rakyat untuk menyembah Allah, # berbuat baik, menyebarkan kebaikan dan kebajikan, mencegah kemunkaran, memotong akar kejahatan, menegakkan sistem hidup yang berdasarkan syari’at Islam, menggariskan pedoman hidup yang Islami.

Negara yang dituntut oleh Islam adalah negara di bawah kekuasaan nubuwah, rohaniah, batiniah, spiritual, bukan negara di bawah kekuasaan duniawiyah, jasadiyah, lahiriyah, material.

Kekuasaan nubuwah adalah kekuasaan atas rohani, kekuasaan atas jiwa, kekuasaan yang berdasarkan perhambaan manusia kepada Allah, al-Khaliq.

Kekuasaan duniwiyah adalah kekuasaan atas lahiri, kekuasaan atas jasmani, kekuasaan yang berdasarkan perhambaan manusia kepada manusia (homo homini lupus, exploitation de l’home par l’home) (Tafsir Al-Azhar, Juzuk III, 1984, hal 143).

Rasulullah tidak suka akan sistem pemerintahan kekaisaran atau kekisraan, tetapi Rasulullah menghendaki sistim pemerintahan nubuwah, sitim pemerintahan yang berdasarkan ajaran Allah yang disampaikan kepada RasulNya.

Rasulullah tidak suka akan pemerintahan politik (kekuasaan manusia), tetapi Rasulullah menghendaki sistim pemerintahan nubuah yang selain menjalankan tatanan negara serta menjaga keamanan dan membela batas-batas negeri, juga menjalankan kewajiban-kewajiban seorang mursyid, guru, pendidik. Nama khilafah adalah sesuai dengan konsep nubuah (Khilafah dan Kerajaan, 1984, hal 135).

Umar bin Khaththab pernah menangis ketika menyaksikan keadaan kehidupan Rasuluyllah yang di bawah sederhana. Umar berucap : Berdoalah agar Allah memberikan persediaan yang cukup bagi kita. Bangsa Persia dan Roma, yang tidak percaya kepada Allah menikmati kekayaan yang melimpah. Lalu mengapa Nabi Allah yang terpilih, hidup dalam kemiskinan demikian ? Rasulullah memarahi Umar : Oh, Umar. Mengapa kau iri akan kesenangan mereka ? Tidakkah kau puas bahwa bagi merekalah dunia ini, dan bagi kita dunia setelah ini ? Umar menjawab : Oh, Nabi Allah. Ma’afkan saya, saya bersalah (Islam dalam Kanca Modernisasi, 1983, hal 152, Tarjamah Riadhus Shalihin, jilid I, 1983, hal 414, hadis 30, Tarjamah Luk-luk wal-Marjan, jilid I, 1982, hal 521-526, hadis 944, 945, Tafsir Al-Azhar, juzuk IV, 1983, hal 166).

Jauh sebelum pemerintahan Islam tertwujud secara nyata, dengan penuh keyakinan, Rasulullah secara tersirat (implisit) telah memastikan bahwa pemerintahan Islam (baladan amina) tak lama lagi akan terwujud, sedangkan pemerintahan kaisar (Romawi) dan kisra (Persi) akan hancur berantakan. Rasulullah memang buta aksara, tapi sama sekali bukan buta poltik. Rasulullah mengerti betul akan watak dan kemauan poltik dari kerajaan Romawi dan kekisraan persi. Rasulullah juga menyimpan arah gerak politik.

Abu Abdullah (Khabbab) bin al’Aratti mengisahkan bahwa para sahabat mengeluh kepada Rasulullah saw pada waktu Rasulullah beraring di bawah naungan Ka’bah (sebelum hijrah ?) berbantalkan sorbannya. Para sahabat menanyakan : Tidakkah engkau mendo’akan dan memintakan bantuan serta pertolongan untuk kami ? Rasulullah menjawab : Dahulu orang yang sebelum kamu, adakalanya ditanam hidup-hidup, dan digergaji dari atas kepalanya sehingga terbelah menjadi dua, dan adakalanya pula dikupas kulitnya dengan sisir besi yang mengenai daging dan tulang, tetapi keadaan yang demikian tidak menggoyahkan iman agamanya. Demi Allah, pasti Allah akan menyempurnakan agama Islam ini, hingga merata keamanan, orang dapat berjalan dari Shan’a (Yaman) ke Hadramaut dengan tiada yang ditakutkannya kecuali kemurkaan Allah, atau serigala yang dikuatirkan menerkam kambingnya, tapi kamu keburu tergesa-gesa (tentang hal perkembangan agama ini). Demikian tarjamah HR Bukhari dari Khabbab dalam Tgarjamah Riadhus Shalihin, jilid I, 1983, hal 66, hadis 17 (simak juga QS 9:32-33, 61:8-9).

Al-Burqani meriwayatkan dari Muslim berasal dari Tsauban, bahwa Rasulullah pernah berkata : Sesungguhnya Allah membentangkan bumi untukku sehingga aku dapat melihat timur dan baratnya. Dan sesungguhnya ummatku, kerajaannya akan sampai kepada bagian bumi yang aku lihat itu. (Bersihkan Tauhid Anda Dari Noda Syirik, 1984, hal 83, juga Tafsir Ibnu Katsir, jilid II, hal 83, jilid III, hal 310).

Seorang Nasrani ‘Adi bin Hatim datang menemui Rasulullah. Rasulullah menanyakan keengganannya beragama Islam. Rasulullah mengatakan : Tidak akan lama lagi akan datang masanya Istana Putih di negeri Irak akan direbut oleh kaum Muslimin, dan juga kekayaan Kisra Persi akan pindah menjadi milik mereka. Adi segera masusk Islam. Ia sempat menyaksikan takluknya Kerajaan Persi di tangan kekuasaan Islam pada masa Khalifah Umar bin Khaththab (ALMUSLIMUN, No.207, Juni 1987, hal 21).

Ketika keluar lambaian (bunga) api yang tinggi dan menerangi pinggiran kota Madinah dari celah belahan batu besar yang terbelah oleh tembilang yang dihunjamkan Rasulullah sewaktu menggali parit pada perang Khandaq, Rasulullah mengucapkan takbir (membaca Allahu Akbar) dan bersabda : Aku telah dikurniai kunci istana negeri Persi, dan dari lambaian api tadi nampak olehku dengan nyata istana-istana kerajaan Hirah begitupun kota-kota maharaja Persi dan bahwa ummatku akan menguasai semua itu. Aku telah dikurniai kunci-kunci negeri Romawi, dan tampak nyata olehku istana-istana merahnya, dan bahwa ummatku akan menguasainya.

Rasulullah menceritakan bahwa beliau melihat istana-istana dan mahligai-mahligai di Syria maupun Shan’a, begitupun di daerah-daerah lain yang suatu ketika nanti akan berada di bawah naungan bendera Allah yang berkibar.

Ketika masih hidup, Salman melihat, mengalami, menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa seluruh kota-kota di persi dan Romawi, mahligai istana di Shan’a, di Mesir, di Syria dan di Irak seakan-akan bergoncang keras, karena seruan mempesona penuh berkah yang berkumandang dari puncak menara-menara tinggi di setiap pelosok, memancarkan sinar hidyaha dan petunjuk Allah (Karakteristik perihidup 60 shahabat Rassulullah, 1983, hal 59-69, Tarjamah Riaddhus Shalihin, jilid I, 1983, hal 436, hadis 30).

Jika telah binasa Kisra, maka tidak akan ada Kisra sesudahnya, dan jika telah mati Kaisar maka tidak akan ada Kaisar sesudahnya, demi Allah yang jiwaku di tanganNya, akan dibelanjakan kekayaan keduanya dalam kepentingan agama Allah (Tarjamah HR Bukhari, Muslim dari Jabir bin Sarmah dalam Tarjamah Lukluk wal-marjan, jilid II, 1983, hal 1122, hadis 1848, simak juga Tarjamah Riadhus Shalihin, jilid I, 1983, hal 304, hadis 17).

Nabi Sulaiman pernah menyurati ratu Saba (Ratu Bulqis) agar jangan sombong, dan agar datang tunduk menyerah (islam). Demikian disimak dari Tarjamah QS Naml 27:31.

Di antara surat-surat himbauan Rasulullah yang disampaikan kepada penguasa dan pembesar negeri sekitar Madinah, terjemahannya berbunyi demikian : “Semoga keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk. Kemudian dari pada itu, sesungguhnya saya menyerukan padamu dengan seruan Islam, Islamlah, agar engkau selamat, dan agar memberikan Allah kepadamu pahala berlipat dua. Adapun jika engkau berpaling, maka sesungguhnya bagimu dosa-dosa orang Aris (kaum tani), majusi, kuti Mesir (Fiqhud Da’wah, 1984, hal 287-295).

Ketika para sahabat berdiri menghormati kedatangan Rasulullah, maka beliau suruh semuanya duduk dan berkata : “jangan kamu berdiri menghormati kedatangan saya seperti halnya orang-orang ‘Ajam (non-Arab) berdiri menghormati pembesar-pembesar mereka”.

Pada suatu waktu Rasulullah bersabda : “jangan kamu dewakan saya seperti halnya kaum nasrani menuhankan ‘Isa anak Maryam. Saya ini hanyalah seorang hamba dan karena itu panggillah saaya : Abdullah wa Rasulullah (hamba Allah dan pesuruhNya)” (Detik-detik Terakhir Kehidupan Rasulullah, 1983, hal 74, Sejarah Hidup Muhammad, 1984, hal 228).

9 Persamaan persepsi dalam politik

Para sahabat Rasulullah saw telah mendapat pendidikan dan pelajaran secara laansung dari Rasulullah, sehingga mereka mengetahui benar arah dakwah Rasulullah saw. Mereka telah mewariskan perlunya persaman visi dan persepsi dalam memelihara dan menjaga keutuhan jama’ah ummat islam. Semuanya berpihak pada pendapat, paham yang lebih dekat pada kebenaran, meskipun pada mulanya mereka tidak sependapat, tidak sepaham. Mereka bukanlah manusia-manusia yang suka ngotot, bersikeras menegakkan benang basah, mempertahankan pendapat yang lemah.

Sesudah Rasulullah saw wafat, para sahabat Anshar berkumpul di sebuah balai Bani Sa’idah, bermusyawarah memilih, mengangkat seorang di antara mereka menjadi Khalifah dari Rasulullah saw, yaitu Sa’ad bin Ubadah. Sahabat Anshar memandang diri mereka lebih berjasa membantu dan membela agama Islam serta memperkuat perjuangan Rasulullah saw. Sebaliknya para sahabat Muhajirin memandang, bahwa hak/wewenang pemerintahan itu adalah pada suku Quraisy, sesuai keterangan yang berasal dari Rasulullah saw. Dengan menyadari perlunya persamaan persepsi dalam memelihara dan menjaga keutuhan jama’ah ummat Islam, akhirnya semua pihak sepakat memilih, mengangkat, melantik, membai’ah Abu Bakar sebagai Khalifah.

Ali bin Abi Thalib memandang dri beliau paling berhak untuk diangkat menjadi Khalifah, berdasarkan kedudukan beliau dalam Islam, apalagi sebagai kerabat karib Rasulullah, yaitu sebagai menantu Rasulullah saw. Tapi setelah isteri beliau Saidah Fatimah meninggal dunia, beliau segera membai’at Abu Bakar.

Berita wafatnyha Rasulullah tersebar dengan cepat keseluruh jazirah Arab. Hal ini membangkitkan nafsu beberapa kabilah untuk memberontak dan keluar dari Islam. Ada beberapa golongan yang masih tetap dalam Islam, tetapi mereka enggan memenuhi alah satu rukun Islam, yaitu mereka tidak mau mengeluarkan zakat. Para apembangkang zakat berkumpul dan mengadakan gerombolan yang siap di dekat kota madinah. Mereka mengirimkan pernyataan pembangkangan zakat kepada khalifah di Madinah. Untuk mengatasi hal ini, Khalifah Abu Bakar mengumpulkan sahabat bermusyawarah untuk memerangi kaum pembangkang zakat. Di antara sahabat ada yang sependapat dengan Khalifah, bahwa para ingkar zakat patut dan harus diperangi, karena dengan enggan membayar zakat berarti sama dengan mencoba merobohkan Islam. Umar bin Khaththab dan sebagian sahabat tidak sepaham dengan khalifah, mereka berpendapat bahwa orang yang enggan membayar zakat itu dibiarkan saja untuk sementara, sebab mereka masih tetap beriman kepada Allah dan RasulNya.

Khalifah Abu Bakar tidak membiarkan perbedaan pendapat, perbedaan paham ini berlarut-larut. Khalifah dengan tegas mengajukan hujjah yang lebih kuat, bahwa setiap orang yang membedakan antara shalat dan zakat wajib diperangi. Secara ikhlas sahabat yang pada mulanya tak sependapat dengan Khalifah mengakui kebenaran pendapat Khalifah Abu Bakar, mereka tidak ngotot bersikeras menegakkan benang basah, mempertahankan pendapat sendiri yang lemah dasarnya.

Dalam hal-hal yang dapat mengganggu keutuhan jama’ah ummat Islam maka setiap perbedaan paham, perbedaan pendapat tidak dibiarkan berlarut-larut berkembang meluas (dari berbagai kepustakaan literatur islam).

10 Ideologi memerlukan kekuasaan politik

Setiap ideologi, pandangan politik, baik rahbani (Yudaisme, Kristenisme, Hinduisme, Budhisme, Konfusianisme, Taoisme, dan lain-lain), jahili (Liberalisme, Sekularisme, Sosialisme, Nasionalisme, Komunisme, dan lain-lain) maupun Islami (Suni, Syi’i) sama-sama memerlukan kekuasaan politik untuk menegakkan kekuasaan hukum yang sesuai dengan pandangan politiknya.

Setiap lapisan berlomba berjuang agar semua orang mengikuti pandangan politiknya. Menuntut kekuasaan politik adalah merupakan hal yang wajar, lumrah, alami, naluri, fitri, sesuai dengan sunnatullah.

Untuk dapat berhasil mendapatkan kekuasaan politik diperlukan sikap mental yang konsekwen, konsisten memegang prinsip, teori dan metoda. Untuk mendapatkan kekuasaan politik diperlukan kerja dan kemauan keras.

Yang merasa yakin akan keunggulan pandangan politiknya akan dapat membawa manusia ke dalam kebahagiaan, yang berupaya mengajak manusia untuk mengikuti pandangan politiknya, haruslah bekerja keras berjuang sekuat tenaga mengikis tradisi poliktik lama.

Tidaklah mungkin dapat menegakkan pandangan politik secara nyata (riil) tanpa kemauan dan kemampuan untuk berupaya memperjuangkannya. Hanya yang berhasil mendapatkan kekuasaan politik yang akan dapat menegakkan kekuasaan hukum sesuai dengan kemauan dan pandangan politiknya.

Sepeninggal Nabi Isa, tumbuh berbagai ajaran yang sama-sama mengaku seagai pengikut Nabi |Isa. Hanya ajaran yang sempat memegang kekuasaan politiklah yang berhasil menyingkirkan ajaran lainnya. Demikian pula di Indonesia. Setelah perang kemerdekaan usai, semua golongan sama-sama mengaku seagai pendukung Pancasila. Hanya golongan yang sempat memegang kekuasaan politiklah )the rulling class) yang berhasil menyingkirkan golongan lain, sehingga terwujudlah Asas Tunggal ( yang tanggal oleh reformasi). Pandangan politik tidaklah dapat ditegakkan tanpa kekuasaan politik.

Syari’at Islam menuntut agar berupaya memperjuangkan tegaknya kekuasaan politik yang Islami dengan memberlakukan hukum Allah, Tuhan YME sebagai hukum positif. Islam tidak rela pandangan politik yang bukan Islam memegang kekuasaan politik.

Termasuk tugas risalah kenabian adalah berupaya memperjuangkan tegaknya pemerintahan yang Islami, yang memberlakukan hukum Allah sebagai hukum positif. Para Nabi dan Rasul berupaya berjuang mengikis tradisi politik yang bukan Islami dan menegakkan kekuasaan politik yang Islami dengan memberlakukan hukum Allah sebagai hukum positif.

Hukum Allah bukanlah unbtuk sekedar diseminarkan, tetapi untuk ditegakkan, diberlakukan. Adalah suatu perbuatan sia-sia (mubazir) bila hanya membahas masalah-masalah waris, hudud, jinayat, jihad tanpa dilandasi kemauan, keinginan, kehendak, cita-cita untuk berupaya berjuang mendapatkan kekuasaan politik.

Untuk menegaakkan hukum Allah, seperti hukum waris, hudud, jinayat, jihad, dan lain-lain diperlukan kekuasaan politik. Tanapa akekuasaan politik tidaklah dapat ditegakkan hukum Allah. Kekuasaan politik adalah sarana dan wahana untuk mengakkan hukum Allah (simak QS Haj 22:41).

Sistim kekuasaan politik yang bukan Islami memusuhi da’i. Muballigh yang mengajak untuk memberlakukan hukum Allah sebagai hukum postif (simak QS Fushshilat 41:33). Yang merasa keberatan tunduk pada hukum Allah sebagai hukum positif, perlu ditundukkan dengan kekuasaan politik, demikian ‘Utsman bin ‘Affan (dari berbagai kepustakaan literatur islam).

11 Jalan Menuju Merdeka

Kemerdekaan sejati (hakiki) adalah bebas-mrdeka, berdaulat, berlakunya hukum, ajaran Allah. Setiap orang bebas-merdeka melaksanakan ibadahnya menurut agamanya masing-masing. Yang Yahudi bebas-merdeka menjalankan hukum, ajaran Taurat. Yang Nasrani bebas-merdeka menjalankan hukum, ajaran Injil. Yang Muslim bebas-merdeka menjalankan hukum, ajaran Qur:an (QS Ma:idah 5:66). Di mana-mana, di biara-biara, di gereja-gereja, di masjid-masjid bebas-merdeka menyebut nama Allah, mensucikanNya, memujiNya, mengagungkanNya (QS Haj 22:40).

Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945 Ir Soekarno mengajak pemuka Islam bekerja sehebat-hebatnya agar supaya sebagian terbesar kursi DPR diduduki oleh utusan-utusan Islam, sehingga hukum-hukum yang dihasilkan DPR itu adalah hukum Islam. Namun sayang, dalam praktek perjuangannya, Ir Soekarno sebenarnya sama sekali tak tertarik memperjuangkan bebas-merdekanya hukum, ajaran Allah.

Selain melalui jalur politik-parlementer-konstitusional (DPR/MPR), Dr Yusuf Qardhawi mengemukakan beberapa jalan lagi yang pernah diperbincangkan sebagai strategi dakwah, jihad bagi bebas-merdekanya hukum, ajaran Allah. Pertama, jihad dengan dekrit pemerintah, pengemuman pemerintah. Kedua, jihad dengan kekuatan militer, dengan kekuatan senjata. Ketiga, dengan pendidikan dan bimbingan (tarbiyah dan taklim). Keempat, jihad dengan pengabdian masyarakat (aksi sosial, tabligh). Di samping itu ada pula jihad dengan harta (amwal).

Bagaimana pun, realisasinya sama sekali tergantung semata-mata dari anugerah karunia Allah, seperti tampilnya Umar bin Abdul Aziz yang sangat jauh berbeda dengan keluarganya dalam kalangan Bani Umawiyah.

Berbeda dengan Soekarno, Kartosuwirjo lebih maju, sangat kommit dengan Islam, dan memilih perjuangan bersenjata, agar tak ada lagi fitnah, gangguan bagi kebebasan berlakunya hukum, ajaran Allah (QS Baqarah 2:193, Anfal 8:39), sehingga kalimat Allah itu benar-benar berdaulat (hiya al’ulya). Hasan al-Banna dengan Ikhwanul Musliminnya di Mesir, Maududi dengan Jami’ah Islamiyahnya di Pakistan lebih memusatkan perjuangannya melalui jalur politik, jalur parlemen.

Namun bagaimana pun, kemerdekaan itu bukanlah diperoleh dari hadiah pemberian penguasa mana pun, tapi harus direbut diperjuangkan (biljihad) dengan mengorbankan harta (amwal) dan nyawa (anfus). Bila benar-benar ingin merdeka, maka Moro, Patani, Kashmir, Chechnya, Palestina, Kurdistan, Sinkiang juga Aceh Darussalam, maka harus senantiasa siap mengorbankan harta kekayaan dan jiwa raga untuk kemerdekaan itu, bukan dengan mengemis-ngemis minta kasihani. “Mohonkanlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah, dipusakakanNya kepada siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya” (QS A’raf 7:128) (Bks 13-12-2000).

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: