Mengusung Islam

Mengusung Islam

Sekitar tahun 1935-1939 berlangsung pertukaran pikiran yang hangat-semarak di kalangan cendekiawan pemikir Indonesia. Himpunan (koleksi) pertukaran pikiran itu diterbitkan Balai Pustaka Djakarta tahun 1948 di bawah judul “Polemik Kebudayaan” dengan Kata Pengantar oleh Achdiat K Mihardja.

Pertukaran pikiran-bijak tersebut berawal dari karangan Sutan Takdir Alisyahbana yang berkepala “Menuju Masyarakat Dan Kebudayaan Baru”. Dalam karangannya yang berkepala “Synthesa Antara Barat Dan Timur”, tersimpul pokok pikiran Sutan Takdir Alisyahbana, yang secara tegas mengemukakan bahwa “Bangsa kita harus mengambil Islam yang nuchter” (dinamis, aktif, berkobar, bergelora, menyala), atau dengan mengambil levenshouding Barat” (“Polemik Kebudayaan”, 1948:100). Wajah dunia kebudayaan Barat-Eropah terdiri dari peradaban Yunani-Rum (Helenisme Romawi), agama Kristen-Nasrani, dan Sains Modern (Simak antara lain Dr RF Beerling : “Pertumbuhan Dunia Modern”, Jilid I, hal 21, Drs Tugiyono ks : “IPS Sejarah untuk SMP”, 2B, hal 170, Prof Dr Hamka : “Tafsir Al-Azhar”, jilid X, hal 198).

Sepanjang pertukaran pikiran berlangsung, Sutan Takdir Alisyahbana hanya mengusung “Westernisme” (intelectualisme, individualisme, egoisme, materialisme), dan tak pernah berbicara tentang Islam.

Dalam karangannya yang berkepala “Semboyan Jang Tegas”, Sutan Takdir Alisyahbana menegaskan bahwa “Indonesia sekarang perlu akan putera jang tajam pikirannja, mindividu jang mempunjai pikiran, pemandangan dan peerasaan sendiri, jang tahu mengemukakan dan mempertahankan kepentingan dan haknya jang senantiasa berdaja upaja memperbaiki kehidupan dan penghidupannja lahir batin” (“Polemik Kebudayaan”, 1948:40). Dengan susunan kata lain, dalam karangannya yang berkepala “Pekerdjaan Pembangunan Bangsa”, Sutan Takdir Alisyahbana menegaskan “tjara bekerdjanya tidak lain daripada mendidik manusia baru, mendidikj djiwa baru, jang satu tjabang daripada kebudajaan internasional sekarang jang memakai tiang-tiang agung rationalisme, individualisme dan positivisme, atau dengan pendek : “he moderne denken” (Masyarakat Indonesia Berpola Pikir Modern) (“Polemik Kebudayaan”, 1948:136).

Dalam hubungan “Masyasrakat Indonesia Berpola Pikir Modern”, Mohammad Natsir pernah berbicara, membahas hal-hal yang perludimiliki orang modern seperti diungkapkan oleh Professor Alex Inkeles dari Universitas Harvard dalam bukunya mengenai “Modernisasi dari Manusia” (The Modernization of Man). Disebutkan bahwa ciri kemodern antara lain adalah : terbuka menerima pembaruan dan perubahan, tidak anti kemajuan, menghendaki masa kini lebih baik dari masa lalu, tanggap terhadap sikon, demokratis, berorientasi ke depan, provesional, berwawasan program, menguasai alama, menghargai manusia, sains-teknologi, keadilan (“Apakah Pesan Islam Terhadap Orang Modern”, PANJI MASYARAKAT, No.197-199, April/Mai 1976).

Dr M Amir yang juga ikut serta dalam pertukaran pikiran itu, dalam karangannya yang berkepala “Pertukaran Dan Pertikaian Pikiran” mempertanyakan ” Apakah betul �.. Islamietische leven founding (sikap hidup Islami) dapat dipergunakan sebagai obat mudjarrab, sebagai therapia sterilisans magna (resep-terapi-akbar) ?” (“Polemik Kebudayaan”, 1948:106). Dr M Amir dan semua yang ikut serta dalam prtukaran pikiran tak pernah membahas, memperbincangkan, memperdebatkan Islam sebagai “Jalan Lurus” satu-satunya menuju terwujudnya “Indonesia Merdeka”, sebagai resep-terapi-obat mujarab utama.

Sedangkan M Natsir waktu itu tak ikut serta dalam pertukaran pikiran tersebut. M Natsir pernah bertukar pikiran dengan Soekarno, dengan mengusung Islam sebagai atu-atunya “Dasar Indonesia Merdeka”, sedangkan lawan-debatnya, Sukarno mengusung Nasionalisme. M Natsir kuang atau bahkan tak mendapat dukungan dari kalangan sendiri. Daru dulu sampai kini pendukung paham Nasionalisme – Priyai-Abangan – lebih mendominasi daripada pendukung paham Islam – Mutihan-Santri – di seluruh Nusantara (Simak antara lain H Rosihan Anwar : “Santri Dan Abangan”, dalam GELANGGANG Sastra, Seni Dan Pemikiran”, No.1, Desember 1966, hal 54). Dakwah Islam Mutihan-Santri tak menyentuh, tak menarik Nasionalisme Priyayi-Abangan. Akibatnya posisi-kedudukan Nasionalisme Pryayi-Abangan-Sinkretisme lebih dominan daripaa Islam Mutihan-Santri-Orthodoks.

Pemikiran M Natsir sebelum Kemerdekaan dinilai – sementra kalangan – kaku (tegas ?) dan brsifat apologis (PEMBELA ISLAM ?) bersifat agak bringas (argumentatif-konfronatif-radikalis ?) (Simak PELITA, 16 Oktober 1983 : “Dicari Perumus Ide di Kalangan Islam”). Setelah Kemerdekaan – sebelum Konstituante – M Natsir lebih bersemangat membela Pancasila, namun kemudian pada sidang Konstituante Bandung 1957, M Natsir berbalik menentang Pancasila ( Simak KH Firdaus AN : “Dosa-Dosa Yang Tak Boleh Berulang Lagi, 1992:84, M Natsir : “Bertentangankah Pancasila dengan alQur:an”, “Apakah Pancasila bertentangan dengan alQur:an”, HIKMAH, 9-21 Mei 1954, SABILI, No.26, Th VII, 14 Januari 2000, hal 76).

Nasionalisme-Marhaenisme Soekarno mendapat dukungan lebih banyak (Simak antara lain Rosihan Anwar : “Santri Dan Abangan”, GELANGGANG, No.1). “Nasionalisme-Marhaenisme”, atau sinkretisme “Nasionlisme, Islamisme, dan Marxisme” (1926) kemudian menjelma menjadi yang disebut dengan “Pancasila” (Simak antara lain Soegiono Soerojo : “Sipa Menabur Angin Akan Menuai Badai”, `1988). Sekedar pemanis-basabasi, dalam pidatonya “Lahirnya Pantjasila” (1 Djuni 1945), Soekarno berseru agar bekerdja sehebat-hebatnja, sekeras-kerasnja, supaya hukum-hukum jang keluar dari Badab Perwakilan Rakyat, adalah hukum Islam. Juga pernah berseru agar “Menemukan Kembali Api Islam” dalam pidato peneriman gelar Doctor Honoris Causa tanggal 2 Desember 1964. Dan juga sangat mengagumi ” The Spirit of Islam” (Api Islam)nya Syed Ameer Ali. Dalam karangannya “Islam Dan Modernisme” (1982:85-94), Maryam Jameelah mengomentari (mengkritik) “The Spirit of Islam”nya Syed Amer Ali. Robert Gullick Jr juga menggunakan “The Spirit of Islam”nya Syed Ameer Ali sebagai referensi, rujukan bukunya “Muhammad The Educator” (1969 : Chapters 3 : Contributions pf Islamic Civilisation To World Culture)./ Namun dalam hubungan “Api Islam” ini, Soekarno tetap saja Soekarno, tetap saja lebih menyenangi, menyukai, mencintai Nasionalisme-Marhaenisme daripada menyenangi, menyukai, mencintai Islam.

Termasuk kedalam spirit, semangat Islam, diantaranya adalah sikap mental terpuji (akhlak mahmudah), seperti : Bekerja keras, Berorientasi ke depan, Berorintasi prestasi, Mandiri, Disiplin. “Seseorang tidak makan suatu makanan sama sekali yang lebih baik daripada memakan dari hasil kerja sendiri” (HR Bukhari dari Miqdad bin Ma’dikarib).

Dalam kajian-analisanya, Sayid Qutub sampai pada kesimpulan, keyakinan bahwa “zaman jayanya kilit putih telah berakhir, karena peradaban Barat tidak lagi apat melahirkan sesuatu yang baru di lapangan ide dan pemikiran yang tinggi nilainya” (“Masyarakast Islam”, 1983:15. Simak juga Abul A’la alMaududi : “Metode Revolusi Islam”, 1983:20-21, Prof Dr F Beerling : Pertumbuhan Dunia Modern”, Djilid 1, hal 14). Sayid Qutub juga mengusung “Hari Esok untuk Islam”.

Setelah mengkaji “Kemerosotan Umat Islam” di Pakistan-India secara mendalam dan kritis, akhirnya Abul A’a al Maududi sampai pada kesimpulan bahwa “Upaya Pembangkitan Umat Islam” hanyalah engan kembali kepada Islam. Maududi berkata “Kami akan tetap beruaha menciptakan masyarakat Islam, betapapun andainya anda tidak melihat adanya kebobrokan-kebobrokan di depan mata kita” (“Kemerosotan Umat Islam dan Upaya Pembangkitannya”, 1984:3. Simak juga Hamka dalam PANJI MASYARAKA, No.225, 15 Juni 1977, hal 7).

Setelah mengkaji “Pertarungan antara Alam Fikiran Islam dengan Alam Fikiran Barat di Negara-Negara Islam”, Abul Hasan Ali al Husin an Nadwi menemukan tiga macam sikap dalam menyikapi Westernisme-Modernisme. Pertama, yang bersikap negatif, yang menolak Peradaban Barat secara mutlak keseluruhan. Kedua, yang bersikap akomodatif, yang menerima Peradaban Barat secara keseluruhan. Ketiga, yang bersikap selektif, yang menrima Peraaban Barat secara kritis.

Yang memotivasi, mendorong, menggerakkan manusia berbuat sesuatu adalah sikap mental, sikap hidup, pola pikirnya. Hasil perbuatan manusia itu disebut kebudayaan, peradaban, berupa sains, teknologi, ekonomi, sosial, bahasa dan seni, serta religi (agama ciptaan manusia) ( Simak AMW Pranarka, dalam Prof Dr HM Rasyidi : “Strategi Kebudayaan Dan Pembaruan Pendidikan Nasional, 1979:10. Juga TM Usman ElMuhammady : “Islamologie”, hal 5, Sei H Datuk Tombak Alam : “Kunci Sukses & Penerangan Dan Dakwah”, hal 76-77).

Selanjutnya kebudayaan, peradaban (kultur, sivilisasi) yang membentuk, melahirkan sikap mental, sikap hidup, pola pikir yang baru. Proses tersebut berlangsung terus menerus membentuk spiral tanpa ujung, saling membentuk, menghasilkan yang baru.

Sikap mental yang positif-aktif-dinamis dapat diperoleh, dibangkitkan melalui pendidikan melakukan kegiatan yang kompetitif-individuil (musabaqah fil khairat), baik namanya perlombaan, pertarungan, pertempuran, persaingan yang sehat di segala bidang. (Sampai kini belum ada yang melakukan survey-penelitian mengenai hubungan kesuksesan seseorang dengan kegemarannya melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat kompetitif-individuil). Disamping itu, sikap mental yang positif-aktif-dinamis dapat juga tumbuh dari ruh jihad, semangat juang.

Islam mendidik umatnya memiliki ruh jihad, semangat juang, melakukan kegiatan-kegiatan yang kompetitif-individuil, seperti menggunakan senjata perang, memanah, berebabg, menunggang kuda, berlari, ad cepat dan lain-lain (Simak antara lain Prof Dr Omar Mohammad atTommy alSyaibany : “Falsafah Pendidikan Islam”, 1984:488, 490,503-505).

Islam mengajak, menyeru kepada yang positif-makruf dan menjauhi, menghindari yang negatif-munkar. Individualis yang sosialis menurut Islam adalah positif-makruf. Juga sosialis yang individualis menurut Islam aalah positif-makruf (Simak antara lain QS 28:76-77 yang memberikan pendidikan sikap mental yang tidak hanya berorientasi pada kepntingan pribadi semata, juga punya sikap mental yang berorientasi kepentingan bersama).

Satu-satunya “Jalan Lurus” menuju mewujudkan “Indonesia Adil Makmur” adalah dengan “Menghidupkan Api Islam” (The Spirit of Islam), memberikan pendidikan yang dapat menumbuhkan “ruh Tauhid” (semangat khasyyah, yang takut kepada Allah, seperti dapat disimak antara lain pada QS 8:2, 50:33), serta “ruh Jihad” (semangat yang berani menegakkan keadilan dan kebenaran, berani menyingkirkan kemunkaran, seperti dapat disimak antara lain pada QS 16:90).

Dr Raden Sutomo alam karangannya “Perbedaan Leven Visie” melukiskan sistim masyarakat Nusantara (Jawa) masa lalu seperti demikian : “Sebelumnya agama Islam datang di negeri ini masjarakat kita di pulau Djawa sudah amat rusak keadannja. Zaman Hajam Wuruk dan Gadjah Madha sudah lampau. Sedang di waktu itu dunia adalah dalam keadaan terpecah belah, penuh ketegangan, perkelahian dan peperangan antara kita sama kita” (“Polemik Kebudayaan”, 1948:74). 1

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: