Seruan dari manusia kepada manusia

1 Seruan dari manusia kepada manusia

Jadilah kita manusia seutuhnya. Jangan setengah-setengah. Setengah manusia, setengah binatang. Jangan berprilaku setengah manusia, setengah binatang, termasuk berprilaku seksual binatang, apalagi lebih binantang dari pada binatang. Jangan bercumbu, berciuman, berpelukan di sembarang tempat, tanpa rasa malu, persis seperti binatang.

Jangan melakukan hubungan intim/sanggama seperti binatang, tanpa diawali/disahkan agama dengan nikah. Jangan melakukan seks sebelum/diluar nikah, dan tidak melakukan penyelewengan (Abstinentia Sexual, Be faithful).

Jangan buka pintu/peluang aktivitas bagi mucikari, germo, bromocorah, prostitusi, pelacuran, aborsi. Tutup mati ruang gerak penyaluran HAB (Hak Asasi Binatang), kegiatan nafsu birahi binatang. Cegah segala medeia (gambar, foto, informasi), sarana (hiburan, rekrreasi), busana (setengah bugil, bugil total) yang merangsang nafsu birahi binatang.

Tangkal prilaku seksual yang lebih binatang dari binatang (freesex, sodomi, homo, lesbi, bisex, gay). Gay gigih mengkampanyekan kebebasan seks dan kebebasan dari rasa malu, dengan dalih kebebasan itu adalah hak mereka. Padahal itu semua adalah hak binatang. Di mana pun, kapan pun, binatang bebas melakukan hubungan seks tanpa malu.

Ajaklah kembali jadi manusia. Manusia yang sehat (bio-psiko-sosio-spiritual). Agama tidak mentoleransi, dan menolak merestui gay (simak Tabloid BERITA BUANA, minggu 16 Agustus 1998, hal 3, FOKUS). Meskipun Kristen memandang hidup yang paling ideal (das Sollen) adalah membujang (Marsionis), namun Paulus mengajarkan kepada pengikutnya, bahwa alebih baik kawin (das Sein) dari pada hangus karena hawa nafsu (simak Surat Kiriman Paulus pada Korintus pasal 7 ayat 8 dan 9). Jadilah manusia yang manusiawi, bukan yang hewani. (Bks 15-2-99).

2 Hilangnya hati nurani

Hati nurani adalah pembeda antara manusia dengan binatang. Manusia adalah makhluk yang berhati nurani. Tanpa hati nurani, manausia jatuh ke peringkat binantang. Jadi manusia binatang. Tanpa rasa malu. Bebas tanpa batas. Tanpa terikat dengan apa pun. Berbuat semaunya. Berbusana setengah telanjang, bahkan telanjang bulat. Mabuk-mabukan. Jingkrak-jingkrak histeris. Bercumbu, berciuman, berpelukan dengan sembarang orang di sembarang tempat. Berhubungan intim/sanggama dengan siapa pun dan di mana pun, serta dengan cara bagaiamana pun.

Melakukan berbagai tindak kemunkaran, kemaksiatan, keonaran, kekerasan, perkosaan, pelacuran, pembunuhan, pembantaian, perjudian, penjarahan, perampokan, penganiayaan, penipuan, pemalsuan, korupsi, manipulasi, intimidasi, provokasi, dan lain-lain.

Hati nurani menyeru, jadilah manusia seutuhnya. Manusia yang manusiawi, bukan yang hewani. Jangan setengah-setengah. Setengah manusia, setengah binatang. Jangan berprilaku setengah manusia, setengah binatang, termasuk berprilaku seksual binatang. Jauhi segala media (gambar, foto, informasi), sarana (hiburan, rekreasi), busana (setengah bugil, bugil total), yang merangsang nafsu birahi binatang. Hindari prilaku seksual yang lebih binatang dari binatang (freesex, homo, lesbi, bisex, gay, sodomi).

Kebebasan seks (seks bebas) dan kebebasan dari rasa malu adalah hak binatang, bukan Hak Asasi Manusia (HAM). Di mana pun, kapan pun, binatang bebas melakukan hubungan seks tanpa malu.

Jadilah manusia yang sehat (bio-psiko-sosio-spiritual), yang mengindahkan rambu-rambu, norma-norma etika, moral yang tercela sekecil apa pun. Sebelum berbuat tanyakan dulu pada hati nurani. Perbuatan yang baik adalah yang menenteramkan jiwa. (Bks 22-2-99).

3 Sikap Mukmin terhadap bukan Mukmin

Orang Mukmin itu menjadikan Rasulullah sebagai suri teladan. “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dn kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS Ahzab 33:21).

Orang Mukmin juga menjadikan Nabi Ibrahim dan pengikutnya sebagai suri teladan. “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia” (QS Mumtahanah 60:4). “Sesungguhnya pada mereka itu ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi yang mengharap rahmat Allah dan keselamatan pada hari kemudian” (QS Mumtahanah 60:6).

Allah membedakan antara Mukmin dan bukan Mukmin. “Katakanlah kepada mereka : Kamu belum beriman, tetapi katakanlah “kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu” (QS Hujurat 49:14).

Orang Mukmin memproklamirkan indentitas pendiriannya kepada yang bukan Mukmin. “Sesungguhnyha kami berlepas diri dari apa yang kamu sembah selain Allah” (QS Mumtahanan 60:4, disimak juga dari QS Yunus 10:104, Kafirun 109:1-6).

Orang Mukmin mempproklamirkan siakp bermusuhan dengan yang bukan Mukmin. “Kami ingkari kekafiranmu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja” (QS Mumtahanah 60:4).

Orang Yahudi dan orang Nasrani bersikap bermusuhan dengan orang Mukmin. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka” (QS Baqarah 2:120).

Orang Yahudi sesamanya saling bermusuhan, saling berbencian. “Kami (kata Allah) telah menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat” (QS Maidah 5:64).

Orang Yahudi gemar menyulut api peperangan, berbuat kerusakan, kerusuhan di muka bumi. “Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi” (QS Maidah 5:64).

Orang Yahudi akan terbelenggu di bawah kekuasaan bangsa-bangsa lain selama di dunia dan disiksa dengan belenggu neraka di akhirat kelak.

Orang Nasrani sesamanya saling bermusuhan, saling berbencian. “Mereka sengaja melupakan seagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya, maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat” (QS Maidah 5:14).

Orang Yahudi dan orang Nasrani itu saling bermusuhan, saling berbencian. “Dan orang-orang Yahudi berkata : Orang nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan. Dan orang-orang Nasrani berkata : Orang-orang Yahudi itu tidak mempunyai suatu pegangan. Padahal mereka sama-sama membaca Alkitab” (QS Baqarah 2:113).

Sebenarnya biang rekayasa permusuhan dan kebencian itu adalah setan. Setan itu menjalari, mengaliri jiwa manusia itu bagai elektron mengaliri kabel penghantarnya. Konduktor, penghantar yang digunakan setan untuk menimbulkan permusuhan dan kerusuhan yang paling utama adalah minuman keras dan judi. “Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran meminum khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu dari mengerjakan pekerjaan itu” (QS Maidah 5:91)

Setan menempati kamar mandi (al-hammam), kamar kecil. Orang Mukmin disuruh berta’awudz, berlindung kepada Allah dari gangguan setan, antara lain ketika mau masuk kamar kecil. Setan juga menempati pasar-pasar (al-aswag) dan jalan-jalan (ath-thuruq). “Tempat yang amat disukai oleh Allah ialah Masjid, dan yang paling dibenci oleh Allah ialah pasar-pasar” (HR Muslim dari Abu Hurairah). “Janganlah menjadi orang yang masuk pasar dan jangan orang yang terakhir keluar daripadanya, karena di dalam pasar itu setan bertelor dan beranak” (HR Muslim dari Salman al-Farisi). Setan menyukai makanan yang tidak diucapkan padanya bismillah, minuman yang memabukkan, musik (al-mazamir), nyanyian (asy-syi’r), tatto (aal-wasym), kebohongan (al-kadzib), wanita (an-nisaa).

4 Gaya setan selebritis

Setan mengaliri, mengkerebuti, menggerakkan hampir

seluruh aktivitas kegiatan kehidupan manusia. “Setan

berjalan dalam tubuh manusia sebagaimana arus listrik

berjalan pada kabel penghantarnya, atau sebagai

oksigen mengalir dalam tubuh”. Kini, melalui media

pendidikan modern (misalnya televisi), setan mendidik,

mengarahkan, mengajarkan kita manusia sepanjang masa,

baik pada masa bocah cilik, pada masa kanak-kanak,

pada masa remaja belia, pada masa dewasa, pada masa

tua renta untuk bergaya setan selebritis. Berbusana

semini-mininya, serba terbuka, mengkerut dari atas ke

bawah, dari bawah ke atas, terbuka dada, punggung,

pusar (udel), betis, paha. Semakin mengkerut, semakin

mini, maka semakin oke, semakin keren, semakin ngetop.

Bergaul bebas sebebasnya tanpa batas, tanpa rasa malu.

(Habis malu habislah iman). Kumpul kebo. Kumpul dulu.

Kawin soal belakang. Bernyanyi berjingkrak-jingkrak,

merentak-rentak, meronta-ronta. Menenggak,

mengkonsumsi miras, narkoba. Mabuk-mabukan. Akrab

dengan mo-limo, dengan narkoba, pelacuran, perjudian,

diskotik, dll. Melalui acara seputar selebritis, kita

disuguhi cerita perselingkuhan, gaya pacaran, gaya

hidup mewah, dll, “Setan menjadikan umat-umat

memandang baik perbuatan mereka yang buruk” (QS Nahl

16:63). (REPUBLIKA, Minggu, 28 November 1999, hal

6-Selisik, hlm 10-Catatan Media). Melalui berbagai

bencana, sudah berkali-kali Tuhan memperingatkan

manusia dan pemimpinnya agar kembali mau mengikuti

perintah Tuhan dan menjauhi ajakan setan (SEMANGGI,

No.2, Kamis, 18 November 1999, hlm 13).

5 Setan kesetanan

Hampir seluruh aktivitas kegiatan hidup dan seluruh situasi dan kondisi yang diciptakan cenderung sangat disenangi dan mengundang setan dan anak cucunya. Hampir seluruh media pendidikan modern mengarahkan objek didik menjadi murid-murid tercinta setan-setan. Busana, bicara, nyanyian, mimik, gaya, aksi, penampilan bocah-bocah cilik masa kini sangat disuskai oleh setan-setan. Remajanya menjadi pengikut setia setan, berbusana dan bergaul bebas tanpa batas, meminum miras dan narkotik. Dewasanya jadi kawan setia setan ke dunia maksiat.

Di antara kawan setia setan adalah peminum miras (pemabuk), pezina, pemakan riba. Tempat dan alat maksiat sangat disukai setan-setan. Patung, berhala, aurat terbuka, alat judi, tempat prostitusi, diskotik, media pornografi sangat disenangi dan disukai setan-setan. “Setan menjadikan umat-umat memandang baik perbuatan mereka yang buruk” (QS Nahl 16:63). (REPUBLIKA, Minggu, 28 November 1999, antara lain menyajikan : Mo-Limo, “Ledakan HIV/AIDS akan terjadi di Indonesia”, “Kisah Seputar Perselingkuhan”, “Narkoba, pelacuran, judi ‘tiga serangkai’ maksiat laten kemanusiaan”, “Demi Judi anak pun Terjual”, “Mari Habisi Judi”). (Bks 10-11-99).

6 Kebangkitan Setan

Demikian judul tulisan T.Jacob tiga setengah tahun yang lalu dalam SUARA PEMBARUAN, Senin, 16 Juni 1997. Dijelaskan bahwa setan adalah simbol hasrat gelap manusia, nafsu kekerasan dan kerakusan, dendam dan dengki, gila materi dan kekuasaan, dambaan akan kenikmatan sementara yang berlebihan. Setan dapat menyelinap ke dalam badan seseorang dan berpindah (mengimbas) dari badan ke badan. Setan berpesta ria sesudah berhasil menggoda manusia untuk membunuh sesama, merusak dan membakar rumah dan pasar, bermain curang dan saling mengancam, serta mengkorupsi uang dan kekuasaan.

Satanisme berkembang pesat menjadi perisai dan topeng penyelamat kegiatan illegal, seperti pengedaran obat bius, pornografi, kekerasan seksual, dan kegiatan kriminal lain. Bahkan bisa membawa pesan anti-agama dan mengemban nostalgia ke zaman pelbegu (paganisme, rimbanisme).

Budak-budak setan (Satan’s slave) berkaitan dengan Gereja Setan (Church of Satan) serta penggunaan narkotik dengan kitab sucinya The Satanist’s Bible. Sekali kemasukan setan, sulit sekali mengusirnya. Kultus setan tidak pernah mati.

Di mana-mana setan tetap saja gentayangan. Kini, tidak saja di Ancol, setan gentayangan di Semanggi, Banyuwangi, Ketapang, Kupang, Kerawang, Ambon, Dilli dan lain-lain.

Setan bersarang dalam setiap kepala. Silakan “Barangsiapa yang merasa dirinya tidak berdosa hendaklah dia melontar lebih dahulu” (menjatuhkan hukuman). Bagi bala tentara setan, seperti pemerkosa, perampok, penyamun, pembegal, pembantai, pembunuh, perusuh, pemberontak dan yang sejenisnya, rasanya hukuman yang pantas baginya pada situasi kini adalah tembak di tempat. “Seseorang digantung bukan karena mencuri kuda, tetapi agar kuda-kuda yang lain tidak dicuri”, kata mantan Hakim Inggeris, Henri Burnt (KOMPAS, Rabu, 9 Mei 1984, hal XII).

Setan mengganggu/merusak kesehatan (bio-psiko-sosio-spiritual) melalui zat yang memabukkan, sarana hura-hura, media yang merangsang birahi hewani, tato, kasino, judi, lokasi prostitusi, issu, gosip, bayangan, tayangan kekerasan, dan lain-lain sarana kemunkaran, kemaksiatan, keonaran. (Bks 10-2-99).

7 Oh moral, di mana kau berada ?

Media informasi bermacam ragam. Bisa berupa cetak, elektronik, pidato, ceramah, seminar, simposium, diskusi, tatap muka, dan lain-lain. Di samping bersifat informatif, juga edukatif, membawa pesan pendidikan moral, etika, budi luhur, akhlak karimah paripurna.

Efektifitas media membentuk akhlak karimah paripurna perlu dievaluasi. Seberapa jauh buku, koran, majalah, radio, televisi, pidato, khutbah, ceramah dapat membentuk akhlak karimah ? Dapat mengurangi produksi/distribusi/konsumsi miras/narkotik, perjudian, pelacuran, perkosaan, tripping, penodongan, peramapasan, penjarahan, penganiayaan, pembunuhan, pembantaian, penipuan, pemalsuan, tawuran, manipulasi, intimidasi, provokasi, dan lain-lain tindak kemunkaran, kemaksiatan, keonaran ?

Ambil misalnya tayangan kuliah subuh hampir di semua stasiun televisi setiap pagi. Rasanya perlu dievaluasi semua unsur yang terkait. Aktualitas materinya, kapabilitas penyajinya, validitas metodenya, responsibilitas pemirsanya, kontinuitas pesannya.

Diperlukan metode penyajian yang mampu memotivasi, memobilisasi naluri kemasyarakatan, naluri kemanusiaan, membentuk akhlak paripurna.

Ada kesan 9indikasi) seolah materi kuliah sebagai komoditi bisnis (untuk dikomersialkan sebagai periuk nasi). Penampilan penyaji kuliah meyakinkan seolah serba tahu, serba lebih. Lebih ikhlas, lebih tawakkal, lebih sabar. Sedangkan pemirsa harus digurui, ditunjuki, diajari. Terselip kesan angkuh, pongah, congkak, disadari atau tidak.

Sikap, tingkah Rasulullah bersih dari rasa angkuh, congkak, sombong. Beliau menyadari, bagaimana pun manusia itu adalah manusia. Meskipun beliau adalah manusia paripurna (insan kamil), namun beliau tak pernah menempatkan diri beliau lebih tinggi dari manusia lain. “Allah membenci hamba-Nya yang tampak berbeda dengan sahabatnya” kata Rasulullah. “Belum pernah saya melihat guru yang menyamai kebaikan Rasulullah” ungkap Mu’awiyah bin al-Hakam. (Bks 15-2-99).

8 Menyoal efektivitas dakwah

Dikemukakan bahwa dalam mengamati perkembangan (dakwah) Islam, haruslah mengukur seberapa jauh nilai-nilai al-Islam bertambah meningkat pelaksanaannya dalam suatu masyarakat. Dari soal membaca bismillah, shalat, mencari nafkah, jual beli, perjuangan dan seterusnya. Pendeknya ajaran Islam yang terdiri dari seluruh Qur:an plus sekian Sunnah yang shahih itu merupakan tolok ukur kemajuan atau kemunduran Islam. Ini bisa diukur secara kualitatif, jumlah orang yang melaksanakannya dan juga jumlah orang yang melanggarnya. Dan secara kuantitatif, jumlah sarana-sarana phisik dari pelaksanaan dari ajaran Islam itu. (Abu Afzalurrahman, dalam ALMUSLIMUN, No.198, September 1986, hal 76).

Fakta yang tampak di permukaan mengesankan terasanya syi’ar agama. Tarawih tidak hanya diselengarakan di masjid-masjid atau mushalla, tapi bahkan di hotel yang top. Budaya puasa tidak hanya terasa di kalangan “bawah”, retoran-restoran ternama memasang pengumuman jam buka puasa. Hotel mewah memasang iklan “makan sesudah buka puasa”. Dan suasana ibadat malam maupun siang terasa sangat kurang dikotori uap kemaksiatan maupun suara-suara yang protes. Meski orang boleh mengingat kelesuan ekonomi, tempat-tempat seperti mandi uap, misalnya memang tak lagi populer. Judi sudah sejak beberapa tahun yang lalu dilarang. Dan masjid-masjid penuh, mushalla-mushalla penuh. Membanjirnya para para remaja yang barangkali merupakan 80% jemaah, ke tempat-tempat ibadah sejalan saja dengan pertambahan masjid, maupun mushalla. (Syu’bah Asa, tentang Optimisme Perkembangan Islam, dalam TEMPO, yang dikutip Abu Afzaluurrahman, dalam ALMUSLIMUN, idem hal 65).

Evaluasi (analisa kritis) terhadap fakta optimistis tersebut perlu dilakukan. Media elektronika. Berapa jumlah pemirsa televisi yang setia mengikuti mimbar Islam, kuliah Ramadhan, kuliah subuh (Mutiara Subuh, Hikmah Pagi, Hikmah Fajar, Di ambang Fajar) ? Berapa jumlah pemirsa Muslim yang telah berhasil dibina, di”Islam”kan melalui Dakwah Televisi ? Berapa jumlah pemirsa Non-Muslim yang telah di-Islamkan melalui Dakwah Televisi ? Berapa jumlah kenaikan pemirsa Muslim melalui Dakwah Televisi ? Seberapa jauh dampak dakwah terhadap pola dan tayangan televisi. Berapa jumlah infak da’I televisi bagi perkembangan dakwah dan peningkatan hidup rakyat melarat ?

Media cetak. Berapa jumlah pembaca yang setia menekuni buku-buku tentang Islam ? Berapa jumlah pembaca Muslim yang berhasil dibina, di”Islam”kan melalui buku-buku Islam ? Berapa jumlah pembaca Non-Muslim yang telah di-Islamkan melalui buku-buku Islam ? Berapa jumlah kenaikan pembaca Muslim melalui buku-buku Islam ? Seberapa jauh dampak dakwah melalui buku-buku Islam terhadap pola pikir dan tingkah laku. Berapa jumlah infak penerbit buku-buku Islam bagi perkembangan dakwah dan peningkatan hidup rakyat melarat ?

Dakwah tatap muka. Berapa jumlah peserta taklim ? Berapa jumlah peserta taklim yang telah berhasil dibina, di”Islam”kan melalui taklim ? Berapa jummlah kenaikan peserta taklim setiap tahun ? Berapa jumlah kenaikan jama’ah shalat shubuh tiap tahun ? Berapa jumlah kenaikan jama’ah shalat Jum’at tiap tahun ? Berapa jumlah kenaikan hidup rakyat melarat ?

Nahi Munkar. Berapa jumlah pengurangan, penyusutan tindak kejahatan tiap tahun (perkosaan, pelacuran, aborsi, kumpul kebo, penodongan, pembantaian, penculikan, perampokan, penyiksaan, perjudian, pengedaran miras dan narkoba, tayangan erotis, rente, riba, bunga uang, sogok, suap, korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan lain-lain).

Salah satu acuan, rujukan dakwah antara lain termaktub pada QS Ali Imran 3:104 agar menyeru kepada yang alkhair (kebajikan), menyuruh kepada yang almakruf dan mencegah dari yang almunkar.

Kini adalah jaman spesialisasi. Dibidang dakwah pun dituntut adanya spesialisasi. Di bidang politik dibutuhkan da’I spesialis untuk menjelaskan alkhair, amakruf, almunkar dalam politik.

Di bidang ekonomi dibutuhkan da’I spesialis untuk menjelaskan alkhair, almakruf, almunkar dalam bisnis, ekonomi, industrialisasi, mekanisasi, otomatisasi, kerja lembur. Menjelaskan dengan bahasa bisnis-ekonomi seruan QS Qashash 28:77 agar melaksanakan usaha yang berorientasi sosial (untuk kepentingan bersama) yang bernilai ukhrawi, dan disamping itu melaksanakan upaya yang berorrientasi profit (untuk kepentingan sendiri) yang bernilai duniawi. Menjelaskan makna QS Ma’arij 70:19 dan Fajr 89:27 tentang watak nafsu serakah terkendali.

Di bidang informasi-komunikasi dibutuhkan da’I spesialis untuk menjelaskan alkhair, almakruf, almunkar terhadap media cetak dan eletronik. Menjadikan media cetak dan eletronik sebagai objek, sasaran dakwah.

Di bidang seni-budaya dibutuhkaan da’I spesialis untuk menjelaskan alkhair, almakruf, almunkar dalam busana, vokalia, drama, komedi, teater, sinema. Menjelaskan dengan bahasa seni-budaya makna QS Dzariyat 51:56 tentang wujud kehadiran jin dan manusia sebagai abdi, pemeran, pembawa peran. Makna QS Muhammad 47:36 tentang kehiudupan dunia sebagai panggung sandiwara (lahwun).

Di semua bidang dibutuhkan da’I spesialis yang mampu menyatakan bahwa “aku tak minta imbalan apa pun dari usahaku ini” (QS Syu’ara 26:109). (Bks 24-8-2000).

9 Legalitas kebebasan seks dalam agama rekayasa

Baik dulu, maupun kini, baik di kalangan politisi, strategi, selebiriti, maupun fesyen, tercatat sejumlah tokoh-idola yang berprilaku gay (sodomi, homo, lesbi, biseks). Mereka menghendaki kebebasan hubungan seks seebasnya, tanpa batas, tanpa kendali, tanpa kontrol. Hidup sebagai manusia hewani (manusia kurang ajar). Bahkan tuntutan kebebasan yang sama sekali tak rasional (irrasional) ini, malah gencar di tengah masyarakat yang sering dianggap paling rasional.

Meskipun “Tidak ada tempat di Alkitab bagi semua kegiatan seks di luar nikah”, namun frekuensi free seks (perbuatan kurang ajar) semakin meningkat. Kompleksitas seksual ini

Sering terjadi di lingkungan kewiraan, seperti akademi militer (Tabloid BERITA BUANA MINGGU, 16 Agustus 1998, hal 3), juga di pondok (MATRA, 6 April 1990).

Meskipun pusat-pusat studi agama bermunculan, buku-buku dan jurnal keagamaan diterbitkan secara rutin, namun keyakinan dan praktek keagamaan semakin menipis. Kenapa ? Apa tak ada metode dakwah yang efektif ?

Yang subur adalah “pseudo religion”, “cultic religious”, yang termasuk ke dalam New Religion Movement, agama anak muda, agama rekayasa (KOMPAS, 19 April 1997, hal 4-5, FOKUS, 8 Maret 1994, hal 16, TEMPO, 31 Maret 1973, hal 37).

“Cultic religions” di dunia Muslim bisa muncul dengan kehadiran “Imam Mahdi” (KIBLAT, No.19, 5-20 April 1988, hal 28-34, Tabloid ADIL, No.49, 9-15 September 1998, hal 30). Semua ini semula berpangkal pada doktrin pelepsan diri dari penderitaan (Sangsara, samsara) agar tercapai nirwana (swargaloka kayangan). Dapat mencapai “Tingkat di atas Manusia” (Makhluk Planet, Nirvana) dengan cara meninggalkan wadah (tubuh), mulai dengan menjalani hidup membujang (selibasi) (KOMPAS, Sabtu, 29 Maret 1997, hal 7, Applewhite, Pemimpin Sekte Pintu Surga).

Selanjjutnya dengan sistimatik ilmiyah (pseudo) diupayakan memanipulasi ayat-ayat Kitab Suci untuk dapat fly mencapai swargaloka, untuk dapat mengubar, melampiaskan dorongan biologis (nafsu hewani) sebebasnya. Jadilah sepenuhnya dikendalikan nafsu birahi hewani (kasih sayang hewani, doctrine of love, libe, libido). Di antara tokohnya pernah terkena gangguan jiwa, berbuat sodomi dengan mahasiswanya. Di kalangan komunitas manusia hewan, tak ada norma moral, etika, agama. (Bks 5-2-99).

10 Generasi bebas tanpa batas

Kini muncul Aneka Bebas Gaul (ABG). Generasi cuek, masa bodoh. Bebas nilai. Tanpa norma moral, etika. Tak terikat dengan tatanan nilai. Tanpa bean moral. Tak perlu jujur, konsisten atau konsekwen. Semuanya boleh. Tak ada larangan. Sekali waktu bisa tampil humanis. Anti diskriminasi. Anti facis. Anti militerisme. Lain waktu bisa tampil sadis. Anti suku. Anti agama. Anti ras.Anti golongan. Tak ada halangan. Tak ada kendali. Serba boleh. Dunia yang diimpikan adalah dunia tanpa suku, tanpa agama, tanpa ras, tanpa golongan. Sehingga tidak ada perang antar suku. Tak ada diskriminasi ras. Tidak ada adu domba antar penganut agama. Tak heran bila ada Sang Tokoh yang sangat terpengaruh oleh Filsafat Humanisme, yang menganggap manusia itu semuanya sama secara mutlak, baik Muslim, maupun non-Muslim, namun bukan seorang Humanis yang adil (konsekwen), tapi berpihak pada non-Muslim (Hidayat Nurwahid : SABILI, No.6, 6 September 2000, hal 93)

Pembedaan dikacaukan dengan perbedaan, sehingga menjadi rancu. Kesenangannya adalah berjingkrak-jingkrak. (Kesan tulisan REPUBLIKA, Senin, 29 Maret 1999, hal 5, “Mimpi Generasi Muda ABG”). Sebelum ini subur berkembang “pseudo religion”, “cultic religious” yang termasuk ke dalam New Religion Movement, Agama Anak Muda, Agama Rekayasa. Semua ini semula berpangkal pada doktrin pelepasan diri dari penderitaan (sangsara, samsara) agar dapat mencapai “Tingkat Di atas Manusia” (Makhluk Planet, Nirvana, Swarga Loka Kayangan) dengan cara meninggalkan dan menanggalkan wadah (tubuh), mulai dengan menjalani hidup membujang (Kesan tulisan KOMPAS, Sabtu, 29 Maret 1997, hal 7, Pemimpin Sekte Pintu Surga). Yang satu berupaya memanipulasi tatanan nilai Kitab Suci untuk dapat fly mencapai swargaloka, mengubar dorongan biologis (doctrine of love), yang lain berupaya cuek terhadap tatanan nilai, agar dapat bebas sebebasnya tanpa batas. Na’udzu billahi min dezalik. (Bks 1-4-99).

11 Persepsi tentang kemunkaran

Pada masa-masa awal, Islam merasuk ke sekujur penganutnya. Yang batil dipandang batil dan diupayakan menghindarinya. Yang munkar dipandang munkar dan diupayakan mencegahnya seoptimal mungkin. Namun kondisi masa (zaman) dan tempat (makan) merubah segalanya. “Everything depend on condition time and place” (Soegiarso Soerojo : “Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai”, 1988:394). Persepsi atau sudut pandang tentang yang munkar pun berubah pelan-pelan tapi mantap. Suatu sa’at, yang munkar masih dipandang munkar, tapi tak lagi diupayakan mencegahnya. Lebih lanjut, yang munkar sudah dipandang sebagai yang makruf, tak lagi dipandang munkar. Karena lama dalam kemunkaran, maka hilang daya pembeda antara yang haq dan yang batil. Karena terpuruk jauh dalam kesesatan, maka sampai menyuruh berbuat munkar dan mencegah berbuat baik (Dr Yusuf Qardhawi : “Fatwa-Fatwa Kontemporer”, 1995:I/779).

Dengan berjalannya masa, maka suatu sa’at yang munkar diupayakan melaksanakannya (amar bil munkar). Ada yang memandang yang munkar itu seagai hal yang kasuistik, lokal, sektoral, parsial, oknumisasi, yang tak perlu dirisaukan. Kemunkaran yang secuil tak akan merusak kemunkaran yang melimpah. Pandangan ini dikategorikan seagai pandangan yang positif, optimis.

Sebaliknya ada yang memandang yang munkar itu sebagai hal yang serius, yang tak bisa dibiarkan, yang segera harus dicegah, betapa pun kasuistiknya, lokalnya, sektoralnya, parsialnya, okmunisasinya. Sangat tak layak membiarkan kemunkaran, melecehkan “nahi ‘anil munkar”. Yang munkar harus segera dicegah dengan kekuasaan. Jika tidak, dengan kekuatan lisan. Jika tidak, dengan keteguhan hati. Pandangan ini dikategorikan sebagai pandangan yang negatif, pesimis, ekslusif, sektarian, fundamentalis, konservatif, ortodoks, reksioner, “unaasun yatathahharuun”, dan sitgma lain. (Bks 6-5-99).

12 Berbuat munkar bukan termasuk HAM

Bunuh diri bukanlah hak asasi manusia (HAM). Menyiksa diri juga bukanlah hak asasi manusia. Masyarakat berhak mencegah perbuatan munkar itu. Membunuh orang, atau menyiksa orang, atau menganiaya orang lebih bukan hak asasi manusia. Masyarakat berhak mencegah perbuatan munkar itu. Tampil bugil telanjang bulat, atau tampil mini-seksi-merangsang mengundang nafsu birahi hewani masyarakat pun bukanlah hak asasi manusia. Penampilan dan pergaulan bebas tanpa batas semacam kawanan hewan bukanlah hak asasi manusia, tapi hak asasi hewan. Masyarakat berhak mencegah manusia terjerumus berprilaku hewan. Adalah hak asasi hewan hidup bergaul tanpa rasa malu.

Bila manusia tak lagi punya rasa malu, maka ia sudah jatuh terjerumus ke tingkat derajat hewan. Menjarah atau merusak milik orang bukanlah hak asasi manusia. Menjarah hak sipil atau hak politik orang bukanlah hak asasi manusia. Melakukan provokasi, intimidasi, manipulasi bukanlah hak asasi manusia. Masyarakat berhak mencegah perbuatan-perbuatan munkar itu.

Islam menyeru manusia untuk menjadi manusia seutuhnya, bukan setengah-setengah, setengah manusia setengah hewan, atau homo homini lupus. Menyeru agar memelihara nywa siapa saja, dana tidak merusaknya. Agar memelihara harta siapa saja, dan tidak merusaknya. Agar memelihara nasab keturunan siapa saja, dan tidak merusaknya. Agar memelihara akal-pikiran siapa saja, dan tidak merusaknya. Agar memelihara kehormatan, kemuliaan siapa saja, dan tidak merusaknya. Agar memelihara agama siapa saja, dan tidak merusaknya. Hak asasi manusia merupakan bagian dari etika moral universal (akhlak karimah paripurna), yaitu akhlaq-islamiyah. (Bks 21-3-99).

13 Lembaga Sarana Nahi Munkar

Sangat diharapkan agar Bulletin-Bulletin Dakwah dapat berperan sebagai Media/Sarana Nahi Munkar terhadap orang-orang kantoran, orang-orang pemerintahan dari kalangan bawah sampai kalangan atas. Menyeru untuk meninggalkan budaya minta dilayani, minta uang administrasi, uang lelah, uang rokok, uang pelicin, uang komisi, uang semir. Menyeru untuk meninggalkan budaya penyalahgunaan jabatan/wenang/kekuasaan, main kong-kang-ling-kong. Menyeru untuk meninggalkan budaya agiasi, provokasi, intimidasi, stigmatisasi, labelisasi.

Menjadikan wasiat-wasiat ulama sebagai sumber syarahan. Antara lain seperti “Wasiat Tahir bin Husain kepada anaknya Abdullah bin Tahir, Wali Negeri di Riqqah dan Mesir” (dalam “Lembaga Budi”nya Prof Dr Hamka, hal 38-48), “Wasiat Hasan Basri kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz” (idem, hal 49-51, juga dalam “Detik-Detik Terkahir Kehidupan Rasulullah”nya KH Firdaus AN, hal 101-107), “Surat-Surat al-Ghazali kepada Para Penguasa, Pejabat Negara” oleh Abdul Qaiyum, “Wasiat Sufyan Tsauri kepada Khalifah harun ar-Rasyid”, “Surat-Surat Hasan al-Banna kepada Penguasa”, dan lain-lain. Serta juga menyebarkan stikker yang bermuatan nahi Munkar yang dapat dipajang di atas meja dan di dinding kantoran, pintu masuk, dan lain-lain. (Bks 17-7-99).

1

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: