Serbaneka masalah dakwah

1 Menyoal konsistensi dakwah

Pada perdebatan Konstutante (1956-1959) ada dua pihak.

Pertama, pihak Islam yang menuntut kembalinya tujuh

kata tentang kewajiban melaksanakan syari’at Islam

bagi pemeluknya ke dalam Pembukaan UUD-45 seperti

asalnya dalam Piagam Jakarta. Kedua, pihak nasionalis

sekuler netral agama yang menantang dan menolaknya.

Pemungutan suara dilakukan tiga kali. Hasilnya, tidak

ada pihak yang mencapai dua pertiga suara (SABILI

6-VIII:33).

Untuk Sidang Tahunan MPR-2000, Badan Pekerja MPR

mempersiapkan empat alternatif (opsi) bagi amandemen

ayat 1 pasal 29. Pertama, Negara berdasarkan Ketuhanan

Yang Maha Esa. Kedua, Negara berdasarkan Ketuhanan

Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syari’at

Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Ketiga, Negara

berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban

melaksanakan ajaran agama bagi masing-masing

pemeluknya. Keempat berdasarkan Pancasila (idem

6-VIII-20).

Mutammimul ‘Ula, anggota Fraksi Reformasi dari Partai

Keadilan menambahkan lagi khilafiyah (opsi) kelima,

Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dengan

kewajiban menjalankan Islam (tanpa syari’at) bagi

pemeluknya. Alasan ijtihadnya, bahwa syari’at

berkaitan dengan fiqih (maunya tak berkaitan dengan

fiqih). Juga dalam al-Qur:an tak ada kata syari’at,

yang ada kata syar’iah (apa sih beda substansinya

antara akhiran t dan h ?). Dan yang diperintahkan

adalah aqimuddin, bukan menegakkan syari’at Islam

(idem 6-VIII:26).

Menurut Dr Daud Rasyid Sitorus MA (Anggota Dewan

Syar’iah Partai Keadilan ?) bahwa kendati Partai

Keadilan berada dalam satu Fraksi dengan PAN,

seharusnya Partai Keadilan mengomandoi perjuangan

amandemen pasal 29 UUD-45 ini agar sesuai dengan

Piagama Jakarta (idem 6-VIII:25).

Bahkan orang-orang muda semacam Mutammimul ‘Ula, Daud

Rasyid Sitorus, Yusril Ihza Mahendra, Eggi Sujana

(idem 6-VIII:9), dll, sebaiknya berada dalam satu saf,

satu barisan, satu front perjuangan bagi tegaknya

hukum Allah sebagai hukum positif.

Untuk mencapai suara terbanyak (walaupun tidak sampai

dua pertiga), maka pemunguan suara bagi ke-empat opsi

(alternatif) yang disiapkan Badan Pekerja MPR tersebut

sebaiknya dilakukan sampai tiga kali.

Namun harapan tersebut tak pernah tercapai. Menurut

Prof Dr Deliar Noer, ini disebabkan oleh karena

kondisi riil kalangan Islam tidak konsisten dalam

pendiriannya (idem 6-VIII:33). Dan juga, menurut DR

Daud Rasyid Sitorus MA, karena umat Islam sering tidak

mempunyai rencana yang matang untuk menghadapi masa

depannya (idem 6-VIII:24). Disamping tak istiqamah

(konsisten dan konsekwen), tak punya planning, pun tak

ada keseriusan. Bahkan SABILI sendiri tak menunjukkan

keseriusan dan kegigihan.

Beberapa waktu yang lalu, SABILI memang pernah

menggugat berhala Pancasila (idem 26-VIII). Namun

SABILI (bahkan sampai Sidang Tahunan MPR-2000) tak

pernah secara gigih, serius, berkesinmbungan

menjelaskan kelemahan dan kekuatan UUD-45 dengan

Pancasilanya (baik mengenai HAM, Hak Prerogatif

Presiden, Alat Perlengkapan Negara, Alat Pertahanan

Negara, Alat Keamanan Negara, Kewajiban Kepala Negara,

Penyidangan Pejabat Negara, dan lain-lain).

Juga SABILI tak pernah secara serius berkesinambungan

menyajikan uraian/kajian yang meyakinkan akan

keunggulan keadilan syari’at Islam secara aktual, baik

teoritik, maupun empirik, yang sekaligus mencakup

uraian/kajian mengenai penanganan ekonomi, moral,

hukum secara serempak menyeluruh.

Mskipun menyatakan bahwa tiras SABILI yang lebih dari

100 ribu eksemplar saat ini tak akan membuat cepat

berpuas diri (idem 25-VII:2), namun tak dapat

dipungkiri terbersit kebanggaan bahwa tiras SABILI

sudah menembus angka 100 ribu (idem 19-VII:2).

= Bekasi 6 September 2000 =

2 Menyoal efektivitas dakwah

Dikemukakan bahwa dalam mengamati perkembangan

(dakwah) Islam, haruslah mengukur seberapa jauh

nilai-nilai al-Islam bertambah meningkat

pelaksanaannya dalam suatu masyarakat. Dari soal

membaca bismillah, shalat, mencari nafkah, jual beli,

perjuangan dan seterusnya. Pendeknya ajaran Islam yang

terdiri dari seluruh Qur:an plus sekian Sunnah yang

shahih itu merupakan tolok ukur kemajuan atau

kemunduran Islam. Ini bisa diukur secara kualitatif,

jumlah orang yang melaksanakannya dan juga jumlah

orang yang melanggarnya. Dan secara kuantitatif,

jumlah sarana-sarana phisik dari pelaksanaan dari

ajaran Islam itu. (Abu Afzalurrahman, dalam

ALMUSLIMUN, No.198, September 1986, hal 76).

Fakta yang tampak di permukaan mengesankan terasanya

syi’ar agama. Tarawih tidak hanya diselengarakan di

masjid-masjid atau mushalla, tapi bahkan di hotel yang

top. Budaya puasa tidak hanya terasa di kalangan

“bawah”, retoran-restoran ternama memasang pengumuman

jam buka puasa. Hotel mewah memasang iklan “makan

sesudah buka puasa”. Dan suasana ibadat malam maupun

siang terasa sangat kurang dikotori uap kemaksiatan

maupun suara-suara yang protes. Meski orang boleh

mengingat kelesuan ekonomi, tempat-tempat seperti

mandi uap, misalnya memang tak lagi populer. Judi

sudah sejak beberapa tahun yang lalu dilarang. Dan

masjid-masjid penuh, mushalla-mushalla penuh.

Membanjirnya para para remaja yang barangkali

merupakan 80% jemaah, ke tempat-tempat ibadah sejalan

saja dengan pertambahan masjid, maupun mushalla.

(Syu’bah Asa, tentang Optimisme Perkembangan Islam,

dalam TEMPO, yang dikutip Abu Afzaluurrahman, dalam

ALMUSLIMUN, idem hal 65).

Evaluasi (analisa kritis) terhadap fakta optimistis

tersebut perlu dilakukan. Media elektronika. Berapa

jumlah pemirsa televisi yang setia mengikuti mimbar

Islam, kuliah Ramadhan, kuliah subuh (Mutiara Subuh,

Hikmah Pagi, Hikmah Fajar, Di ambang Fajar) ? Berapa

jumlah pemirsa Muslim yang telah berhasil dibina,

di”Islam”kan melalui Dakwah Televisi ? Berapa jumlah

pemirsa Non-Muslim yang telah di-Islamkan melalui

Dakwah Televisi ? Berapa jumlah kenaikan pemirsa

Muslim melalui Dakwah Televisi ? Seberapa jauh dampak

dakwah terhadap pola dan tayangan televisi. Berapa

jumlah infak da’I televisi bagi perkembangan dakwah

dan peningkatan hidup rakyat melarat ?

Media cetak. Berapa jumlah pembaca yang setia menekuni

buku-buku tentang Islam ? Berapa jumlah pembaca Muslim

yang berhasil dibina, di”Islam”kan melalui buku-buku

Islam ? Berapa jumlah pembaca Non-Muslim yang telah

di-Islamkan melalui buku-buku Islam ? Berapa jumlah

kenaikan pembaca Muslim melalui buku-buku Islam ?

Seberapa jauh dampak dakwah melalui buku-buku Islam

terhadap pola pikir dan tingkah laku. Berapa jumlah

infak penerbit buku-buku Islam bagi perkembangan

dakwah dan peningkatan hidup rakyat melarat ?

Dakwah tatap muka. Berapa jumlah peserta taklim ?

Berapa jumlah peserta taklim yang telah berhasil

dibina, di”Islam”kan melalui taklim ? Berapa jummlah

kenaikan peserta taklim setiap tahun ? Berapa jumlah

kenaikan jama’ah shalat shubuh tiap tahun ? Berapa

jumlah kenaikan jama’ah shalat Jum’at tiap tahun ?

Berapa jumlah kenaikan hidup rakyat melarat ?

Nahi Munkar. Berapa jumlah pengurangan, penyusutan

tindak kejahatan tiap tahun (perkosaan, pelacuran,

aborsi, kumpul kebo, penodongan, pembantaian,

penculikan, perampokan, penyiksaan, perjudian,

pengedaran miras dan narkoba, tayangan erotis, rente,

riba, bunga uang, sogok, suap, korupsi, penyalahgunaan

wewenang, dan lain-lain).

Salah satu acuan, rujukan dakwah antara lain termaktub

pada QS Ali Imran 3:104 agar menyeru kepada yang

alkhair (kebajikan), menyuruh kepada yang almakruf dan

mencegah dari yang almunkar.

Kini adalah jaman spesialisasi. Dibidang dakwah pun

dituntut adanya spesialisasi. Di bidang politik

dibutuhkan da’I spesialis untuk menjelaskan alkhair,

amakruf, almunkar dalam politik.

Di bidang ekonomi dibutuhkan da’I spesialis untuk

menjelaskan alkhair, almakruf, almunkar dalam bisnis,

ekonomi, industrialisasi, mekanisasi, otomatisasi,

kerja lembur. Menjelaskan dengan bahasa bisnis-ekonomi

seruan QS Qashash 28:77 agar melaksanakan usaha yang

berorientasi sosial (untuk kepentingan bersama) yang

bernilai ukhrawi, dan disamping itu melaksanakan upaya

yang berorrientasi profit (untuk kepentingan sendiri)

yang bernilai duniawi. Menjelaskan makna QS Ma’arij

70:19 dan Fajr 89:27 tentang watak nafsu serakah

terkendali.

Di bidang informasi-komunikasi dibutuhkan da’I

spesialis untuk menjelaskan alkhair, almakruf,

almunkar terhadap media cetak dan eletronik.

Menjadikan media cetak dan eletronik sebagai objek,

sasaran dakwah.

Di bidang seni-budaya dibutuhkaan da’I spesialis untuk

menjelaskan alkhair, almakruf, almunkar dalam busana,

vokalia, drama, komedi, teater, sinema. Menjelaskan

dengan bahasa seni-budaya makna QS Dzariyat 51:56

tentang wujud kehadiran jin dan manusia sebagai abdi,

pemeran, pembawa peran. Makna QS Muhammad 47:36

tentang kehiudupan dunia sebagai panggung sandiwara

(lahwun).

Di semua bidang dibutuhkan da’I spesialis yang mampu

menyatakan bahwa “aku tak minta imbalan apa pun dari

usahaku ini” (QS Syu’ara 26:109)

= Bekasi 24 Agustus 200

3 Menyoal aktivitas da:I

Seorang aktivis dakwah haruslah memiliki sumber

penghasilan, mata penghidupan. Seorang aktivitis

dakwah seyogianya hidupnya tidak tergantung kepada

pemberian orang lain. Mengharap-harap menanti-nati

pengasih, pemberian orang lain berarti menghinakan

diri sendiri. Demikian Dr,Mustafa as-Siba:I dalam

“Sari Sejarah dan Perjuangan Rasulullah saw” hal

39-40.

Anjuran makan dari hasil usaha sendiri dan tidak

mengharap-harapkan pemberian orang, dan boleh menerima

sedekah yang tanpa meminta-minta dan tidak

mengharapkan, adalah dua judul/pasal dalam tarjamah

Riadhus Shalihin.

Seorang aktivis dakwah akan dilecehkan dan diremehkan

orang, manakala ia menjadikan dakwah sebagai

lahan/profesi, sumber rezekinya, yaitu dengan

mengharapkan sedekah, pemberian orang. Demikian Dr

Muhammad Said Ramadhan al-Buthy, daalam “Sirah

Nabawiyah”, hal 57.

Para aktivis dakwah tidaklah akan mengharapkan imbalan

apa pun dari siapa pun, baik

upah-balasan-ganjaran-tegenprestasi berupa uang,

harta-benda, kekayaan, nama, prestise, kemasyhuran,

ketenaran, kedudukan, pangkat, jabatan, dan lain-lain.

Imbalan yang mereka harapkan hanyalah dari Allah

belaka (Simak QS 10:72, 11:29,51, 26:109, 6:90,

12:10425:37, 34:47, 38:86, 42:23, 36:21).

= Bekasi =

4 Menyoal syukuran

Pengertian syukur dapat disimak, diamati dari berbagai

segi. Perwujudan syukur pun dapat diungkapkan dengan

berbagai bentuk. Salah satu bentuk perwujudan syukur

adalah menggunakan, memanfa:atkan pemberian kurnia

Allah yang diterima menurut cara-cara yang diridhai

Allah pada tempatnya yang semestinya. Syukur artinya

menempatkan pemberian (nikmat, karunia) itu sesui

dengan kehendak yang memberi.

Tidak menafkahkan harta yang telah Allah anugerahkan

(berlaku kikir terhadap harta) untuk kepentingan diri

sendiri, keluarga, teman adalah termasuk tidak

bersyukur (kufur nikmat), Manfa:at harta itu terletak

dalam penafkahannya dan bukan pada penumpukannya.

Menumpuk kekayaan berarti tidak bersyukur

(Afzalurrahman, “Muhammad Sebagai Seorang Pedagang”,

1997:204, Standar kehidupan.

Karunia allah berupa harta kekayaan dimanfa:atkan

untuk menafkahi diri sendiri, anak keluarga,

menyantuni fakir miskin, membantu penyelenggaraan

kepentingan umum, membantu perjuangan menegakkan agama

Allah. Dengan kurnia Allah berupa harta kekayaan, maka

anak-anak dapat diasuh dididik untuk memiliki ilmu

pengetahuan, kecakapan, ketrampilan untuk mandiri.

Kurnia Allah yang berupa pengetahuan, kecakapan,

ketrampilan dimanfa:atkan untuk mendapatkan rezki,

untuk meningkatkan pendapatan, penghasilan, untuk

meningkatkan kemashlahatan umat, untuk meningkatkan

kesejahteraan umat.

Berusaha mencari rezki adalah bentuk ungkapan syukur,

bukan untuk menumpuk kekayaan. Bilamana kita

mensyukuri pemberian kurnia Allah, bilamana kita

berusaha mencari rezki dalam rangka perwujudan syukur

kepada Allah, maka Allah akan menambah, melipatkan,

menggandakan pemberian, kurniaNya.

Yang memperoleh kecakapan, ketrampilan berdagang,

berusahalah mencari rezki di bidang perdagangan. Yang

memiliki kecakapan, ketrampilan di bidang pendidikan,

berusahalan mencari rezki di bidang pendidikan. Yang

memiliki kecakapan mendidik, tetapi tidak mencari

lapangan kerja/usaha di bidang pendidikan, malah

berusaha di bidang perdagangan, sebetulnya tidak

mensyukuri kurnia Allah yang diterima. Yang memiliki

kecakapan di bidang hukum, tetapi mencari lapangan

usaha di bidang pendidikan, atau perdagangan,

sebetulnya tidak mensyukuri kurnia Allah yang

diterima. Yang memiliki kecakapan di bidang teknik,

malah mencari rezki di bidang ekonomi, sebetulnya

tidak mensyukuri kurnia Allah yang diterima. Yang

memiliki kecakapan di bidang pemerintahan, tetapi

mencari lapangan usaha di bidang wiraswasta,

sebetulnya tidak mensyukuri kurnia Allah yang

diterima. Yang memiliki kecakapan di bidang

pengobatan, tetapi mencari lapangan usaha di bidang

pemerintahan, sebetulnya tidak mensyukuri kurnia Allah

yang diterima.

Manfa:atkanlah, gunakanlah pengetahuan, kecakapan,

ketrampilan yang dikurniakan allah

semaksimalmaksimalnya pada tempat yang semestinya.

Berusahalah mencari rezki, kurnia Allah menurut

pengetahuan, ketrampilan, kecakapan yang dimiliki.

Pandai bersyukur, pandai memanfa:atkan kurnia Allah

pada tempatnya akan memperoleh, meraih kurnia

tambahan, kurnia lipat, kurnia ganda, ghairu mamnuun,

haitsu la-yahtasib.

= Bekasi =

5 Menyoal taqwa

Apakah taqwa itu ? Seluruh Rasul menyeru manusia agar

bertaqwa. Nabi Nuh, Hud, Shalih, Luth, Syu’aib, Ilyas,

semuanya menyeru manusia agar bertaqwa. Dalam surah

Syu’ara (ayat 105-191), mereka itu menyeru manusia itu

agar bertaqwa dan ta’at kepada Allah, takut akan

ditimpa siksa Allah, dan bahwa mereka sama sekali

tidaklah minta imbalan apa-apa.

Dalam surah A’raf (ayat 59-102), Hud (ayat 25-95),

Rasul-rasul itu menyeru manusia agar hanya menyembah

Allah saja, “Tak ada Tuhan selain Allah”, memohon

ampun dan bertobat kepada Allah, tidak merusak

norma-norma, tata sosial ekonomi, menyempurnakan

takaran dan timbangan, tidak merusak meteran dan

literan, tidak menjarah hak orang-orang, tidak

merugikan orang-orang, tidak berbuat fahsya dan

munkar, tidak membuat kejahatan dan kerusakan,

menantang tirani (jabbaarin ‘aniid), tidak membiarkan

kesewenang-wenangan, takut akan siksa Allah, dan bahwa

mereka tidaklah minta imbalan apa-apa.

Inti seruan bertaqwa itu adalah menyeru manusia agar

hanya menyembah kepada Allah saja, ‘Tak ada Tuhan

selain Allah”, tidak melakukan perbuatan fahsya dan

munkar, takut akan siksa Allah (QS 2:21, 4:1, 4;131,

22:1, 31:33).

Dalam surah An’am (ayat 151-153), Isra (ayat 21-39),

Luqman (ayat 12-19), Furqan (ayat 63-77), seruan

bertaqwa itu meliputi seruan agar tidak

mempersekutukan Allah, melaksanakan perintah Allah,

berbuat buat baik kepada ibu bapa, memberikan hak

kerabat dan yang melarat, menggunakan harta secara

pantas, tidak boros dan tidak kikir, tidak mendekati

perbuatan fahsya, tidak membunuh orang-orang, tidak

menjarah hak orang-orang, menyempurnakan meteran dan

literan, tidak sombong angkuh congkak, menyuruh

berbuat makruf, mencegah berbuat munkar, berlaku adil,

tidak sewenang-wenang, tidak bersaksi palsu

Ibnu Hajar Asqalani merinci semuanya itu ke dalam enam

puluh delapan cabang iman. Imam Bukhari meriwayatkan

hadis bahwa iman itu enam puluh sembilan cabang

(rangka). Secara ringkas, seruan bertaqwa itu mencakup

seruan kepada iman, islam, ihsan. Iman dengan enam

rukunnya. Islam dengan lima rukunnya. Ihsan adalah

beribadat, seolah melihat Allah. Segala amal perbuatan

akan bernilai ibadat, bilamana dilakukan dalam kondisi

batin yang merasa diawasi Allah.

Dalam surah Nahli (ayat 90-91) ringkasan bertaqwa itu

mencakup seruan agar berlaku adil, beramal shalih,

berbuat ihsan, memberi hak kerabat, tidak berbuat

fahsya, munkar dan bughat, serta melaksanakan perintah

Allah.

Taqwa itu harus ditingkatkan. Seruan meningkatkan

taqwa itu adalah seruan meningkatkan komitmen (kemauan

dan kemampuan) untuk melaksanakan yang diperintahkan

Allah dan meninggalakan yang dilarang Allah.

Seruan bertaqwa “ittaqillah” adalah seruan mencegah,

memberantas fahsya, munkar dan bughat, seruan berbuat

amal shalih, adil, ihsan. Seruan bertaqwa “ittaqillah”

berangkat dari pribadi yang mampu menyatakan bahwa

“Aku tidaklah minta imbalan apa-apa dari kalian.

Imbalanku hanya ada pada sisi Allah”. Dengan sikap

pribadi yang demikianlah

risalah dan dakwah bisa berhasil dengan izin Allah.

Tanpa sikap pribadi yang demikian

mustahillah risalah dan dakwah akan berhasil

6 Umat Islam Indonesia ini hendak kemana ?

Apa yang diperjuangkan pemimpin-pemimpin umat Islam

Indonesia ini ? Untuk mencari jawaban pertanyaan ini,

barangkali dapat ditelusuri dari perjuangan beberapa

pemimpin yang dapat dikwalifikasikan/dipandang

mewakili pemimpin-pemimpin umat Islam Indonesia.

Antara lain Pangeran Diponegoro di Jawa yang

memperjuangkan terbentuknya negara berdaulat (merdeka)

di bawah pimpinan seorang Amirul Mukminin. Kedua,

Tuanku Imam Bonjol dengan kaum Paderinya di Sumatera

yang memperjuangkan lenyapnya adat (ideologi lokal)

dan menggantinya dengan aturan-aturan agama (Islam).

(Anwar Sanusi : “Sejarah Indonesia” III, 1951:50,62).

Ketiga, pemimpin ummat Islam Indonesia dalam sidang

BPUUPKI (seperti Ki Bagoes Hadikoesoemo, dr Soekiman

wirjosanjojo, Abikusno Tjokrosujoso, Abdul Kahar

Muzakir, Agus Salim, Wahid Hasyim) memperjuangkan

Islam sebagai dasar negara (Agama negara adalah Islam

dengan menjamin kemerdekaan orang-orang beragama lain

untuk beribadat menurut agamanya masing-masing.

Presiden ialah orang Indonnesia asli dan beragama

Islam) (ESTAFET 12, 10-1986:24-25, Prof.JHA Logemann :

“Keterangan-Keterangan Tentang Terjadinya UUD-1945”,

hlm 21). Keempat, pemimpin-pemimpin umat Islam

Indonesia dalam sidang Konstituante hasil pemilu 1955

yang memperjuangkan agar redaksional Pembukaan UUD-45

dikembalikan seperti konsensus semula yaitu seperti

dalam Piagam Jakarta. Perjuangan tersebut tak

berhasil. Kenapa ? Karena Islam itu belum mengakar.

Belum ada badan, tubuh, kaki, tangan, bagian, anggota

yang mendukung, yang menyangga. Belum dapat hidup,

meskipun sudah ada kepala. “Kita, berkata, 90% dari

pada kita beragama Islam, tetapi lihatlah dalam sidang

BPUUPKI, berapa persen yang memberikan suaranya kepada

Islam ? Hal ini adalah salah satu bukti, bahwa Islam

belum mengakar, belum hidup-sehidupnya di dalam

kalangan rakyat (Indonesia)” ungkap Ir Soekarno dalam

Pidato Lahirnya Pancasila (1947:31).

Manusia dalam hidupnya bisa bertukar warna (haluan)

dari bergerak maju (revolusioner) ke bergerak mundur

(konservatif-reaksioner), dan sebaliknya. Presiden

Soekarno tak luput dari ini. Beliau tergoda dengan

pujian, sanjungan, gelar kehormatan, nikmat kekuasaan.

Tak ada pemerintah yang dengan sukarela membatasi

sendiri kekuasaannya. Pemerintah hanya mau memberikan

hak-hak politik kepada anggota masyarakat, kalau

dinilai masih sesuai dengan kepentingannya dan tidak

membahayakan kekuasaannya (PANJI MASYARAKAT 447,

21-10-1984:47-48). Ketika sidang Konstituante masih

belum tuntas berhasil mengambil kesepakatan, Presiden

Soekarno segera membubarkan Konstituante dan

menyatakan kembali ke UUD-45 serta membentuk Kabinet

Presidentil. Dengan Kabinet Presidentil memungkinkan

terwujudnya suatu kepemimpinan nasional yang kuat.

Presiden bisa bertindak mengangkat dan memberhentikan

para Menteri yang merupakan pembantunya. Sedangkan

Parlemen tak kuasa menjatuhkan Presiden (Soegiarso

Soerojo : “Siapa Menabur Angin” 1988:101-102). (UUD-45

lebih besar memberi kekuasaan pada bidang eksekutif,

sedangkan UUDS-50 lebih besar memberi HAM pada

warganegara).

Dalam pandangan Hamka, ummat Islam wajib berikhtiar

agar Islam dalam keseluruhannya berlaku pada

masing-masing pribadi, lalu kepada masyarakat,

kemudian kepada negara. Selama hayat dikandung badan,

harus berjuang terus agar Islam dalam keseluruhannya

dapat berdiri dalam kehidupan. Jangan sampai mengakui

bahwa ada satu peraturan lain yang lebih baik dari

peraturan Islam (“Tafsir al-Azhar” II, 1983:174)..

“Jika ada jami’ah atau wadah ummat Islam yang

mencita-citakan berlakunya ajaran Islam yang berhaluan

ahlussunnah wal jam’ah di tengah-tengah kehidupan di

dalam wadah negara RI yang berlandaskan Pancasila dan

UUD-45, agaknya bukan sesuatu yang belebihan”. “Sama

sekali bukan pengkhianatan terhadap konstitusi 1945

yang pemberlakuannya kembali melalui Dekrit 5 Juli

1959”. Dalam konsideran Dekrit Presiden 5 Juli 1959

secara tegas dinyatakan bahwa Piagam Jakarta

tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai UUD-45 dan merupakan

suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut,

ujar M.Said Budairy (REPUBLIKA, 18-8-1996:2).

Dalam BPUUPKI, Ir Soekarno menyeru pemimpin-pemimpin

ummat Islam Indonesia bekerja sekeras-kerasnya untuk

menggerakkan segenap rakyat, mengarahkan

sebanyak-banyaknya pemuka-pemuka, utusan-utusan Islam

duduk dalam badan perwakilan rakyat, sehingga

hukum-hukum yang keluar dari badan perwakilan rakyat

itu hukum Islam pula.

= Bekasi 9 Oktober 1996 =

7 Menyoal pemberlakuan syari’at Islam

Sungguh sangat simpatik pernyataan Haib Husein

al-Habsyi bersama kawan-kawan yang antara lain

menuntut Sidang Umum MPR mendatang mempersiapkan

Referendum Nasional dengan opsi pemberlakuan syari’at

Islam dalam hukum nasional (SABILI, No.15, 5 Januari

2000, hlm 55).

Empat puluh lima tahun yang lalu (tahun 1955)

wakil-wakil parpol Islam dalam Sidang Konstituante

menuntut agar Piagam Jakarta sebagai ikrar kesepakatan

bersama pada 22 Juni 1945 yang pernah dikhianati pada

18 Agustus 1945 dengan menghilangkan “dengan kewajiban

menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”,

dikembalikan seutuhnya sebagai Pembuka UUD. (Khannas

sebaliknya menuding bahwa yang berupaya mengembalikan

Piagam Jakarta itu adalah orang-orang yang mengingkari

sejarah pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia

dengan kebhinekaannya).

Namun secara inkonstitusional, tuntutan pengembalian

Piagam Jakarta Tersebut disambut dengan Dekrit

Presiden 5 Juli 1959 yang membubarkan konstituante

hasil pilihan rakyat dan memberlakukan kembali UUD-45.

Berdasarkan perspektif historis dan tekstual, UUD-45

tetap saja bersifat sementara (Ayat 2 Aturan

Tambahan). Bahkan semangat dan jiwa UUD-45 bersifat

mendua, antara demokratis dan anti-demokratis

(Muhammad Yamin : “Proklamasi dan Konstitusi RI”,

1952:90).

Sesuai kondisi riil masa kini, maka referendum dengan

opsi pemberlakuan syari’at dan hudud Islam seyogianya

bersifat lokal, daerah per daerah, namun

penyelenggaraannya bisa saja serentak di seluruh

nusantara oleh pemerintah pusat.

Semoga bangsa ini tidak lagi mengkhianati ikrar yang

telah disepakati bersama, dan semoga tidak mendapat

kutukan dan laknat dari yang memberi kemerdekaan.

= Bekasi 27 Januari 2000 =

8 Menyoal Dasar Perjuangan

Jika sekiranya masyarakat Tanah Rencong berjuang hanya

agar syari’at Islam, hukum Allah berdaulat, berkuasa

di bumi Aceh, insya-Allah kemenangan akan diperoleh

dengan idzin Allah.

Siapa yang berjuang (berperang) semata-mata untuk

menegakkan kalimat (agama) Allah, kata Rasulullah,

maka itulah (perjuangan) fi-sabilillah (HR Bukhari,

Muslim dari Abu Musa Asy’ari).

Jika kamu menolong (agama) Allah, kata Allah, niscaya

Allah menolong kamu dan menetapkan telapak kakimu (QS

Muhammad 47:7).

Sesungguhnya orang-orang yang berkata “Tuhan kami

ialah Allah”, kemudian berlaku lurus, kata Allah, maka

tiadalah mereka takut dan tiada pula berduka cita (QS

Ahqaaf 46:13).

Bilamana perjuangan didasarkan pada rasa kebanggaan,

kemegahan, kejayaan, kepahlawanan, kebangsaan,

kesukuan, kedaerahan, dan lain-lain, maka di sisi

Allah tak ada nilainya sama sekali.

Dalam perjuangan, yang paling penting dari yang

penting adalah meluruskan, membetulkan niat, motivasi,

dasar perjuangan itu sendiri, yaitu hanya semata-mata

untuk tegak berdaulatnya kalimatullah (Islam = Bekasi

20 Agustus 1999 =

9 Menyoal pendirian

Semula berpendirian bahwa untuk dapat berlakunya hukum

Allah sebagai hukum positip di tengah masyarakat butuh

adanya suatu kekuasaan pelaksana. Karena itu perlu ada

usaha, upaya untuk memperoleh kekuasaan itu.

Barangkali pendirian ini mengacu (bertaklid) pada

pendirian Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwa negara

Islam itu harus diadakan untuk terlaksananya

undang-undang Islam (untuk melaksanakan hukum Qur:an,

dan bukan untuk memusyawarahkan hukumnya).

Namun kemudian setelah beberapa kali melakukan kaji

ulang (muhasabah), maka kini pendirian itu berubah

seratus delapan puluh deraajat, bertolak belakang sama

sekali. Kini terperangkap dalam pendirian bahwa

kekuasaan (termasuk juga kekayaan) adalah anugerah

Allah semata, hak prerogatif mutlak dari Allah, tanpa

secuilpun campur tangan siapapun (disimak dari QS

3:26, 13:26, 16:71, dan lain-lain).

Perubahan pendirian ini bukan disebabkan oleh maraknya

isu bahwa “tak ada negara Islam” dalam Qur:an dan

Hadits. Tapi lebih bertolak dari visi dan persepsi

tentang data sejarah. Reformasi yang terjadi

belakangan ini pun semata-mata digerakkan oleh Allah,

tanpa campur tangan manusia. Tak seorangpun, tak

satupun kelompok yang menggerakkan reformasi.

Diantara Rasul, hanyalah Daud dan Sulaiman yang

dianugerahi oleh Allah berupa kekuasaan (sebagai

raja). Allah memberikan kekuasaan kepada Namruz, bukan

kepada Ibrahim, kepada Fir’aun dan bukan kepada Musa.

Allah memberikan kekayan kepada Qarun, bukan kepada

Khidir. Allah memberikan IPTEK kepada Haman, dan bukan

kepada Musa atau Khidir. Semuanya ada hikmah/rahasia

yang tak dapat dipahami manusia. “Aku mengetahui

apa-apa yang tiada kamu ketahui” (QS 2:30).

Baik Ibrahim, maupun Musa tak pernah berupaya

menyusun, menggalang kekuatan, menggembleng dan

mengerahkan massa untuk meruntuhkan kekuasaan

penguasa, baik Namruz maupun Fir’aun. Bahkan Musa

hanya berupaya menyelamatkan diri dan pengikutnya

dengan menyeberangi Laut Merah untuk dapat selamat

dari kejaran pasukan Fir’aun. Keruntuhan kekuasaan

Namruz dan Fir’aun pun semata-mata atas iradat dan

kodrat Allah tanpa campur tangan Ibrahim dan Musa.

Semuanya sesuai dengan ketetapan Allah sendiri

(disimak dari QS 35:43, 33:62, 48:23).

Bangkitnya Islam pun di Tanah Arab bukanlah atas usaha

dan upaya dari sisa-sisa pengikut ajaran Nabi Ibrahim,

tetapi semata-mata atas anugerah Allah yang telah

menghadirkan Rasul-Nya Muhammad saw sebagai penggerak

pertama di sana. (Dr Mushthafa as-Siba’I : “Sari

Sejarah Dan Perjuangan Rasulullah saw”, 1983:30, Dr

Muhammad Said Ramadhan al-Buthy : “Sirah Nabawiyah I”,

1992 :45-46).

Umar bin Abdul Aziz berubah dari pemuda glamour,

foya-foyqa, pelesiran menjadi manusia zuhud (bukan

hamba harta-dunia), bukanlah atas usaha keluarga,

masyarakat, lingkungannya, tetapi semata-mata anugerah

Allah, bukan mengikuti teori/hukum Stern, bahwa

manusia itu ditentukan oleh bawaan/bakat dan

milieu/lingkungan. Bawaan/bakat manusia itu mencakup

kefasikan dan ketakwaan (disimak dari QS 91:8).

Masyarakat yang berada di bawah pemerintahan Khalifah

Umar bin Abdul Aziz (yang hanya berlansung dua tahun

dari 99 sampai 101 Hijriyah), itulah masyarakat yang

benar-benar masyarakat adil dan makmur. Sayangnya tak

tercatat dalam catatan sejarah bahwa masyarakat

sebelum itu, yaitu masyarakat bani Umaiyah adalah

masyarakat yang benar-benar masyarakat IMTAQ. Masih

saja terdapat rahasia (faktor X) yang menjadi

persyaratan terwujudnya masyarakat IMTAQ yang

sempurna. Manusia tak pernah tahu waktunya (QS 7:34,

10:49). Yang sempat diketahui adalah bahwa masyarakat

yang akan memperoleh keadilan, kemakmuran, berupa

kemajuan IPTEK, keberkahan (QS 7:96), kebebasan dari

bencana (QS 5:65), kekuasaan (QS 24:55), adalah

masyarakat yang benar

benar masyarakat IMTAQ.

“Jika hamba-hamba-Ku ta’at kepada-Ku, Kujadikan hati

raja-raja mereka penuh kasih sayang kepada mereka, dan

apabila mendurhaka kepada-Ku, Kujadikan raja-raja

penuh kemarahan dan kebengisan sehingga menganiaya

mereka dengan siksa yang buruk. Maka jangan sibukkan

dirimu dengan mengutuk raja-raja, tetapi sibukkan

dirimu dengan dzikir dan berdo’a secara khusyu’ supaya

Kulindungi kamu dari raja-rajamu” (HR Abu Nu’aim,

Thabari dalam “Koreksi Pola Hidup Umat Islam”,

1986:52, oleh Muhammad Zakaria al-Kandahlawi). Usaha

yang wajib dilakukan adalah menyeru mengajak

orang-orang untuk menjadi masyarakat IMTAQ.

Pendirian bahwa semuanya adalah atas iradat dan kudrat

Allah secara mutlak, tanpa campur sedikitpun dari

makhluk, pernah diberi cap/label/stigmatisasi sebagai

pendirian “jabariyah”. Tapi apakah ajaran Jabariyah

itu termasuk pada ajaran kufur ? Apakah ajaran

Jabariyah itu mengandung unsur syirik. Apalkah ajaran

jabariyah itu bertentangan dengan ajaran Tauhid, yang

mengajarkan bahwa tak ada satu pun sekutu (termasuk

sekutu dalam kekuasaan) bagi Allah swt.

= Bekasi 11 Maret 1998 =

10 Yu waswis

1. “Berlindunglah kepada Allah dari waswis khannas jin

dan khannas manusia” (Tuntunan QS An-Naas 114:116).

2. “Agama Allah tidak perlu dibela.Kalau Allah mau,

siapapun yang mengancam agama-Nya bisa dibasmi-Nya

tanpa bantuan manusia ” (Idha Farida SA, dalam SABILI,

No.2, Th.VIII, 12 Juli 2000, hal 6).

3. “Pada pertengahan 1982, Gus Dur menyeru untuk tidak

usah membela Tuhan. Tuhan Tidak Perlu Dibela”

(M.Musthafa, dalam KOMPAS Minggu 1999, ‘Untuk Siapa

Agama Sebenarnya?’.

4. “Orang-orang musyrik (paganis) akan mengatakan

bahwa, jika Allah menghendaki, niscaya mereka dan

bapak-bapak mereka tidak akan menpersyarikatkan Allah

dan pula tidak akan mengharamkan sesuatu” (Peringatan

QS An’am 6:148, Nahal 16:35).

5. “Orang kafir itu mengatakan bahwa jika Allah

menghendaki tentulah Allah akan memberi makan

orang-orang papa” (Peringatan QS Yaasin 35:47).

6. “Setan datang menemui seseorang hingga sampai

menanyakan siapa yang menjadikan Allah” (Peringatan HR

Bukhari dari Abi Hurairah, dalam Bab ‘Sifat Iblis wa

Junudihi'”.

7. Iblis mempertanyakan kenapa Allah menjadikannya dan

apa hikmahnya, padahal sebelum kejadiannya Allah telah

mengetahui apa saja yang bakal keluar dari

perbuatannya. Mengapa Allah membebaninya untuk

mengenal dan menta’ati-Nya, padahal Allah

menciptakannya menurut iradah dan keinginann-Nya”

(Petikan komentar penulis Injil yang dikutip Imam

Syahrastani dalam Kitab al-Mihal wan-Nihal, hal 14-16,

yang dinukilkan kembali oleh H Ali Fahmi Arsyad, dalam

SUARA MASJID, Nomor 162, Maret 1988, hal 50)

= Bekasi 28 Agustus 2000 =

11 Menyoal do’a bersama kafir (toleransi damai ?)

Diriwayatkan oleh Abdurrazaq yang bersumber dari Wahab

dan Ibnul Munzir yang bersumber dari Juraij bahwa kaum

Kafir Quraisy berkata kepada Nabi saw “Sekiranya

engkau tidak keberatan mengikuti kami (menyembah

berhala) selama setahun, kami akan akan mengikuti

agamamu selama setahun pula”. Maka turunlah QS Kafirun

109:1-6.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari

Sa’id bin Mina bahwa al-Walid bin al-Mughirah,

al-‘Ashi bin Wa:il, al-Aswad bin al-Muthalib dan

Umayyah bin Khalf bertemu dengan Rasulullah saw dan

berkata “Hai Muhammad. Mari kita bersma menyembah apa

yang kami sembah dan kami akan menyembah apa yang

engkau sembah dan kita bersekutu dalam segala hal dan

engkau yang memimpin kami”. Maka Allah menurunkan QS

Kafirun 109:1-6.

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Sa’id bin Mina

bahwa pemuka-pemuka Quraisy musyrikin bermufakat

hendak datang menemui Nabi. Mereka (al-Walid bin

al-Mughirah, al-‘Ash bin Wa:il, al-Aswad bin

al-Muthalib dan Umayyah bin Khalaf) mengemukakan

usulan damai “Ya Muhammad. Mari kita berdamai. Kami

bersedia menyembah apa yang kamu sembah, tetapi engkau

pun hendaknya bersedia pula menyembah yang kami

sembah, dan di dalam segala urusan di negeri kita ini,

engkau turut bersama kami. Kalau seruan yang engkau

bawa ini memang ada baiknya dari pada apa yang engkau

serukan itu maka engkau pun telah merasakannya dengan

kami, sama mengambil bahagian padanya”. Tidak berapa

lama setelah mereka mengemukakan usul ini turunlah QS

Kafirun 109:1-6.

= Bekasi 31 Agustus 2000 =

12 Arah dakwah

Sasaran uama dakwah adalah mengajak, menyeru manusia

agar hanya menyembah Allah, dan tidak

mempersekutukan-Nya dalam hal apa pun dengan suatu apa

pun, serta bersyahadat membenarkan Muhammad itu

benar-benar Rasul Allah. Sekaligus membela,

mempertahankan, memperjuangkan tegaknya syahadat yang

dikrarkan itu dalam diri pribadi dan di tengah

masyarakat. Setelah itu berbuat baik terhadap kedua

orang tua, dan sekali-kali tidak menyinggung, melukai

perasaan, hati kedua orang tua. Meyakini sepenuhnya

bahwa Allah itu yang memberi rezki (makanan, minuman,

kehidupan, kesehatan, ilmu pengetahuan, kecakapan,

ketrampilan, kekayaan, kekuasaan) bagi semuanya.

Menjauhi, menghindari segala sesuatu yang jijik,

jorok, cabul, porno, mesum, baik terang-terangan,

maupun sembunyi-sembunyi. Membela, mempertahankan,

memperjuangkan hak hidup siapa pun dan tidak

memperkosa hak hidup itu. Membangun tegaknya

masyarakat adil makmur. Menegakkan keadilan secara

utuh, baik terhadap diri sendiri (introspeksi), maupun

terhadap masyarakat, baik dalam bidang hukum, maupun

dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya.

Menyebarkan dan menyuburkan kebajikan, kebaikan,

kemakmuran baik terhadap yang Muslim, maupun

non-Muslim, tanpa diskriminasi. Menyantuni yang

terlantar, mulai dari kerabat yang dekat sampai jauh.

Tidak melakukan tindak keonaran, makar, kekacaauan,

kejahatan, kemunkaran, keresahan, kerusuhan,

kegelisahan (QS 6:151, 16:30). Seruan dakwah ini

sangat dibenci, ditakuti, tidak disukai oleh para

penguasa, terutama sekali para adikuasa, adidaya,

seperti Kaisar dan Kisra.

“Wahai manusia. Ucapkanlah “la ilaaha illallaah”,

niscaya kalian beruntung. Dengan kalimat ini kalian

akan menguasai bangsa Arab dan orang-orang Ajam. Jika

kalian beriman, maka kalian akan menjadi raja di

surga”. Demikian seruan Rasulullah yang seringkali

disampaikan kepada manusia. (Sirah Nabawiyah, Planning

Dan Organisasi Dakwah Rasulullah, Petunjuk Jalan,

Metoda Revolusi Islam).

= Bekasi 18 April 1998 =

13 Politik organisasi dakwah

Organisasi dakwah – menurut Hasan al-Banna, pendiri

Ikhwanul Muslimin – adalah menyeru, memanggil manusia

pada kebenaran dan kedamaian, untuk mengikuti tuntunan

Allah dalam Qur:an dan Sunnah Rasul-Nya, beserta

mengikuti teladan para sahabat Rasulullah saw.

Organisasi dakwah mengajak untuk berpegang dan

menegakkan hukum-hukum, ajaran-ajaran, dan

petunjuk-petunjuk Allah swt. Organisasi dakwah

berakidah Islamiyah. Rela diatur oleh aturan Allah swt

(QS 5:44-50,66). Organisasi dakwah tak mengenal

dinding batas dissskriminasi waktu (zamani) dan tempat

(makani) serta kondisi (waqi’I) (QS 21:107).

Apabila ajakan, misi, aktivitas, kegiatan organisasi

dakwah ini dikatakan, dikategorikan, dinilai membawa

prinsip politik, melakukan aktivitas, kegiatan politik

praktis, memang dakwah itu membawa prinsip poltik

menegakkan kebenaran, yang tak memisahkan antara agama

dan politik. Organisasi dakwah mencakup mengurusi

masalah politik, masalah sosial dan pembaruan, masalah

olah-jasmani dan olah-rohani. Mencakup dakwah,

tarikah, siasah, iqtishad, tsaqafah, madaniyah,

riyadhah, tanpa menyisakan, menyisihkan yang termasuk

dalam Islam kaffah. Dakwah itu dilakukan simultan,

serentak menyebar ke segala sektor kehidupan, bukan

terbatas hanya pada satu dua sektor tertentu saja (QS

2:208).

Risiko yang menghadap, yang menanti pendukung dakwah

bisa dipenjarakan, ditangkap, dibuang, dikejar-kejar

(sebagai buronan), kehilangan harta (karena disita),

kehilangan pekerjaan (karena dipecat). Pendukung

dakwah akan mendapat tantangan. Akan dipertanyakan

apakah dakwah dapat dijadikan sebagai landasan

pembangunan masyarakat, serta mengobati penyakit

masyarakat (patologi sosial), apalagi dalam suasana

negara sedang dilanda berbagai resesi dan krisis ?

Apakah mungkin dakwah gerakan amar makruf nahi munkar

dapat menata sistim ekonomi tanpa menggunakan asas

rente (dengan tingkat suku bunga nol, seperti

diajarkan pakar Ekonomi Keynes dalam “The General

Theory of Employment, Intrest and Money”) ? Apakah

yang dapat dilakukan dakwah menghadapi budaya global

emansipasi (wanita dan pria) ? Dan lain-lain (QS

23:71).

Berbeda dengan al-Banna, meskipun diakui bahwa adalah

tidak bijak menghindari kegiatan politik praktis dalam

memperjuangkan tegaknya bangunan Masyarakat Utama,

Masyarakat Islam, namun Dr HM Amien Rais MA yang visi

dan persepsi poltiknya hampir sejalan dengan Mr

Mohammad Roem, mengemukakan bahwa untuk membangun

infrastruktur Masyarakat Utama itu tidak bisa dengan

mengambil jalan pintas, tetapi dalam perspektif jangka

panjang (USWATUN HASANAH 495:1998).

= Bekasi 18 April 1998 =

14 Masyarakat Adil dan Makmur

Kemakmuran, keadilan, ketenteraman, keamanan masih

tetap saja tinggal sebagai impian, dambaan, harapan

bagi orang banyak. Sudah lebih lima puluh tahun

merdeka, baik masa ORLA, maupun masa ORBA, hanya

segelintir orang tertentu yang sempat berhasil

mereguk, mengenyam kemakmuran, keadilan, ketenteraman,

keamanaN TERSEBUT. Hanya MEREKA itulah yang sempat

menikmati kekayaan milyaran, bahkan triliyunan untuk

ratusan turunan. Selebihnya tetap saja kere, jembel,

kuli (ada yang berdasi, dan ada yang tidak0) dari

proyek-proyek konglomerat. Walaupun demikian,

perjuangan tak pernah berhenti untuk meraih kemakmuran

lahir batin, keadilan dalam

politik-ekonomi-hukum-sosial-budaya, bersih dari

kolusi, komisi, konspirasi, ketenteraman dan keamanan

keluarga dan masyarakat.

Untuk menuju masjarakat adil dan makmur itu, Islam

memberikan tuntunan agar senantiasa menyimak,

memperhatikan, mengikuti, menjalankan tuntunan agama

yang disampaikan oleh para ulama berupa keharusan

berbuat kebajikan dan larangan berbuat tindak

kejahatan. Tidak meremehkan, mengabaikan para ulama,

apalagi membatasi gerak dakwahnya atau mencekalnya,

atau menjadikan wejangannya sebagai bahan lawakan.

Berikutnya, lebih memusatkan perhatian pada

pembangunan mental spiritual (moral), dan bukan

terlalu terfokus pada pembangunan fisik material

(ekonomi). Islam lahir, tampil membawa pesan/amanat

untuk lebih mengutamakan perbaiakan budi pekerti

(akhlak), bukan untuk lebih mengutamakan perbaikan

penampilan fisik jasmani. Memang Islam juga mendorong

untuk berusaha mencari rezki sekuat tenaga, tetapi

harta-kekayaan yang lebih dari kebutuhan hendaknya

diberikan kepada orang-orang yang melarat (QS2:219).

Islam tidak menyukai menumpuk-numpuk kekayaan, apalagi

untuk foya-foya, bahkan untuk ratusan turunan.

Sesungguhnya kelebihan harta itu menurut riwayat Ali

bin Abi Thalib – hanyalah milik orang lain yang

disimpan. Jangan membuat tempat timbunan kekayaan,

yang – menurut riwayat Tirmizi – akan menyebabkan

cinta pada dunia.

Sebagai orang bersaudara, Islam juga tidak menyukai

sealing bersaing dalam mencari rezki. Islam menuntun

agar saling tolong menolong, saling bantu membantu

dalam kebaikan. Termasuk tolong menolong mencarikan

jlan keluar mengatasi kesulitan permodalan, tenaga

kerja, pemasaran, manajemen.

Tuntunan Islam yang disampaikan Rasulullah saw antara

lain bahwa “Apabila kaum Muslimin membenci ulama

mereka, menonjolkan pembangunan pasar mereka, dan

saling berkelahi untuk mengumpulkan uang, maka Allah

swt menimpakan kepada mereka empat perkara : musim

pacekelik, kezhaliman penguasa, pengkhianatan penegak

hukum, dan serangan dari musuh” (HR Hakim dari Ali bin

Abi Thalib, dalam “Koreksi Pola Hidup Umat Islam”,

1986:46).

Dari QS 7:96, 5:65-66, 24:55, 65:2-3 dipahami, bahwa

masyarakat adil makmur, penuh berkah, kemajuan

IPTEK-sosial-ekonomi, jadi tuan di negeri sendiri,

adalah masyrakat IMTAQ, masyarakat Islami, masyarakat

yang rela diatur oleh aturan Allah. Yang Yahudi rela

diatur dengan Taurat. Yang Nasrani rela diatur dengan

Injil. Yang Islam rela diatur dengan Qur:an (QS

5:44-50,66). Semoga saja sudah ada yang sukses

berhasil membentuk masyarakat IMTA?di

lingkungan RT, RW, Desa, sekolah, madrasah, masjid,

kampus, kantor, pabrik, pasar, komplek pemukiman, dan

lain-lain

= Bekasi 1 April 1998

15 Tuntunan Islam praktis

Baik dari dakwah tatap muka, maupun melalui media

cetak, dan melalui media elektronika, yang amat sangat

diperlukan umat adalah tuntunan Islami praktis, yang

konkrit, yang mudah diterapakan, dan bukan tuntunan

Islami teoritis ilmiah yang abstrak, antara lain

tentang cara menanggulangi, mengatasi, menangani

tawuran antar sekolah, penyampaian protes, penolakan

protes, bentrokan fisik antara rakyat pengunjuk rasa

dengan aparat bersenjata, tindak kekerasan, tindak

kejahatan, pemaksaan kehendak oleh yang berkuasa,

arogansi intelektual, arogansi wakil rakyat, arogansi

pejabat, penyalah-gunaan kekuasaan, transaksi fiktif,

kwitansi fiktif, penggelapan uang, aksi premanisasi,

aksi pengamen, aksi pengemis, parade zina, hedonisme,

krisis keteladanan, mental robot, mental pabrik,

mental badak, mental budak, jambret, rampok, rampas,

todong, perkosaan, pembunuhan, pembantaianan, miras,

mabuk-mabukan, judi, calok, pungli, uang semir,

siluman, pelicin, komisi, amplop, tst, joki, jimat,

kolusi, korupsi, komersialisasi jabatan, dan

lain-lain.

Islam berpesan agar sungguh-sungguh menarik tangan

orang yang zhalim, aniaya, berbuat munkar, kejam,

jahat, sewenang-wenang, dan menghela, paksa, robah,

cegah tangan itu kepada mematuhi kebenaran. Kalau

tidak, maka Allah akan meratakan siksaan-Nya. (Bks

20-9-99).

16 IPOLEKSOSBUDHAMKAMTIB dan Islam

Penerbit dan Redaksi Media Dakwah sangat diharapkan

untuk dapat menyusun/menerbitkan Risalah/Makalah/Bukau

antara lain mengenai “Politik dan Islam”, “Ekonomi

dan Islam”, “Televisi dan Islam”, “Busana dan Islam”,

“Militer dan Islam”, dll yang dapat dipahami oleh

tokoh-tokoh semacam Munawir Syadzali, Nurkholish

Madjid, Ainun Nadjib, Dahlan Ranuwihardjo, Dawam

Rahardjo, Syhafi’I Ma’arif, Amien Rais, Abdurrahman

Wahid, Aqil Siradj, Masdar Mas’udi, Hasan Metareum,

Tirtosudiro, Adi Sasono, Mar’I Muhammad, Fuad Bawazir,

Aburizal Bakri, Emil Salim, Syafi’I Antonio, Hasan

Habib, Wiranto, Hasan Tiro Quraisy Shihab, Alwi

Syihab, dan lain-lain.

Memang dalam siasah/politik, kalam/teologi,

tasauf/teosofi, hukm/fiqih, sejarah telah meninggalkan

berbagai firqah/sekte/aliran paham yang antara lain :

– hanya menerima matan nash dan menolak makna nash,

hanya mengambil hakikat (nilai) Islam dan meninggalkan

syari’at (Hukum) Islam. Inkar Syari’at/Siyasah.

Pro-Ribawi. Inkar Jihad. Inkar Jilbab. Dll. Dengan

jargon “Islam yes, Politik Islam No).

– hanya berpegang pada Qur:an saja, dan meninggalkan

Sunnah. “Qur:an Yes, Sunnah No”. Inkar Sunnah. (Bks

Idilfitri 1420)

17 Muhasabah keadilan

Pernahkah kita berlaku adil terhadap yang tak kita

senangi ? Islam hanya membutuhkan dua puluh tiga tahun

untuk menegakkan keadilan (QS 5:8, 5:3). Timtim di

bawah naungan Indonesia selama dua puluh tiga tahun.

Selama itu apakah Indonesia bersama TNI-nya yang

mayoritas Islam bersikap dan berwatak Islami terhadap

rakayat Timtim non-Islam ?

Dari “Hadhratul Arab”nya Gustave Le Bon dicatat bahwa

Perang Salib sebagai lambang makar jahat Barat

terhadap Islam. Dari “Mafahim Siyasah”nya Abu Yusuf

dicatat bahwa negara Barat akan terus melanggengkan

pengaruhnya melalui penjajahan (HUSNAYAIN 82:1999).

Dipertanyakan, dari sumber data otentik mana dicatat

bahwa Keluarga Barat (kelompok negara-negara Nasrani

Eropa mana) muncul pada abad XIV untuk menghancurkan

Islam dan kum Muslimin. Negara-negara Nasrani mana

saja yang bersekongkol, bersekutu dengan Austria tahun

1683 memukul mundur Turki dekat Wina ? Negara-negara

mana saja yang bersekutu dengan Hongaria tahun 1699

menyerang Turki ? Pada masa itu, apakah bangsa

Seljuk-Turki masih bersikap dan berwatak Islami

terhadap daerah taklukan ? Apakah ayat QS 2:120

dipahami untuk menanamkan kebencian kepada Ahli Kitab,

ataukah dipahami untuk senantiasa waspada ?

Hassan Shadily dalam Ensiklopedi Indonesia-nya

mengemukakan bahwa “Ketika suku Turki Seljuk Islam

berkuasa, orang-orang Kristen yang berziarah ke

tempat-tempat suci di Yerusalem, merasa diperlakukan

tidak baik” (Jilid 5, hlm 2661-2662). Dan bagaimana

dengan perlakuan umat Islam Indonesia masa kini

terhadap Ahli Kitab ? Apakah seperti Bani Seljuk Turki

Islam ? (Bks 20-9-99)

18 OKI dan Perjuangan Umat Islam gagal ?

Dengan gencar dihembuskan, bahwa dalam perspektif

historis, gerakan-gerakan yang trennya

memformalisasikan syari’at Islam tidak pernah mengakar

mendapat simpati dari mayoritas umat. Hanyalah

merupakan gerakan sempalan yang tercerai berai dan

tidak pernah menjadi kelompok yang solid (Abd A’la :

KOMPAS 22/10/99:4). Apakah memang benar demikian ?

Apakah memang perjuangan umat Islam akan bermuara pada

kekandasan, pada ketakberhasilan ? Misuari bersama

pasukan Moro Pilipina Selatan-nya terpaksa memilih

jalan damai, barjabat tangan dengan Fidel Ramos pada

pertengahan Agustus 1996 (KOMPAS 3/9/96:1). Bosnia

terpaksa bertekuk lutut ke bawah kuasa PBB yang

dikendalikan AS untuk membentuk negara Bosnia yang

terdiri dari Bosnia, Kroatia dan Serbia. Chechnya

terpaksa menderita terjepit di bawah gempuran

habis-habisan dari Rusia. Taliban Afghanaistan

terpaksa menyerah menerima sanksi PBB (REPUBLIKA

8/11/99:11). Apakah ini juga yang akan dialami

perjuangan Umat Islam Palestina, Dagestan, FIS

Aljazair, NOI Black Moslem AS, DI-NII-TII, MASYUMI,

Darussalam Aceh, dan lain-lain. Dan apa peranan OKI

dalam hal ini ? Tapi yang pasti Qur:an menyebutkan

bahwa “Allah telah berjanji ke pada orang-orang yang

beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang

saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka

berkuasa di bumi (QS Nur 24:55). Rasulullah

berulangkali menyeru “Wahai manusia ! Ucapkanlah “la

ilaha illallah”, niscaya kalian beruntung. Dengan

kalimat ini kalian akan menguasai bangsa Arab dan

orang-orang ajam. Jika kalian beriman, maka kalaian

akan menjadi raja di surga” ( Dr Muhammad Sa’id

Ramadhan al-Buthy : “Sirah Nabawiyah” I, 1992:205).

19 Label Syar’i

Pada mulanya terminologi demokrasi, ekonomi, bank,

tanpa embel-embel. Karena sesuatu hal, dimunculkan,

diperkenalkan demokrasi liberal, demokrasi proletar,

demokrasi otoriter, demokrasi terpimpin, demokrasi

Pancasila. Ekonomi kapitalis, ekonomi sosialis,

ekonomi kerakyatan, ekonomi Pancasila. Bank

konvensional, bank tradisional, bank modern. Agar

terkesan bearoma, bernuansa Islam diciptakan,

ditampilkan demokrasi Islam, demokrasi ilahi

(theo-democracy), ekonomi Islam, bank Islam, bank

syar’iyah, bank mu’amalah. Tapi tetap saja

dipertanyakan, apakah semuanya itu jadi Islami ?

Dengan memberi label syar’i, halal, apakah khamar,

ham, riba, zina, judi bisa berubah dari haram jadi

halal ? Apalagi zina, pelacuran, prostitusi dipandang

tidak merusak, tidak merugikan siapa-siapa, malah

menguntungkan, memberikan ketenangan dan kesenangan ke

pada yang bersangkutan. Memang ada periode, orang

telah menganggap baik yang buruk, dan buruk yang baik.

Menyamakan, menyamaratakan, memanipulasi yang haram

jadi halal. Diingatkan agar tidak berbuat dosa,

seperti Yahudi menghalalkan yang diharamkan Allah

dengan berbagai helah (manipulasi), antara lain dengan

merubah namanya.

20 Gaya setan selebritis

Setan mengaliri, mengkerebuti, menggerakkan hampir

seluruh aktivitas kegiatan kehidupan manusia. “Setan

berjalan dalam tubuh manusia sebagaimana arus listrik

berjalan pada kabel penghantarnya, atau sebagai

oksigen mengalir dalam tubuh”. Kini, melalui media

pendidikan modern (misalnya televisi), setan mendidik,

mengarahkan, mengajarkan kita manusia sepanjang masa,

baik pada masa bocah cilik, pada masa kanak-kanak,

pada masa remaja belia, pada masa dewasa, pada masa

tua renta untuk bergaya setan selebritis. Berbusana

semini-mininya, serba terbuka, mengkerut dari atas ke

bawah, dari bawah ke atas, terbuka dada, punggung,

pusar (udel), betis, paha. Semakin mengkerut, semakin

mini, maka semakin oke, semakin keren, semakin ngetop.

Bergaul bebas sebebasnya tanpa batas, tanpa rasa malu.

(Habis malu habislah iman). Kumpul kebo. Kumpul dulu.

Kawin soal belakang. Bernyanyi berjingkrak-jingkrak,

merentak-rentak, meronta-ronta. Menenggak,

mengkonsumsi miras, narkoba. Mabuk-mabukan. Akrab

dengan mo-limo, dengan narkoba, pelacuran, perjudian,

diskotik, dll. Melalui acara seputar selebritis, kita

disuguhi cerita perselingkuhan, gaya pacaran, gaya

hidup mewah, dll, “Setan menjadikan umat-umat

memandang baik perbuatan mereka yang buruk” (QS Nahl

16:63). (REPUBLIKA, Minggu, 28 November 1999, hal

6-Selisik, hlm 10-Catatan Media). Melalui berbagai

bencana, sudah berkali-kali Tuhan memperingatkan

manusia dan pemimpinnya agar kembali mau mengikuti

perintah Tuhan dan menjauhi ajakan setan (SEMANGGI,

No.2, Kamis, 18 November 1999, hlm 13).

21 Pemelintiran (Tahrif Kalamallah)

Islam menempatkan sesuatu pada tempatnya yang pantas.

Menyamakan sesuatu yang pantas disamakan. membedakan

sesuatu pada yang pantas dibedakan. Dalam pahala

ketaqwaan, Islam tak memperbedakan gender, etnis.

Dalam warisan, kepemimpinan (walaa), pertemanan

(bithanah, waliijah), Islam membedakan antara pria dan

wanita, antara yang Islam dan yang bukan Islam

(Yahudi, Nasrani, Zionis, Komunis, dll). Islam sangat

tak suka memplintir yang sudah terang (muhkamat)

menjadi yang kabur (mutasyabihat). membuat hal-hal

yang sudah diyakini (qath’i), yang sudah disepakati

(ijma’) menjadi hal-hal yang diperdebatkan, yang

diperselisihkan. Misalnya nash tentang kepemimpinan

sudah sangat terang (muhkamat) menjelaskan bahwa yang

pria, yang Islam itu lah yang menjadi pemimpin.

Memplintir yang sudah terang ini menjadi yang kabur

adalah merupakan fitnah (bahaya) terbesar yang

dihadapi Islam. Deislamisasi, deformalisasi syari’at

Islam bergandengan memplintir yang muhkamat, yang

sudah jelas, yang sudah pasti menjadi yang

mutasyabihat, yang diragukan. “Orang-orang yang dalam

hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka

mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk

menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya”

(QS Ali Imran 3:7).

22 Pertemanan

Islam mempersamakan yang pantas disamakan, dan

memperbedakan yang pantas diperbedakan. Islam

menetapkan garis tegas pemisah yang jelas dalam hidup

tentang pedoman/pandangan, tujuan, tugas,

peran/fungsi, kawan, lawan, teladan, bekal, dan

lain-lain. Dalam pertemanan, Islam menetapkan bahwa

“sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara”

(QS 49:10). Orang mukmin adalah saudara bagi mukmin

lainnya, yang mencukupi pekarangannya (memperhatikan

penghidupannya senasib sepenanggungan) dan menjaganya

dari belakang (menjaga serta menjaganya ketika sedang

bepergian dan sebagainya) (HR Ahmad, Abi Daud dari Abi

Hurairah). Jangan bersahabat -kata Nabi saw – kecuali

pada orang mukmin (yang beriman). Dan jangan makan

makananmu kecuali orang bertaqwa (HR Abu Daud, Tirmizi

dari Sa’id al-Khudry, dalam Muhammad Rasyid Ridha :

“Majmu’atul Hadits”). Orang-orang beriman itu bersikap

kasih sayang sesama mereka (QS 48:29). Dalam cinta

kasih itu orang-orang beriman bagaikan satu badan yang

saling merasa, atau bagaikan suatu bangunan yang

saling menguatkan. Islam juga menetapkan bahwa setan

dan pengikutnya (seperti thaghut, fasiq, munafiq,

Yahudi, Nasrani, dan lain-lain) adalah lawan, bukan

sebagai kawan (QS 35:6). Tak dibenarkan bermesraan

(berkoalisi, berkolusi, beraliansi, berelasi) dengan

lawan (QS 58:22, 9:16, 3:118).

23 Jangan sampai di-Chechnya-kan

Semula, menjelang proklamasi kemerdekaan RI, semangat

untuk memformalisasikan syari’at Islam sangat

menonjol. Hal ini tampak pada tujuh kata “dengan

kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi

pemeluk-pemeluknya” dalam Piagam Jakarta tanggal 22

Juni 1945. namun sehari setelah Proklamasi, yang

sangat menguat adalah semangat untuk

mendeformalisasikan syari’at Islam. Hal ini sangat

jelas terlihat pada pengebiran Piagam Jakarta dengan

dihapusnya tujuh kata itu di dalam Pembukaan UUD

tanggal 18 Agustus 1945. Upaya deformalisasi ini

semakin lama semakin menguat. Ini bisa diamati dari

sidang Konstituante 1955 dan sidang MPR selang waktu

1971-1999. Dan kini dari upaya-upaya mempersamakan

secara mutlakan tanpa apeduli akan nash-syari’at

(teks-nortmatif) dalam segala hal, dalam jender antara

pria dan wanita, dalam kepemimpinan (walaa) dan

pertemanan (bithanah, waliijah) antara yang Islam dan

yang bukan Islam (Yahudi, Nasrani, Zionis, Komunis,

dll). Sedangkan yang masih berupaya memformulasikan

syari’at Islam, kecewa dengan penghapusan tujuh kata

Piagam Jakarta, dan sebagiannya ada yang berusaha

membentuk NII (Negara Islam Indonesia) 27 Agustus

1948. Sejak masa Daud Beureueh, sejak diproklamasikan

Negara Islam Aceh 21 September 1953, masyarakat Tanah

Rencong berjuang mengembalikan tujuh kata Piagam

Jakarta, agar syari’at Islam, hukum Allah berdaulat,

berkuasa di bumi Aceh Darussalam (SIMPATI, No.6, 6

September 1998, SABILI, No.4, 11 Agustus 1999, hlm

70). Dengan mengembalikan Pembukaan UUD-45 seperti

semula, seperti dalam Piagam Jakarta, diharapkan

tuntutan yang kembali muncul di Aceh, dan dulu tahun

lima puluhan juga muncul di Jawa Barat, Sulawesi

Selatan, Kalimantan Selatan, dll, dapat diakomodir,

dapat dipenuhi. Ini demi kepentingan nyawa dan

kesejahteraan rakyat Aceh dan daerah lain, dan bukan

rakyat Aceh dan daerah lain untuk kepentingan negara

dan penguasa. Untuk mencegah disintegrasi bangsa

seyogianya secepatnya mengembalikan Piagam Jakarta

sebagai Pembukaan UUD-45 (SABILI, No.15, 10 Februari

1999, Saatnya Umat Islam Bertindak). Semoga Aceh dan

daerah lain tak sampai di-Chechnya-kan.
1

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: