Apa yang harus dipikul generasi kini (Tafaqquh atau tawaqquf)

Apa yang harus dipikul generasi kini

(Tafaqquh atau tawaqquf)

Pada diri shabat-sahabat besar Rasulullah seperti Khalifah Rasyidin yang empat dan lainnya menyatu, mencakup sosok fakih, sosok imam, sosok mujahid. Mereka semua adalah mujahid, sekaligus mujtahid.

Dalam aktivitas berjuang, berjihad fi sabilillah (dengan harta dan nyawa) dalam ayat QS 9:122 Allah memperingatkan agar orang-orang mukmin tidak semuanya berangkat pergi ke medan perang, tetapi sebagiannya berangkat pergi tafaqquh fid din (memperdalam pengetahuan tentang agama) Untuk diajarkan kepada pasukan apabila mereka kembali nanti dari medan perang, sehingga mereka dapat memelihara diri dari kesesatan berfikir.

Setelah berlalu beberapa masa, muncullah masa spesialisasi, masa takhassus. Masing-masing sibuk dengan spesalisasinya. Tak ada lagi mujtahaid yang mujahid, dan mujahid yang mujtahid.

Para salaf shalih, para mufassir, para muhadditisn, para fuqaha sudan bersungguh-sungguh di bidang spesialisasinya, bersusah payah mempelajari, mengkaji, memahami, mendalami Kitabullah dan Sunnah Rasul, sudah menentukan mana yang wajib, sunat, mubah, makruh, haram, halal, bid�ah, khurafat, shahih, hasan, dha�if, shah, bathal, dan lain-lain.

Mereka yang telah menghasilkan, meninggalkan, mewariskan, mempusakakan kaidah-kaidah syar�iyah yang dapat digunakan, dimanfa�atkan, diterapkan, diaplikasikan untuk generasi penerusnya, untuk mengistimbatkan, menemukan hukum bagi suatu kasus baru yang belum terjadi sebelumnya.

Cara yang ditempuh ulama fikih menemukan kaidah-kaidaah ushul dapat disederhanakan demikian : Menela�ah sumber syar�i. Merumuskan kaidah-kaidaha ushul dari sumber syar�iyah. Menyusun ketentuan hukum dengan kaidah-kadah ushul. Memeriksa ketentuan hukum dengan sumber syar�iyah. Merumuskan kembali kaidah-kaidah ushul.

Cara tersebut berkembang, diterapkan pada bidang-bidang lain (politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, ilmu, teknik, militer, dan lain-lain) : Menela�ah syar�iyah. Merumuskan prinsip-prinsip syar�iyah di bidang disiplin tertentu. Menyusun teori atau sistim syar�iyah untuk bidang disiplin tertentu. Memeriksa sistim syar�iyah dengan sumber syar�iyah. Merumuskan kembali kaidah-kaidah umum (prinsip-prinsip syar�iyah).

Langkah metoda ilmiah : Pengumpulan daa atau informasi secara objektif, melakukan penelitian (pengumpulan informasi � penelaahan sumber). Perumusan hipotesis, yaitu suatu proporsi umum yang dapat menerangkan tingkah laku dari berbagai fakta sebagai nilai variable (perumusan hipotess � perumusan kaidah/prinsip). Prediksi atau ramalan (penyusunan teori � perekayasa sistim). Pengujian hipotesa berdasarkan data empiris (perumusan kembali hipotesa berdasarkan perbandingan antara praktek dengan teori – perumusan kaidah/prinsip kembali berdasarkan perbandingan antara fakta dan sistim).

Langkah-langkah pembuatan program algoritma meliputi : Analisis masalah. Desain model. Desail algoritma. Koreksi algoritma. Implementasi. Test program. Analisis & Kompleksitas algoritma. Dokumentasi.

Generasi kini apakah yang juga amasih harus dibebani, diberati, ditaklifi dengan tafaqquh fid din? Ataukah cukup memadai dengan tawaqquf menunggu fatwa penjelasan ahlu adzdzikri? Apakah lagi yang harus dipelajari, dikaji, dipahami, didalami; padahal semuanya sudah dilakukan oleh para salafus shaleh, para mufassir, para muhadditsin, para fuqaha. Bukankah generasi kini hanya tinggal mengamalkan, menerapkan, memprakekkan hasil usaha mereka itu semua, seperti mengaplikasikan kaidah-kaidah syar�iyah yang mereka hasilkan untuk menemukan hukum dari kasus-kasus baru?

Kasus-kasus baru yang merupakan persoalan-persoalan yang alQur:an dan asSunnah tidak menyebutkannya, seperti persoalan yang berkenaan dengan bank, kependudukan, pertelevisian, perfileman, pariwisata, protokoler, perdagangan internasional, dan lain-lain (ALMUSLIMUN, Bangil, No.210, hal 65, �Konsep-Konsep Politik Qur:ani�, oleh Abu A�la Maududi, tafsiran QS 4:59).

Ataukah generasi kini harus digiring untuk saling mengkritisi sesama Islam. Memberikan cap, label, stigma, seperti : intelektual jahil, jahil akan kaidah syar�iat, jahil akan realitas politik, ilmu dan pemikiran serta pemahaman agamanya dangkal, cetek. Ataukah harus digiring untuk bersama-sama mengkritisi musuh Islam?

Gofrey Jansen dengan bukunya �Militan Islam� menggiring umat Islam masuk ke dalam firqah westernisme (Yang hanya memanfa�atkan nama Islam demi kepentingan-kepentingan politik pribadi), atau ke dalam firqah tradisionalis (yang terjun ke gelanggang politik tanpa memahami solusi pemecahan masalah-masalah yang dihadapi oleh dunia modern), atau ke dalam firqah religious awam (yang bukan politisi profesional yang secara serius melakukan pemikiran kembali mengenai penerapan ajaran Islam dalam kehidupan bernegara modern dan secara serius pula berjuang melalui suatu organisasi, seperti Hasan alBanna, Mehdi Bazargan, Abu A�la alMaududi, Mohammad Natsir, dan lain-lain) (SUARA MASJID, No.144, 1 September 1986M, hal 3, Editorial : �Menyambut Abad Kebangkitan Dengan Membiana Ummat�).

Dalam mengkritisi sesama Islam ini, ada yang membakar kitab �Fi Zhilal alQur;an� Sayid Quthb, �Fath alBari� Ibnu Hajar alAsqalani, dan kitab-kitab Imam Nawawi, karena menurut mereka didapati adanya kesalah dalam masalah aqidah. Ada yang menuduh bahwa di dalam kitab �Fi Zhilal alQur:an� Sayid Quthb terdapat aqidah waihdatul wujud (ALMUSLIMUN, Bangil, No.293, hal 25).

Sayid Quthb dipandang telah melakukan pelecehan kepada syar�iat karena ia menjuluki Fiqh Syari�at dengan Fiqh Kertas dalam �Fi Zhilal alQur;an� 4/2006 (ALFURQON, Gresik, Edisi 10, Th III, Jumadil Awal 1425, hal 22). Syaikh Abu Ibrahim Al Adnani menulis kitab �AlQuthbiyyah Hiyal Fitnah� (Kekeliruan Pemikiran Sayid Quthb).

Dalam pandangan Sayyid Quthb, fiqih adalah ciptaan manusia yang terbit dari upaya memahami, menafsirkan dan menerapkan syar�iah di dalam suasana tertentu. Untuk menghadapi permasalahan masa kini, Sayyid Quthb cenderung mengajak kembali secara langsung kepada Syari�at Islam, kepada prinsip-prinsip yang umum dan hukumnya yang global, lalu mencari inspirasi dengan menggali dan menghayatinya untuk menemukan pemecahan cara penerapannya guna menghadapi kesulitan-kesulitan yang dihadapi kini (Sayid Quthb : �Masyarakat Islam�, 1983:38, 45).

Semuanya mengemukakan teori tentang berjuang berjihad menegakkan hukum allah di muka bumi. Ada dengan tashfiyah wa tarbiyah. Ada dengan aksi masa. Ada dengan parlementer konstitusional. Ada dengan kudeta militer. Dan lain-lain (Yusuf Qardhawi : �AlHallul-Islamy�, �Pedoman Ideologi Islam�).

Namun semuanya tak ada yang berhasil, tidak mampu memberikan manfa�at apa-apa terhadap upaya perjuangan penegakkan hukum Allah.

Ataukah semuanya tak prlu membuang-buang waktu dan tenaga untuk menegakkan hukum allah. Biarkan sajalah Allah yang menegakkan hukumNya menurut cara yang dikehendakiNya. Manusia tak perlu ikut campur terlibat. Jika Ia berkehendak (memprogram), mestilah terwujud (QS 5:48, 11:118, 16:93, 76:31, 81:29). (BKS0409101300) 1

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: