Sampah Politik

Sampah Politik
Fokus KOMPAS, Sabtu, 10 Januari 2004, halam 33-40 menampilkan antara lain “Ketika Sampah (Politik) Sulit Dibusukkan”, “Belajar mengolah Sampah”, “Timbunan Busuk Itu Beromzet Miliaran Rupaih”, “Sampah dan Pemerintah”.

Sampah politik itu beragam, di antaranya politik ABS (asal bapak senang), politik menjilat, politik uang/upeti/sogok/pelicin, politik KKN (memperkaya diri, keluarga, kerabat, kelompok secara tak sah), politik penyelewengan/komersialisasi jabatan/kedudukan, politik manipulasi/intimidasi/provokasi/stigmatisasi/terorisme, politik monopolik belah bambu.

Agar tidak merusak, mencemari, membahayakan tatan kehidupan berpolitik, maka sampah politik itu harus segera dibuang ke tempat pembuangan, penampungan sampah politik. Sesegera mungkin dibusukkan, dilapukkan agar terpecah, terurai menjadi unsur-unsur hara yang bisa dimanfa’atkan kembali.

Persoalan timbul, bagaimana cara, teknik, metodik pembusukan, pelapukan sampah politik itu? Apakah dengan menggunakan pendekatan jalur hukum, sanksi hukum? Ataukah dengan menggunakan pendekatan jallur kultur, budaya? Ataukah dengan menggunakan pendekatan jalur agama, agar sikap mental yang berorientasi pada materi, kekayaan, kemewahan, kekuasaan, ketenaran dapat berubah menjadi sikap mental yang berorientasi pada ilahi, ruhani, ketaqwaan, ketawadhu:an, ketulusan. Dari sikap mental yang berorientasi pada kepentingan sendiri (individual profit oriented) berubah menjadi sikap mental yang berorientasi pada kepentingan bersama (social profit oriented).

KOMPAS menyebutkan bahwa pembusukan politik (political decay/decomposition politics) dapat dianalisis dari segi cost and benefit. Namun tak ada paparan analisa ilmiah tentang cara, teknik, metodik pelapukan sampah politik itu sama sekali. Sampah politik itu merupakan bagian dari kerusakan struktural tatanan kehidupan, yang berpangkal pada keruskan mental dengan biangnya mental rakus, kikir dan sombong.

Dalam hadis riwayat Abusyaikh dari Anas ra dinyatakan bahwa yang mengundang datangnya bencana itu (termasuk betumpuknya sampah politik) bisa dikelompokkan atas tiga bagian besar. Pertama memperturutkan hawa nafsu (nafsu tanpa kendali), punya pola hidup tamak, rakus, serakah. Kedua memenuhi seruan kikir (tanpa batas, monopoli, makan tebu dengan akar-akarnya, rakus/tamak dari hulu sampai ke hilir), punya pola hidup pelit, kikir. Ketiga ujub, sombong, pamer diri (merasa diri begitu megah, bangga/megah dengan diri sendiri, ambisius), punya pola hidup sombong. (Simak antara lain Sayid mujtaba Musawi Lari : “Menumpas Penyakit Hati”, 1999:99, 152-153,161) 1

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: