Semangat anti Islam

Semangat anti Islam

Semangat De-Islamisasi (Anti Islam) senantiasa bergelora sepanjang masa. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada akamu hingga kamu mengikuti agama mereka” (QS 2:12). Doktrin Yahudi dan Nasrani mengandung benih anti Islam.

Semangat De-Islamisasi (Anti Islam) bisa saja muncul-tampil dalam berbagai bentuk-rupa-cara, bisa berbentuk De-Ideologisasi, bisa melalui antek-anteknya yang menganut-memeluk Islam. Dikemukakanlah bahwa “memilih sebuah republik ada konsekuensinya, yaitu kita hidup dalam situasi non-ideologsi. Tidak boleh ada politik identitas dalam sebuah republik”. ‘Republik memang sebuah konstruksi sekuler” (KOMPAS, Sabtu, 20 Maret 2004, hal 40, Fokus : “Kebebasan Versus Kebablasan”).

Dalam menyikapi semangat De-Ideologisasi ini Mohammad Natsir dalam suatu tulisannya “Membangkitkan Kepercayaan Dan Kekuatan Diri Sendiri” (dalam bundelan SUARA MASJID tahun 1978) mengingatkan peran ideologi. “Mengadakan negara yang makmur bisa, tetapi mengadakan negara yang adil tanpa aqidah (ideologi) tidak bisa”. “Antara program dan ideologi tidak bisa dipisahan”.

Semangat De-Islamisasi (Anti Islam) bisa pula muncul dalam bentuk ajakan, himbauan ilmiah-akademis agar bersikap inklusif, pluralis. Isu inklusif, pluralis sangat gencar diangkat kepermukaan. Simaklah antara lain “Globalisasi Pendidikaan Inklusif”, oleh Muhammad Ali (KOMPAS, Kamis, 3 Juli 2003, hal 4, Opini), “Tak Perlu Pendidikan Agama”, oleh Luthfi Asy-Syaukani (KOMPAS, Sabtu, 15 Maret 2003, hal 4-5), Pluralisme dan Toleransi’, oleh Nurcholish Madjid (Tabloid TEKAD, No.18/Tahun I, 1-7 Maret 1999, hal 2, Fatsoen), “Fiqih lintas Agama : Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis”, oleh Nurcholish Madjid dkk, “Membangun Masyarakat Pluralis”, oleh Prof Dr Nasaruddin Umar MA (Risalah Dakwah ROBBANI, No.12, Mei 2002).

Islam mengajarkan umatnya “Jika mreka (Ahli Kitab) berpaling, maka katakanlah kepada mereka : Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang Islam (yang berserah diri kepada Allah)” (QS 3:64). Islam juga mengajarkan agar berbahagia menjadi orang asing (ghuraba) (Simak “Madarijus Salikin”, oleh Ibnul Qaiyim tentang “Ghuraba”). Islam mengajrkan agar bersikap tegas (tidak samar-samar), menampakkan identitas Islam (bukan malu dengan predikat Islam), bangga sebagai ghuraba (ekslusif).

(BKS0403211000)
1

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: