Dendam Sejarah

Dendam Sejarah

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka” (Qs 2:120).

Dari sudut pandang sejarah, Yahudi dan Nasrani atau Barat (Eropa, Amerika, Rusia) amat sangat sulit untuk mau secara sukarela menganut agama Islam, menerima kebenaran Islam. Barat (Yahudi dan Nasrani) memendam dendam sejarah terhadap Islam.

Dendam sejarah Barat terhadap Islam ini bermula, berawal dari dendam terhadap sosok Muhammad Rasulullah. Ayat QS 2:120 melukiskan betapa dendamnya Yahudi dan Nasrani terhadap sosok Muhammad Rasulullah. Karena melanggar perjanjian yang sudah dibuat Rasulullah dengan maksud mengkhianati Rasulullah, maka Yahudi Bani Nadhir diusir, dikeluarkan Rasulullah dari Madinah. Setelah itu juga Yahudi Bani Quraizhah, karena mereka melanggar perjanjian, menghasut pihak Quraisy dan Ghatfan memerangi Rasulullah (Muhammad Husein Haekal : ‘Sejarah Hidup Muhammad”, 1984:344, 393).

Rasulullah menegaskan “Pasti aku keluarkan Yaahudi dan nasrani dari Jazirah Arab, maka tidak aku tinggalkan kecuali orang Muslim” (HR Muslim dari Ibnu Umar). Dalam riwayat lain ada tambahan “Keluarkanlah orang musyrikin dari Jazirah Arab”. Dalam riwayat Ibnu Syihab (AzZhuhri), Rasulullah menegaskan “Tidak berkumpul dua agama di Jazirah Arab” (Prof Dr Hamka : “Tafsir Al-Azhar”, X, 1983:161-162, tentang tafsir ayat QS 9:29).

Yaahudi Bani Nadhir diusir, dikeluarkan dari perkampungan mereka yang terletak di pinggiran kota Madinan. Sebagian besar dari mereka berangkat ke negeri Syam (Syria), menetap di negeri Ariiha dan Adzru’aat. Kemudian pengusiran di aman Umar bin Khaththab. Segala Yahudi yang tinggal di Jazirah Arab harus meninggalkannya. Mereka berpindah ke Syam (Syria). Umar memutuskan bahwa di jantung Jazirah Arab tidak boleh berkumpul dua agama lagi untuk selama-lamanya (Prof dr Hamka : “Tafsir Al-Ahar’, XXVIII, 1982:68, tentang tafsir QS 59:2).

Bukhari, Muslim meriwayatkan dari Abi Hurairah, bahwa Rasulullah juga mendatangi tempat pengajian (baitul midras) Yaahudi), menyeru mereka agar masuk Islam supaya mereka selamat. Dan dari Ibnu Umar, bahwa Yahudi Bani Nadhir elah memerangi Rasulullah, lalu Rasulullah mengusir mereka. Kemudian Yahudi Bani Quraizhah, karena mereka juga memerangi Rasulullah. Akhirnya Rasulullah mengusir semua Yahudi di kota Madinah, termasuk Yahudi Bani Qainuqa, Yahudi Bani Haritsah (“Al_Lukluk wal Marjan”, hadits 1153-1154).

Tanpa memperhatikan latar belakang pengusiran Yahudi dari Madinah yang mengkhianati, memerangi Rasulullah, memang mudah menarik kesimpulan bahwa Islam itu amat diskriminatif. Tapi, bila dicermati baik-baik, maka tak masuk akal (tak logis) untuk memperlakukan pengkhianat sama kedudukannya dengan yang dikhianati.

Penylut Perang Salib antara lain siakp, prlakuan yang tak Islami dari penguasa Bani Seljuk Turki terhadap para peziarah yang datang ke Yerusalem. para penguasa Bani Seljuk Turki ketika itu belum memiliki akhlak Islami dalam memperlakukan orang-orang yang bukan Islam. Akiatnya kebencian, dendam barat (Nasrani) semakin membara. “Semua tanah suci Yerusalem di bawah pemerintahan Bani Seljuk tahun 1076, kemerdekaan menziarahinya agi kaum Kristen tidak ada lagi, dihapuskan selamanya” (Moehammad Moe’in : “Sejarah Pepeangan Salib”, 1936:8, “Hal-hal yang Mendorongkan Kaum Kristen Kedalam Peperangan’).

Meskipun berabad-aad barat menjajah negeri-negeri Islam, namun tak seoangpun orang Barat yang tertarik masuk Islam dalam kontak dengan orang Islam. Tiga ratus lima puluh tahun Belandaa menjajah Indonesia, namun tak dalam kontak dengan orang Islam, tak seorangpun orang Belanda yang tertarik masuk Islam. Berabad-abad Islam di spanyol, namun tak seorangpun tersisa orang Islam di Spanyol. Peristiwa sejarah ini memperlihatkan betapa dendam sejarah ini berlangsung sepanjang masa.

Pengikut Hindu, Budha di Badui, tengger, Bali, Toraja dan lain-lain amat sangat dendam terhadap Islam. Mereka berada di tempat mereka sekarang adalah dalam rangka menyelamatkan diri dan kepercayaan mereka dari Islam. Dendam sejarah ini sangat menghambat, merintangi jalur dakwah Islam. barangkali dengan kekuatan keseriusan yang lemah lembut dapat mencairkan dendam sejarah itu secara bertahap, secara berangsur-angsur. Sejarah memperlihatkan bahwa Islam tak berhasil menembus pertahanan mereka. Mereka tetap saja dengan kepercayaan Hindu, Budha.

Sungguh sangat mengagumkan, perkembangan Islam di Nusantara sedemikian pesat. Jumlah penganut Islam di Nusantara dewasa ini lebih dari dua ratus juta jiwa, melebihi jumlah pemeluk Islam di seluruh Timur Tengah. Padahal Islam masuk ke Nusantara tanpa terkoordinir, tanpa terorganisir, tanpa dukungan politik, ekonomi, militer, tanpa dukungan badan, lembaga, sarana, dana. Hanya saja ketika itu Nusantara belum punya dendam sejarah terhadap Islam.

Aksi-aksi yang dalam pandangan Barat dikateggorikan, diklasifikasikan sebagai tindakan teroris, akan semakin menyalakan, mengobarkan api dendam sejarah Barat terhadap Islam. Barat tak akan pernah senang diam, sebelum umat Islam mau berada di bawah kendali politik, ekonomi, sosial, budaya mereka.

Dendam sejarah yang menyala-nyala itulah yang melahirkan konflik, benturan antara Barat dan Islam. “Interaksi yang telah berabad-abad usianya antaraa Barat dan Islam – kata Samuel Huntington, penulis “The Clash of Civilization” – tidak akan reda dengan mudah begitu saja. Bahkan barangkali justru semakin parah” (Musthafa Muhammad Thahhan : “Rekonsruksi Pemikiran menuju Gerakan Islam Modern”, 2000:204).

Ada berbagai macam teori tentang pertarungan. Karl Marx dalam “Das Kapital”nya mengintrodusir “Pertarungan antara Kelas Proletar dan Kelas Borjuis” yang berakar pada perbedaan status sosial ekonomi. Samuel Huntington dengan “The Clash of civilization” memperkenalkan “Pertarungan antara Islam dan Barat”. Amy Chua dalaam “World on Fire : How Exporting Free Market Democracy Breeds Ethnic Hartred and Global Instability”nya memperkenalkan “Pertarungan antara Market-dominant minorities (kelompok konglomerat minoritas) dan kelompok melarat mayoritas”. Rosihan Anwar dalam GELANGGANG memperkenalkan “Pertarungan antara Santri-Orthodoks dengan Priyayi-Abangan-Sinkretis”.

Dipertanyakan : Mengapa pihak mayoritas mempertahankan “sistem ekonomi pasar” yang merugikan dirinya? Dan mengapa pihak minoritas setuju dengan sistem demokrasi” yang tidak menguntungkannya?

(BKS0411021500)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: