Daulah antara Tujuan dan Sarana

Daulah antara Tujuan dan Sarana

Jama’ah dakwah kontemporer disebutkan oleh Salafiyanisme (pengaku pengikut Salafus Shaleh) sebagai jama’ah dakwah yang tidak mengikuti manhaj dakwah para rasul, yang mengkonsentrasikan dakwahnya untuk mendirikan Khilafah Islamiyah (Negara Islam), seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, NII dan yang sejalan dengan mereka.

Abdul Hakim bin amir Abdatdalam “Risalah Bid’ah”nya mendaftar sejumlah harakah Ahlul Hawa wal Bid’ah (aliran sesat menyesatkan), antara lain termasuk di dalamnya Ikhwanul Muslimin, hizbut Tahrir, NII. Semua firqah harakah (ormas, orpol, negara) yang berupaya menegakkan daulah Islamiyah dengan menempuh cara parlementer-konstitusional (jalur demokrasi, pemilu, parlemen) yang tidak mensyaratkan khalifah dari Quraisy, yang membai’at (tunduk patuh pada) khalifah (imam, amir, pimpinan) yang bukan dari Quraisy – menurut Abdul Hakim – adalah termasuk ke dalam firqah harakah Ahlul mHawa wal Bid’ah, yang menempuh jalur thagut, yang menyimpang, menyelisihi sunnah-perjalanan Rasulullah saw beserta para sahabatnya dalam manhajnya (metodenya, caranya), ilmunya (tekniknya), dakwahnya (strateginya). Juga berakidah tauhid hakimiyah di samping tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah/ubudiyah. Karena firqah harakah Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu – dalam pandangan Abdul Hakim – adalah membai’ah khalifah yang dari Quraisy untuk seluruh kaum Muslim apabila telah tegak daulah Islamiyah.

Bukti kongkrit bahwa jama’ah dakwah kontemprorer tidak mengikuti manhaj dakwah para rasul disebutkan adalah realita berakhir dengan kesia-siaan. Padahal, sesudah melakukan dakwah secara diam-diam, kemudian secara teang-terangan, namun Nabi Nuh as juga tidak berhasil (catatan kaki no.1519 dalam “AlQur:an dan Terjemahnya” dari ayat QS 71:5-9).

Dakwah para rasul aalah menghimbau, menyeru, mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah, tunduk patuh hanya kepada Allah saja, “sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selainNya”. Dakwah Tauhid ini disampaikan Nabi Ibrahim kepada penguasa Namruz dan rakyatnya, disampaikan Nabi Musa kepada pengausa Fir’aun dan rakyatnya, disampaikan nabi Muhammad kepada pemuka musyrikin Quraisy dan pengikutnya, serta kepada para penguasa di sekitar Madinah.

Sayyid Qutub (dari Ikhwanul Muslimin) dalam ‘Petunjuk Jalan”nya memandang bahwa “orang Arab itu mengetahui bahwa uluhiyah (ketuhanan) itu berarti hakimiyah (penguasa) yang tertinggi. Mereka mengerti bahwa mentauhidkan ketuhanan dan menyatukan Allah itu dengan tauhid berarti melucuti kekuasaan yang dipergunakan oleh pemuka agama, ketua suku, pangeran dan penguasa, dan mengembalikan semuanya kepada Allah”. Namun ini di kalangan Salafiyanisme merupakan “syubhat yang dihembuskan ke dalam tubuh kaum muslim untuk melariskan dakwah mereka”. Juga kaedah “maa laa yutimma illaa bihi fa hua wajib” dinyatakan tidak mesti demikian, seperti yang diungkapkan oleh Ibnul Qaiyim dalaam “madarijus Salikin”.

Di kalangan fiqih telah sepakat umat Muslimin (ijma’ mu’tabar), bahwa hukum mendirikan Khilafah itu adalah “fardhu kifayah” atas semua umat Muslimin. Salafiyanisme tidak memungkiri bahwa penegakkan khilafah tersebut bagian syari’at Islam sebagai sarana dan bukan sebagai tujuan. bila individu-individu muslim kommitmen dengan syari’at Islam secara menyeluruh, niscaya daulah Islam akan terwujud (ALFURQON, Gresik, Edisi 12, Th.III, Rajab 1425, Muqadimah, Manhaj). Bila individu-individu muslim sudah kommitmen menjalankan syari’at Islam, maka sebenarnya tak perlu lagi sarana untuk menegakkan syari’at Islam itu.

Allah menyatakan “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwah, pastilah Kami akan limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS 77:96), dan “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka” (QS 13:11). Dari ayat-ayat tersebut bisa dipahami bahwa bila telah berupaya memperbaiki akidah (IMTAQ), maka akan memperoleh perbaikan sosial ekonomi (IPTEK) berupa berkah dari langit dan bumi. Namun dari ayat-ayat lain, ‘memperbaiki akidah” itu haruslah dipahami dalam pengertian luas, termasuk di dalamnya memperbaiki sistim sosial ekonomi. Perbaikan sisitim sosial ekonomi itu dalam Qur:an antara lain berupa “Menyempurnakan takaran dan timbangan, tidak merugikan orang, tidak membuat onar” (Simak dawakh Nabi Syu’aib, antara lain dalam QS 7:85, 26:181-183).

Abu A’la alMaududi (dari Jami’at Islami Pakistan) dalam “Sejarah Pembaruan dan Pembangunan kembali Alam Pikiran Agama” mengemukakan bahwa pemerintah yang harus ditegaakkan di dalam agama Allah di dunia ini serta pengembangannya, betul-betul dituntut oleh syari’at Ilahi dan wajib diperjuangkan. Pemerintah itu bukan sebagai suatu hadiah, tanpa adanya kewajiban atau tugas yang perlu dilaksanakan. Tanpa ada kehendak pemerintah sia-sia mempergunakan teori apa saja, tidak ada artinya konstitusi halal, haram dan tassyri’. Tujuan risalah Nabi masih tetap tidak keluar dari semata-mata menegakkan pemerintahan Islam di dunia ini dan melestarikan undang-undang kehidupan manusia yang sempurna yang datang dari Allah. Para Nabi dan Rasul selalu berusaha untuk mengadakan suatu pergolakan politik pada masing-masing daerahnya, sebagian mereka ada yang hanya cukup menyediakan jalan dan persiapn yang harus dilakukan seperti Nabi Ibrahim as, dan ada pula yang langsung bertindak dengan suatu pergolakan hanya saja risalahnya berakhir sebelum egaknya pemerintahan ilahiah, eperti Nabi Isa as. Dan sebagian pula yang langsung dihadapkan kepada suatu pergerakan yang berakhir dengan kemenangan dan kesuksesan seperti nabi Musa as dan Nabi Muhammad saw.

(BKS0411051000)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: