Salafiyanisme dalam pengakuan

Salafiyanisme dalam pengakuan

Salafiyanisme mengaku bahwa dakwahnya mengikuti manhaj dakwah para rasul, bahwa dakwahnya mengajak kembali kepada AlQur:an dan AsSunnah dengan pemahaman Salafus Shaleh, mengajak pemurnian syari’at Islam dari segala bentuk syirik, bid’ah dan pemikiran sesat.

Disebutkan bahwa yang termasuk sunnah antara lain seperti memelihara jenggot, tidak isbal, tidak tasyabuh, tidak menggunakan tasbih, dan lain sebagainya. tak disebutkan bahwa AbuBakar Shiddiq memakai izar yang menutupi mata kaki. tak disebutkan bahwa para Salafus Shaleh memakai iar (sarung) dan tak mengenal kolor (celana dalam).

Disebutkan bahwa termasuk sunnah adalah mendesak ahli kitab ke pinggir di jalanan. Tak disebutkan apakah Salafiyanisme mengamalkan, menerapkan sunnah ini. juga tak disebutkan apakah sunnah ini hanya dalam pengertian fisik (hakini), ataukah juga termasuk dalam pengertian non-fisik (majazi).

Tak disebutkan apakah bentuk dari tidak tasyabbuh itu hanya terbatas dalam memelihara jenggot saja, ataukah harus tampil beda dengan orang kafir dalam seluruh aktivitas kehidupan, seperti beda dalam sistim pertahanan, sistim pendidikan, sistim informasi termasuk sarananya. Ataukah mengambilkan semuanya itu kepada kaedah bahwa setiap bentuk mu’amalah dan adat kebiasaan itu dibolehkan (tak perlu tampil beda), dengan mengacu pada Qs 2:29. Juga tak disebutkan apakah tampil beda (tidak tasyabbuh) itu hanya semata-mata dalam bentuk fisik (hakiki), ataukah juga dalam bentuk non-fisik (majazi).

Para rasul menyampaikan dakwah tauhid kepada orang musyrik, orang kafir, termasuk kepada penguasa yang zhalim, yang thaga, yang berbuat di luar batas kewenangan yang dibolehkan Allah, seperti yang dilakukan oleh Namruz dan Fir’aun. Dalam dakwah tauhid itu termasuk dalamnya dakwah untuk memperbaiki sisitim sosial ekonomi, antara lain dengan “menyempurnakan takaran dan timbangan, tidak merugikan orang, tidak berbuat onar dan makar ” dalam segala aktivitas kehidupan, seperti yang didakwahkan nabi Syu’aib as yang tertera dalam QS 7:85, 26:181-184. Sasaran dakwah para rasul itu adalah orang-orang yang paling zhalim, yang paling thagaa, seperti dapat disimak dalam QS 53:52. “Siapakah yang lebih zhalim dari pada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah, sedang dia diajak kepada agama Islam” (QS 61:7).

Tak disebutkan apakah Salafiyanisme pernah menyampaikan dakwah tauhid kepada orang musyrik, orang kafir, termasuk kepada pengausa zhalim, penguasa thagaa, ataukah hanya berkutat di lingkungan sendiri saja. Juga tak disebutkan apakah Salafiyanisme pernah mengalami kondisi batin sesak seperti yang dialami Nabi Nuh as, seperti yang tertera dalam QS 71:5-9, atau seperti yang dialami Nabi Muhammad saw. “Kami sungguh-sungguh mengetahui dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan” (QS 15:97).

Disebutkan bahwa “Kita harus memahami syari’at Islam itu utuh, tidak hanya potong tangan bagi pencuri, rajam bagi pezina, cambuk bagi peminum. Syari’at Islam itu menyeluruh mulai dari yang terpokok, tauhid, pemberantasan lawannya, yaitu syirik, hingga syari’at-syari’at yang dianggap sepele oleh sebagian orang semisal memelihara jenggot, tidak isbal, dan lain sebagainya” (ALFURQON, Gresik, Edisi 12, Th.III, Rojab 1425). Bagaaimana kalau susunannya demikian “Kita harus memahami syari’at islam itu utuh, tidak hanya memelihara jenggot, tidak isbal, dan lain semacam itu. syari’at Islam itu menyeluruh mulai yang terpokok, tauhid, pemberantasan lawannya, yaitu syrik, hingga syari’at-syari’at yang harus ditegakkan semisal potong tangan bagi pencuri, rajam bagi pezina, cambuk bagi peminum. Kita berkewajiban melaksanakan syari’at itu sesuai kemampuan. Pelaksanaan syari’at itu secara utuh hanya bisa terwujud alam daulah yang Islami. Demikianlah yang ditelandakan Rasulullah, sehingga terwujud Negara Kota Madinah, yang berdaulat ke dalam dan keluar.

Bagaimana mungkin seseorang dapat merealisasikan syari’at Islam secara utuh pada diri mereka sendiri, sementara mereka sama sekali tak punya minat, hasrat, keinginan, kemauan, cita-cita agar syari’at Islam itu berlaku sebagai hukum positif di muka bumi ini. Ataukah memang harus memulangkan sepenuhnya kepada Allah, tanpa ada kewajiban yang harus dilakukan, dengan menggunakan ayat QS 12:40, sebagai acuan. Itu urusan Allah, bukan urusan manusia. Atau bersikap seperti kaum nabi Musa yang berkata “pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja” (QS 5:24). Na’udzu billah min dzalik.
1

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: