Antara ideologis dan realitas

Antara ideologis dan realitas

Islam berangkat dari fiqhul aqidah-ideologis, dan bukan berangkat dari fiqhul waqi’-realitas. Dakwah Rasulullah berangkat mulai dengan mengusung mengobarkan nasionalisme Arab. Mungkin ada yang mengatakan : Kalau seandainya Rasulullah melakukan dakwah seperti itu, tentulah seluruh orang Arab akan (berkoalisi) mengikutinya. Setelah ia mengumpulkan kekuasaan di tangannya, barulah ia mempergunakannya untuk menanamkan akidah tauhid.

Dakwah Rasulullah bukan pula berangkat mulai dengan mengusung mewngibarkan sosialisme, mengobarkan pertentangan kelas-status sosial-ekonomi. Mungkin ada yang mengatkan : Kalau seandainya Rasulullah melakukan dakwah seperti itu, tentulah mayoritas masyarakat Arab (dhu’afa, gembel, proletar, marhaen, wongcilik) akan kompak bersatupadu mendukung dakwahnya. Setelah mayoritas orang banyak menyambut dakwahnya dan menjadikannya sebagai pemimpin, barulah ia mempergunakan posisi dan kekuasaannya untuk menanamkan akidah tauhid.

Dakwah Rasulullah juga bukan pula berangkat mulai dengan mengusung seruan reformasi moral, perbaikan budi pekerti, pembersihan masyarakat dan pensucian diri, meskipun Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak paripurna. Mungkin ada yang mengatakan : Kalau seandainya Rasulullah melakukan dakwah seperti itu, tentulah dakwah Rasulullah akan diperkenankan oleh sejumlah orang yang baik, bersih budi pekertinya, yang suci jiwanya, sehingga dakwah Rasulullah tidak menimbulkan oposisi (perlawanan) yang kuat.

Dakwah Rasulullah bukanlah dakwah nasional, atau dakwah sosial, atau dakwah moral. Dakwah Rasulullah berangkat mulai dengan menanamkan akidah tauhid, menyeru manusia mengakui KeTuhanan Yang Maha Esa, mengakui otoritas, kekuasaan, kedaulatan hukum Tuhan Yang Maha Esa (Sayid Qutub : “Petunjuk Jalan”, hal 22-31).

Berangkat dari fiqhul aqidah-ideologis ini, Abul A’la alMaududi menegaskan bahwa “Kami tetap berusaha menciptakan masyarakat Islam, beapapun andainya anda tidak melihat kebobrokan-kebobrokan di depan mata kita” (“Kemerosotan Umat Islam dan Upaya Pembangkitannya”, 1984:3).

Mohammad Natsir mengingtakan peran ideologi. Mengadakan negara yang makmur bisa, tetapi mengadakan negara yang adil tanpa aqidah (ideologi) tidak bisa. Menambah banyaknya produksi bisa saja, untuk meninggikan kesejahteraan bersama antara warga negara itu tergantung kepada pandangan hidup (ideologi) dari pada orang yang membangunnya. Ideologi itu menentukan penggunaan hasil dari program. Satu amal program ditentukan oleh niat (motivasi, ideologi) sebagai titik tolak melakukannya. Beramal dengan niat yang terang, berprogram dan berideologi yang terang (“Membangkitkan Kepercayaan Dsn Kekuatan Diri Sendiri”, bundelan SUARA MASJID 1978). 1

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: