Kerusakan struktural

Kerusakan struktural

Islam menyeru agar membuat kebaikan dan tidak membuat kerusakan. Menyebarkan jasa, melakukan aktivitas sosial untuk meraih keuntungan ukhrawi (social profit oriented). Melakukan aktivitas individual untuk meraih keuntungan duniawi (individual profit oriented). “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) neeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi (QS 28:77).

Membuat kerusakan (anarkis, makar, onar, kaos) di muka dikategorikan sama dengan membunuh seorang manusia tanpa hak (secara bathil), berarti juga sama dengan membantai semua manusia. “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain (sebagai qishash), atau bukan akrena membuat kerusakan di muka bumi (anarkis), maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara manusia semuanya” (QS 5:32).

Islam mengajarkan agar tidak membuat kerusakan, melakukan kebinasaan. Para Rasul mengingatkan ummatnya agar jangan membuat kerusakan di muka bumi (QS 7:74, 11:85, 26:183, 29:36, 2:60). Aktivitas membuat kerusakan ini semakin marak pada akhir-akhir ini. Membuat kerusakan di semua bidang, di semua lapangan kehidupan. Kerusakan akhlak (dekadensi moral). Batas antara yang baik dan yang buruk sudah sangat kabur. Keruskan tatanan budaya (kultural). Kerusakan tatanan ekonomi. Kerusakan tatanan politik. Kerusakan tatanan hukum. Dan lain-lain. Semuanya berpangkal pada tidak lagi menilai sesuatu dari sudut halal-harama, sudah memelintir yang haram menjadi halal (serba boleh, epikurisme, hedonisme, sekularisme). Biangnya adalah sikap mental yang berorientasi pada materi, yang bukan berorientasi pada ilahi.

Kerusakan itu ada yang bersifat kerusakan struktural, kerusakan yang disengaja,kerusakan yang direkayasa. Kerusakan struktural ini umumnya merupakan kerusakan yang samar, kerusakan yang tak disadari, kerusakan yang tidak dirasakan. “Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar”. Kerusakan akidah, kerusakan ideologi tidaklah disadari. Sistem sekluer adalah sistem yang rusak. Kerusakan sistem sekuler itu tidaklah disadari, tidaklah dirasakan. Pola pikir sekluer adalah pola pikir yang rusak. Kerusakan pola pikir sekluer itu tidaklah disadari, tidaklah dirasakan.

Sistem sekuler, pola pikir sekuler adalah sistem, pola pikir yang berwawasan hanya pada kenikmatan, keleztan, kesenangan di dunia semata (epikurisme, hedonisme, vitalisme), pada keuntungan diri pribadi (egoisme, individualisme, individual profit oriented), bukan berwawasan pada kenikmatan, kelezatan, kesenangan di dunia dan di akhirat, bukan pada keuntungan bersama sesama (altruisme, collectivisme, social profit oriented). Tidap percaya pada Allah (atheisme). Tidap percaya pada Hari Akhirat , pada Hari Berbangkit (naturalisme). Anti terhadap norma-norma akhlak (nihilisme, anarkhisme, hewanisme). Rakus, tamak pada kemewahan dunia (materialisme) (QS 10:7-8, 47:12).

Kerusakan pola pikir amat sangat tidak disadari, tidak dirasakan. Pola pikir bahwa kemajuan ekonomi nasional, kesejahteraan, kemakmuran bangsa hanya dapat diwujudkan dengan membuka investasi di dalam negeri bagi para investor asing. Tanpa investor asing, maka pengangguran akan membengkak, ekonomi mengalami krisis, diterima sebagai kebenaran. Tidak dirasakan bahwa pola pikir demikian adalah pola pikir yang rusak. Patokannya asal bisa makan, biarlah selamanya jadi budak investor. Nenek moyang bangsa Isrel yang dibebaskan Nabi Musa as dari penindasan Fir’aun di Mesir lebih suka jadi budak bangsa Mesir dari pada bebas merdeka, asalkan kebutuhan hidupnya terpenuhi (Simak antara lain “Tafsir Al-Azhar”, oleh Prof Dr Hamka, juzuk I, 1981:270, tafsiran QS 2:61).

Tayangan, iklan yang menjadikan agama sebagai komoditi bisnis, sebagai konsumsi hedonisme, sebagi bahan lawakan, sebagai bahan lelucon, dianggap sebagai hal yang wajar. Promosi pergantian agama dari Islam ke bukan Islam, promosi legalisasi pernikahan sejenis (gay) dan yang semacam itu disebarkan secara luas melalui media baik cetak maupun elektronik. Tidak disadari, tidak dirasakan sebagai hal yang rusak. “Dan tingalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan sendagurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia” QS 6:70). Agama digunakan sesuai sikap untuk kesenangan dunaiwi tanpa mempedulikan halal dan haram.Allah mengingatkan agar “janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang mebuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, yaitu di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-ong yang kafir” (QS 5:57). (H Mawari Noor : “Memilih Pemimpin”, Publicitia, Dajakrta, 1971:13-14).

1

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: