Perlawanan terhadap Islam

Perlawanan terhadap Islam

Dari dulu sampai kini, bahkan sampai nanti, bentuk perlawanan terhadap Islam dan umat Islam tetap saja sama, tidak berubah. Bisa berbentuk ejekan, cacian, makian, olokan, stigmatisasi, labelisasi. Bisa berbentuk ancaman, intimidasi, provokasi, teror. Bisa berbentuk bujukan, rayuan. Bisa berbentuk penawaran kekayaan, kedudukan, kkuasaan. Bisa berbentuk kekerasan, penyiksaan. Bisa berbentuk pemboikotan, blokade-embargo ekonomi, pemutusan hubungan sosial-ekonomi. Bisa berentuk pembekuan aset mata penghidupan. Bisa berbentuk peperangan. Bisa berbentuk propaganda, penyebaran isu. Islam diisukan sebagai ajaran pemecah belah keluarga, perusak persatuan dan kesatuan bangsa, tak cocok dengan masyarakat pluralis, masyarakat majemuk, masyarakat heterogen, masyarakat berbudaya. Islam diisukan haus darah, suka perang, suka membantai manusia. Islam diisukan sebagai teroris.

Islam dan umat Islam itu dilawan, ditantang karena keyakinan, akidah keIslaman dan predikat Islam yang disandangnya. “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” (QS 85:8).

Semua pihak, kecuali yang bertakwa bersatu padu melawan, menantang Islam dan umat Islam. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka” (QS 2:120). Semua pihak, kecuali yang bertakwa merasa kedudukannya, kekuasaannya, kekayaannya, ketenarannya teracam oleh Islam, karena Islam itu menyerukan kepada seluruh umat manusia bahwa “Yang paling mulia di antara kamu dalam pandanga Allah ialah yang pling dapat menjaga diri, yang paling takwa” (QS 49:13). Ukuran kemulian, kehormatan dalam Islam bukan pada kedudukan, kekuasaan, kekayaan, ketenaran, bukan pada pandangan manusia, tetapi pada pandangan Allah, pada ketakwaan kepada Allah.

Islam dan umat Islam akan selalu mendapat perlawanan dari pihak-pihak yang berpunya (konglomerat), yang berkedudukan, yang berkuasa, kecuali yang bertakwa, dari trio, triumvirat Fir’aunisme, Hamanisme, Qarunisme. Islam itu dirasakan sebagai ancaman terhadap eksistensi harta kekayaan, kedudukan, kekuasaan mereka. Ajaran zakat, infaq, adil, musyawarah, ibadah membatasi kebebasan mereka. “Bagi mereka adalah benar apabila ia dapat menambah kekuatan mereka, dan tidak benar apabila ia dapat menimbulkan kesangsian, sedikit sekalipun. Pemilik harta menganggap, bahwa moral itu benar adanya bilamana ia dapat memberikan tambahan ke dalam hartanya, dan tidak benar bilamana ia merintanginya. agama adalah benar, bilamana ia dapat membukakan jalan buat hawa-nafsunya, dan tidak benar kalau ia menjadi penghalang hawa-nafsu itu. Yang memiliki kedudukan, yang memiliki kekuasaan dalam hal ini sama saja seperti pemilik harta itu” (Muhammad Husai Haekal : “Sejarah Hidup Muhammad”, 1984:148).

Kemulian dan kehormatan itu dalam Islam bukan terletak dalam kedudukan, kekayaan, atau kekuasaan. “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yang kras dan ampunan dari allah serta keridhaannya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (QS 57:20).

Perlawanan, pertantangan terhadap Islam dan umat Islam itu bisa datang dari mana-mana. Bisa dari luar. Bisa dari Timur, bisa dari Barat. Bahkan bisa dari dalam, dari kalangan umat Islam sendiri (Simak antara lain Abul Hasan Ali AlHusni AnNadwi : “Pertarungan antara alam pikkiran Islam dengan alam pikiran Barat”, 1983). Samuel P Huttington menempatkan peradaban agama menjadi faktor yang sangat menentukan. Barat melawan yang bukan Barat. Termasuk kedalam Barat adalaha Kristen Orthodoks Katholik dan Protestan, Amerika Latin. Sedangkan yang bukan Barat adalah Dunia Islam dan Dunia Cina, termasuk kedalamnya Konfusianisme, Jepang, HIndustan, India, Afrika (GATRA, No.24, 2 Mei 1998:30). Samue P Huttington menyangsikan keberhasilan kebangkitan Islam berdasarkan adanya benturan (clash) antara berbagai peradaban (ALMUSLIMUN, No.334, Januari 1998, hal 71, Tsaqafah, “The Clash of Civilization and the Remarking of World Order”, 1996).

1

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: