Semua ciptaan Allah

Semua ciptaan Allah

“Dan Yang Menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi” (QS 43:12).

“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan idzin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS 64:11).

“Katakanlah : “Semuanya datang dari sisi Allah” (QS 4:78).

Perbuatan-perbuatan yang dilakukan manusia, – baik yang terpuji ataupun yang tercela – pada hakekatnya bukanlah hasil pekerjaannya sendiri, melainkan hanyalah termasuk ciptaan Tuhan, yang dilaksanakannya melalui tangan manusia. Manusia itu pada hakekatnya tidaklah mempunyai perbuatan dan tidak pula mempunyai kodrat untuk berbuat. Manusia laksana sehelai bulu yang terkatung-katung di udara, bergerak kesana-kesini menurut hembusan angin.

Manusia tidak mempunyai kodrat untuk berbuat sesuatu, dan ia tidak mempunyai kesanggupan. ‘Dia hanya terpaksa dalam semua perbuatannya”. Dia tidak mempunyai kodat dan ikhtiar. Pada hakekatnya Tuhanlah yang menciptakan perbuatan-perbuatan pada diri manusia. Tetapi secara majazi (relatif) memang perbuatan-perbuatan itu dinisbahkan kepada manusia yang melakukannya (Prof Dr A Syalabi : “Sejarah dan Kebudayaan Islam”, terjemahan Prof Dr H Mukhtar Yahya dkk, Pustaka al-Husna, cetakan I, 1983, jilid 2, hal 379).

Al-Qadhi Ibnul ‘Arabi mengatakan bahwa (pada hakikatnya) segala prbuatan baik dan buruk, iman dan kufur, tha’at dan ma’shiat, penciptaannya semua ialah Allah yang tidak ada sekutu baginya dalam mencipta. Dan tidak pula dalam menciptakan apa juapun. Tetapi yang buruk tidaklah boleh disangkutkan kepadaNya dalam sebutan (ucapan).

Meskipun itu ada (hakikatnya). Semuanya itu ialah untuk mendidik kita beradab bersopan santun, mengajar kita memuji Dia.

Nabi Muhammad saw sendiri dalam salah satu bacaan dzikirnya ada menyebut : “wal khair fi yadika was syar laisa ilaika”. Nabi Ibrahim menyatakan bahwa : “wa idza maridhtu fa hua yasyfin” (QS 26:80). Anak muda pengiring Nabi Musa seketika nabi Musa disuruh Allah menjelang guru (Nabi Khidir) ketika itu ikan kelupaan di tengah jalan, ia berkata : “w ma ansaaniihu illasy syaithanu an adzkurahu” (QS 18:^3 (Prof Dr Hamka : “Tafsir Al-Azhar”, Pustaka Islam, Surabaya, 1983, cetakan ketiga, juzuk XXIII, hal 271-272).

Syaikh Abdul Qadir Jainali mengingatkan agar “jangan mengikuti paham golongan Jabariyah atau Qadariyah. Lebih baik mengatakan bahwa perbuatan itu adalah kepunyaan allah, sedangkan manusia adalah berusaha” (“Menyingkap Rahasia Kegaiban Hati”, terjemahan Asep Kamal, terbitan Husaini, Bandung, 1985, hal 18, Ajaran Kesepuluh).

1

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: