Buku “Fiqih Lintas Agama” Menyesatkan

Buku “Fiqih Lintas Agama” Menyesatkan

Para madina bekerjasama dengan The Asian Foundation yang berpusat di Amerika Serikat, beberapa waktu lalu menerbitkan buku “Fiqih Lintas Agama” (FLA). Ditulis oleh Tim Penulis Paramadina, yaitu Nurcholish Madjid, Kautsar Azhari Noer, Komaruddin Hidayat, Masdar F Mas’udi, Zainul Kamal, Zauhari Misrawi, budhy Munawar-Rachman, Ahmad Gaus AF, dan Mun’im A Sirry (Editor). Banyak kalangan menilai buku FLA sangat meresahkan dan menyesatkan pembacaanya.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Komisi Pengakajian dan Pengembangan MUI, telah membentuk Tim untuk meneliti lebih jauh isi buku dimaksud. Berikut isi petikan dari hasil kajiannya yang disampaikan kepada masyarakat luas. Mimbar Istiqamah (Buletin Da’wah Masjid Jami’ AlAzhar Jakapermai Bekasi, edisi 116, 15 Ramadhan 1425H/29 Oktober 2004 Tahun ke 8) merasa perlu menurunkannya dalam rangka membentengi aqidah umat, seperti berikut :

Gambaran umum isi buku

Isi buku dibagi dalam empat bagian. Bagian I, berisi dasar-dasar pijakan teologi. Bagian II, berisi uraian untuk membangun watak sosial Islam yang tidak ekslusif, dengan cara mengucapkan salam kepada non-muslim, mengucapkan selamat natal dan selamat hari raya untuk penganut agama lain, menghadiri perayaan hari-hari besar agama lain, melakukan doa bersama antar agama, dan lain-lain. Bagian III, berisi tentang membangun sinergi agama-agama, menerima kebenaran agama lain, menghilangkan sekat-sekat antara agama/keyakinan dengan membuang norma-norma yang dipandang tidak manusiawi dan tidak pluralis, serta mengembangkan pluralisme agama. Bagian IV, berisi upaya konkrit mengembangkan kerjasama antar agama, dengan membentuk aliansi-aliansi antar agama dalam membangun kebersamaan dan menanggulangi problem sosial.

Hal-hal Yang Meresahkan & Menyesatkan

1. FLA menyebutkan, Al-Qur:an bukan kitab suci atau diragukan kesuciannya, dan dipandang sebagai teks terbuka (h 133-134 dan 174-175).

2. Teks Al-Qur:an yang bertentangan dengan problem kemanusiaan, tidak dapat digunakan (h 175).

3. Tidak boleh mengklaim, bahwa yang benar itu hanya Islam (h 170-171).

4. Buku-buku fiqih klasik tidak sesuai lagi dengan kondisi sosial dan kemanusiaan, tidak kontekstual dan bersifat ekslusif (h Pendahuluan).

5. Karya para ulama klasik sangat diskriminatif, tidak manusiawi, melahirkan ketegangan antar umat beragama, melahirkan kekerasan, berfihak kepada kepentingan dan untuk mengokohkan penguasa (h 168, dll).

6. Untuk menjalin hubungan dan toleransi antar umat beragama, FLA menganjurkan agar umat Islam menghadiri upacara keagamaan dan hari-hari besar agama lain ( 85), mengucapkan selamat natal kepada non-muslim (h 66), dan doa bersama antar umat beragama ( 89).

7. Pernikahan beda agama (muslimah dengan non-muslim) dianjurkan (h 153), hukum terhalangnya hak waris beda aama harus diganti (h 165).

8. Konsep Ahlu Dzimmah dan Jizyah, adalah diskriminatif dan merupakan titik rawan hubunan antara umat beraama (h 145-150).

Penilaian dan sanggahan MUI

Pertama; Penggunaan term “Fiqh” pada buku FLA tidak tepat. Mereka menggunakan istilah fiqih dari sudut pandang ke-bhasa-an. Dalam uraian-uraiannya, FLA seringkali hanya berbegang padaa logika dan pendekatan kemasyarakatan dengan meninggalkan dalil-dalil nash yang kuat (Qur:an dan Hadits), sehingga kesimpulannya menjadi salah. Buku FLA tidak layang diandang sebagai buku fiqih, karena tidak menggunakan metodologi fiqih yang benar.

Kedua; Mencermati pokok-pokok fikiran, uraian-uraian, dan argumentasi yang diajukan FLA, terlihat para penulisnya menggunakan cara berfikir liberal yang tidak terikat oleh nash-nash syara’, apalagi pendapat para ulama klasik maupun modern. Cara berfikir semacam ini tidak layak disebut sebagai pemikiran keagamaan.

Ketiga; Pandangan para penulis FLA terhadap teks Al-Qur:an sebagai teks terbuka dan produk budaya; Al-Qur:an dipandang bukan sebagai kitab suci, dan kebenaran itu bukan hanya milik Islam (kebenaran tunggal), merupakan pandangan para orientalis yang berusaha mengaburkan ajran Islam dengan melemahkan posisi Al-Qur:an sebagai sumber ajaran pertama dan utama. dan ini merupakan bagian dari upaya pendangkalan aqidah umat secara sistematis.

Padahal sebagaimana diketahui, Al-Qur:an adalah wahyu Allah swt yang diturunkan kepada Rasulullah saw melalui malaikat Jibril sebagai pedoman hidup bagi manusia. Tida ada yang ragu. Bahwa Al-Qur:an adalah kitab suci agi umat Islam, seperti halnya umat-umat agama lain mengakui adanya kitab-kitab suci mereka masing-masing. Sangat mengganggu perasaan dan merusak keyakinan umat Islam (penyalin :kecuali umat Islam yang anti Islam), jika kedudukan Al-Qur:an sebagai kitab suci itu diragukan, karena Al-Qur:an adalah benar-benar wahyu Allah swt yang mendapat jaminan-Nya. Allah berfirman, yang artinya;

“Kitab (Al-Qur:an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”. (QS Al-Baqarah 2).

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur;an dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya”. (QS AlHijr 9).

Begitu juga tidak benar, jika AlQur;an dipandang sebagai “teks terbuka’ yang bisa dikritik, diganti, ditinggalkan dan ditafsirkan sesuai selera pembacanya. Karena isi Al-Qur:an mengikat umat Islam dan mengingkari kebenaran isinya dalah kafir. Dalam menafsirkan Al-Qur;an harus menggunakan metodologi penafsiran yang benar, bukan semata-mata menggunakan logika dengan menafssirkan semaunya sendiri. Tentu saja sebaik-baik tafsir adalah Rasulullah, sesuai firman Allah yang artinya;

“Dan Kami menurunkan kepadamu (Muhammad) Al-Qur:an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yangtelah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”. (Qs An-Nahl 44)

Keempat; Pernyataan para penulis FLA, bahwa jika Al-Qur:an bertentangan dengan problem kemanusiaan maka Al-Qur:an tidak dapat digunakan, adalah pernyataan yang menunjukkan belum difahaminya fungsi dan kedudukan Al-Qur:an dengan baik. Al-Qur:an tidak mungkin bertentangan dengan problem kemanusiaan, karena Al-Qur:an justru mengandung banyak tuntunan tentang prinsip-prinsip kemanusiaan yang universal dan dibenarkan oleh Allah swt, serta menjadi mukjizat yang diturunkan untuk menjadi petunjuk dan rahmat bagi alam semesta (QS Al-A’raf 203, Al-Anbiya 107, An-Naml 76-77, dan Ad-Dukhan 1-6).

Kalau ada ayat yang menurut akal manusia belum bisa difahami atau dipandang belum bisa memecahkan problem yang dihadapi manusia, hendaknya kita bertawakkal dan berserah diri sambil berharap kepada-Nya. Sebab, boleh jadi akal fikiran kita yang tendensius dan belum bisa memahami apa maksud, esensi, intisari, atau rahasia yang terkandung pada ayat tersebut,a tau memang hanya Allah saja yang memahami rahasia yang sebenarnya (QS Ali Imran 7) (penyalin : Ahmad Zaki Yamani MCJ LLM menulis buku “Syari’at Islam Yang Abadi Menjawab Tantangan Masa Kini”).

Kelima; Pandangan yang menyatakan tidak boleh mengklaim, Islam adalah ajaran (agama) yang paling benar atau satu-atunya yang benar (kebenaran tunggal) sebagaimana dikemukakan oleh para penulis buku FLA, merupakan pandangan yang menyalahi nash Al-Quran sendiri.

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”. (QS Ali Imran 19).

Alangkah naifnya ajaran Islam bila ayat tersebut diartikan bahwa ajaran Islam bukan satu-satunya kebenaran (penyalin : kecuali bagi umat Islam yang anti Islam).

Keenam; Lontaran isu yang memandang telah terjadi problem huungan antar umat beragama, yang diakibatkan tulisan para ulama klasik dengan mendiskriditkan mereka, khusunya Imam Syafi’i, merupakan tuduhan yang berlebihan, tidak beralasan, dan sulit dibuktikan. Justru uraian-uraian buku FLA yang dapat menimbulkan ketegangan baru, baik pada intern maun antar umat beragama. Buku FLA amat provokatif, sarkatik dan meremehkan para ulama tempo dulu yang karya-karyanya sangat berpengaruh luas.

Pada tataran internal umat, buku FLA akan menimbulkan beberapa hal, antara lain; (1) Keteangan, kegelisahan, dan perdebatan baru pada hal-hal yang sudah jelas hukumnya tanpa menimbulkan problem. Ini hanya akan membuang dan menguras energi secara percuma, padahal masih banyak problem umat yang lebih mendesak dan penting untuk difikirkan dab ditemukan solusinya. (2) Perpecahan dan perselisihan pada intern umat yang justru akan melemakan ukhuwah Islamiyah. (3) Memberi peluang kepada fihak lain untuk menarik keuntungan dari situasi konflik inern umat, dan dari isi buku yang menyesatkan ini untuk kepentingan fiahk lain (non-muslim).

Pada tataran eksternal, dengan uangkapan bahwa Islam sebagaimana dijelaskan oleh para ulama klasik, menurut versi buku FLA, adalah agama kekerasan dan diskriminatif, akan menimbulkan fitnah dan kesalah-fahaman yang merugikan umat Islam. Buku Fla secara tidak langsung memberikan pembenaran terhadap tuduhan terorisme ada dalam fiqih Islam, dan fiqih Islam diyakini sebagai sumber (ajaran) teroris.

Ketujuh; Tawaran dan uraian dalam FLA, berupa perkawinan beda aama, hak waris beda agama, ucapan salam untk non-muslim, ucapan selamat natal, doa bersamaantara pemeluk agama, adalah bertentangan dengan nash Al-Qur:an, hadits shahih, ijma’ ulama, fatwa MUI dan kemaslahatan umat.

a. Anjuran nikah beda agama (muslimah dengan non-muslim) adalah ketetapan hukum yang salah, karena menyalahi Al-Qur:an (QS Al-Mumtahanah 10, Al-Ma:idah 5), menyalahi ijma’ ulama, bertentangan dengan kemaslahatan umat dan UU No.1/1974, pasal b c, KHI Bab VI, pasal 444 : “Seorang wanita Islam dilarang melakukan perkawinan dengan seorang pria yang tidak beragama Islam”.

b. Membolehkan hak waris beda agama, adalah berentangan dengan Hadits Nabi saw (HR Muttafaq ‘alaih dari Usamah ra), dan ijma’ ulama.

c.Anjuran mengucapkan salam kepada non-muslim adalah bertentangan dengan Hadits Nabi saw (HR Muslim dari Abu Hurairah ra).

d. Anjuran mengucapakan selamat natal kepada yang merayakannya dan mengikuti upacara natal adalah bertentangan dengan kandungan ayat-ayat Al-Qur:an (QS Al-Baqarah 42, Al-Ma:Idah 72, 73, 75, 116 dan 118, Al-Kafirun 1-6). Hadits Nabi saw tentang kedudukan perkara yang syubhat, dan fatwa MUI.

e. Anjuran doa bersama antar pemeluk agama, adalah berentangan dengan Al-Qur:an (QS At-Taubah 84, Al-Muafqun 5-6), dan Hadits Nabi saw tentang kedudkan perkara yang syubhat.

Kedelapan; Pemahaman para penulis FLA tentang ahlu dzimmah dan jizyah yang dianggap diskrimiatif dan menomor-duakan non-muslim, adalah keliru karena konsep ini dimaksudkan sebagai perlindngan terhadap kaum minoritas dengan konsekuewnsi membayar jizyah sebagai kompensasi atas jaminan keamanan dan perlindungan terhadap jiwa mereka (penyalin : ahlu dzimmah tak dikenai kewajiban bela negara). Dasar dan konsep ini QS At-Taubah 29, dan beberapa Hadits shahih riwayatal-Bukhari dan at-Tirmidzi. konsep ahlu dzimmah dan jizyah merupakan konsep keseimbangan antara kewaiban dn hak bagi kaum minoritas di negara Islam, bukan tekanan dari sikap diskriminatif dari penguasa muslim. Oleh karena itu tidak benar jika konsep ini dipandang sebagai titik awan hubungan antar umat beragama.

(Komisi Pengkajian dan Pengembangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat)

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: