Perlukah persepsi disamakan

Perlukah persepsi disamakan

Meskipun sama-sama mendapat perintah yang sama, namun dalam pelaksanaannya bisa saja penerapannya berbeda-beda sesuai dengan persipsinya masing-masing. Sama-sama disuruh membeli sekotak korek api kayu yang bagus. Setelah membeli korek api itu, yang satu memastikan bagusnya dengan mencoba membakar seluruh batabg (anak) isi korek api itu. Yang satu lagi hanya dengan mencoba sebatang isi korek api itu. Yang lain hanya dengan melihat menyaksikan orang yang membakar sebatang isi korek api dengan merek yang sama.

Islam mengajarkan bahwa siapa saja yang berpegang dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah tak akan pernah tersesat dalam hidup di dunia ini. Sesuai dengan persepsinya, agar tak tersesat, yang satu memegang Kitab Suci Qur:an dan Kitab Hadits dengan tangannya. Yang satu lagi membaca matan-teks Qur:an dan Hadits meski tak mengerti maksudnya. Yang satu lagi membaca terjemahn Qur:an dan Hadits secara terpenggal-penggal. Yang satu lagi berusaha mempelajari berbagai ilmu pengetahuan untuk dapat memahami makna dan maksud pesan Qur:an dan Hadits. Yang satu lagi berusaha memahami Qur:an dan Hadits secara utuh serta berusaha menerapkannya dalam semua segi kehidupannya.

Disebutkan bahwa Yang Maha Pemurah mengabulkan permohonan orang yang memohon kepadaNya (QS 2:186). Sesuai persepsinya, maka yang satu memandang bahwa yang pemurah itu tak memerlukan permohonan dari pemohon. Yang satu lagi mmandang bahwa yang pemurah itu tak memerlukan persyaratan dari pemohon. Yang satu lagi memandang bahwa pemohon harus menjelaskan apa ayang dimohonkan dan harus memenuhi persyaratan tertentu. Namun persepsi (pemahaman) siapapun tidaklah sama dengan persepsi (pemahaman) Allah swt.

Islam menyeru agar melakukan dakwah. Sesuai dengan persepsinya yang satu berupaya menghimpun-mengumpulkan beberapa ikhwan sesama Muslim untuk mendengarkan bacan-bacaan ayat Qur:an dan Hadits. Yang satu lagi berupaya membaca beberapa matan-teks ayat Qur:an dan Hadits meski tak mengerti maknanya. Kewajiban hanya menyampaikan. Diterima atau ditolak, itu bukan urusan penyampai. Tak ada suruhan untuk mempunyai ilmu pengetahuan tentang dakwah (teknik dakwah, strategi dakwah, metodik dakwah, rethorika dakwah, manajemen dakwah) dan ilmu pengetahuan pelengkapnya (seperti bahasqa Arab, ilmu jiwa, ilmu kemasyarakatan, dan lain-lain). Tak ada suruhan untuk menegakkan syari’at Islam. Tak ada suruhan untuk memberlakukan hukum Islam sebagai hukum positif. Tak ada suruhan menegakkan pemerintahan Islam. Yang disuruh hanya menyampaikan ayat Qur:an. Sampaikanlah seperti Rasulullah menyampaikan. Tak perlu membekali diri dengan apa yang dinamakan dengan ilmu dakwah, ilmu komunikasi (memasarkan ide-akidah) dan ilmu pendukungnya.

Qur:an menyuruh agar “bacalah apa yang diwahyukan kepadamu” (QS 18:27), “dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan ayat-ayat Allah” (QS 3:20), “sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi” (QS 28:56), ‘walaupun kamu membelanjakan semua kekayaan yang bewrada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka” (QS 8:63). 1

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: