Sistem Ekonomi Islam

Sistem Ekonomi Islam

0. Naluri bisnis

Perintah Nabi Untuk Berdagang. Perniagaan merupakan pertanda baik dan ksejahteraan yang akan menjadi tulang punggung untuk memproleh kekayaan. Nabi berkata “Berdaganglah kamu, sebab lebih dari sepuluh bagian penghidupan, sembilan diantaranya dihasilkan dari berdagang”. “Mencari penghasilan halal merupakan suatu tugas wajib” (Afzalurrahman: “Muhammad Sebagai Seorang Pedagang”, 1997:27).

Kegiatan perdagangan. Tugas perdagangan ialah membawa barang-barang dari produsen (yang membuatnya) ke konsumen (yang memakainya). Di samping itu menimbun dan menyimpan barang-barang itu dalam masa yang berkelebihan sampai mengancam bahaya kekurangan. Dan bukan sebaliknya, yaitu menimbun dalam rangka spekulasi (ikhtikar) dengan maksud menunggu naiknya harga karena kelangkaan barang di pasar.

Kegiatan perdagangan/ekonomi dapat diamati dari sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Nisai “Bahwa seseorang kamu membawa tali pada pagi-pagi hari pergi berangkat mengerjakan kayu api ke bukit-bukit, mka dijualnya, dimakannya dan disedekahkannya hasilnya, lebih baik daripada dia hidup meminta-minta kepada manusia lainnya”. Jadi pemulung lebih mulia dan terhormat dari pengemis atau pengamen. Dari sada Nabi tersebut, dapat diketahui bahwa kegiatan ekonomi/perdagangan itu mencakup produksi, distribusi, dan investasi (amal shaleh, amal sosial). (ZA Ahmad : “Dasar-dasar Ekonomi dalam Islam”, 1952:14).

Motivasi mengumpulkan kekayaan adalah untuk dibagi-bagikan kepada sesama. Nabi bersada “Saya mengharap mempunyai emas sebesar bukit Uhud, yang akan aku bagi-bagikan semuanya, kecuali hanya tinggal tiga dinar menjadi milikku”. “tidaklah menggembirakan saya kalau saya mempunyai emas sebesar bukit Uhud, yang senantiasa saya didatangi orang, sedang di tangan saya masih ada satu dinar daripadanya, kecuali hanya saya tinggalkan sedikit sekedar untuk menutup keperluan hidupku. Adapun segala emas yang lainnya saya panggilkan kepada orang-orang yang memerlukannya, dengan membagi-bagikannya kepada mereka di kanan, di kiri dan di belakang, masing-masing mereka sekian dan sekian”. “Sesungguhnya, orang-orang yang banyak uang dan harta (di dunia), merekalah yang kekurangan dan hidup melarat di hari kiamat nanti, kecuali kalau mereka banyak berkorban kepada segala orang, sekian dan sekian. Tetapi jumlah orang yang baik demikian sedikit sekali”. (idem, hal 61-62, simak juga : “Matan Shahih Bukhari”, jilid I, hal 245, “Tarjamah Riadhus Shalihin”, jilid I, hal 405, hadis no.9, “Tarjamah Lukluk wal-Marjan”, jilid I, hal 301, hadis no.579, HR Bukhari, Muslim dari Abi Dzar).

Rezeki dan kebutuhan. Kata rezeki berarti pmberian dari Allah yang mencakup segala sesuatu yang dapat dipergunakan oleh manusia, segala sesuatu yang dapat diambil manfa’atnya oleh manusia. Ini merupakan suatu ungkapan yang sangat luas maknanya dan meliputi segala anugerah Allah, baik yang nyata mapun yang tersembunyi. Pendeknya ungkapan tersebut mengandung arti bahwa manusia harus berjuang memperoleh berbagai manfa’at alam. (Afzalurrahman : “Muhammad Sebagai Seorang Saudagar”, 1997:218).

Mu’amalah. Berbagai macam jenis mu’amalah. Antara lain jual beli, salam (pesanan, order, inden), ‘ariyah (pinjam meminjam), wadi’ah (titpan), wakalah (kuasa, mandat), ijarah (sewa menyewa), utang piutang, gadai, dhaman (tanggungan, jaminan), dan lainnya.

Qiradh (Kredit?). Dalam bab mu’amalat, qiradh berarti menyerahkan modal kepada orang untuk didagangkan (diperniagakan) dan pembagian keuntungan ditetapkan menurut perjanjian dan kesepakatan bersama. Hukum qiradh adlah mubah (dibolehkan). (Drs M Umar dkk : “Fiqih-Ushul-Mantiq”, I, 1985:43).

Pembelian berdasarkan kredit. Nabi kadang-kadang mmbeli barang secara kredit, jika tidak mempunyai sesuatu untuk dibayarkan. Kadang-kadang beliau memeli sesuatu, menggadaikan baju besi beliau pada pedagang. Dalam berutang, Nabi mengingatkan bahwa yang paling baik adalah yang membayar utangnya dengan cara yang paling baik.

Hampir semua urusan dagang dilakukan nabi melalui agen-agen. Kadang-kadang Nabi mengambil pinjaman berdasarkan gadai, membeli barang dengan tunai, dan dengan pinjaman.

Sepanjang hidup beliau, Nabi banyak melakukan pinjaman, terutama setelah hijrah ke Madinah. Beliau adalah seorang peminjam yang murah. Kapan saja beliau meminjam sesuatu dari orang lain, belai selalu mmbayar kembali lebih banyak sebagai tanda kebaikan hati beliau. Ketika membayar utang Nabi selalu mendo’akan orang yang berpiutang “Semoga Allah memberkati keluarga dan hartanya”. Balasan bagi suatu pinjaman adalah pujian Allah dan dikembalikan pinjaman itu. “Aku adalah orang terbaik di antara orang-orang yang membayar utang”. (Afzalurrahman : “Muhammad Sebagai Seorang Pedagang”, 1997:13-15).

1. Acuan kebijakan ekonomi

Kini membudaya, merupakan trendi menyelenggarakan peluncuran buku. Dalam suasana peringatan Maulid Nabi saw, pada hari Rabu, tanggal 14 Agustus 1996, di ruang pertemuan Bursa Efek Jakarta, oleh penerbit Yayasan Swama Bhumy diselenggarakan peluncuran bukunya “Muhammad Sebagai Seorang Pedagang” (Muhammad As A Trader), karya Afzalurrahman yang diterjemahkan oleh Dewi Nurjulianti, Isnan, dakk. Dalam acara peluncuran buku itu ikut memberikan kata sambutan Achmad Gozali mewakili Menteri Agama Tarmidzi Taher, Fuad Bawazir (yang juga salah seorang donatur bagi penerbitan buku itu) mewakili Menteri Keuangan Mar’i Muhammad. Buku tersebut diawali dengan sambutan oleh Faizal Motik SH (Ketua Umum Yayasan Swama Bhumy), KH Hasan Basri (Ketua Majlis Ulama Indonesia), Dr H Tarmidzi Taher (Meneri Agama RI), dan Analisa Pengantar oleh Dr Lode Kamaluddin (Ketua Umum Yayasan Wakaf ISNET), Aburizal Bakrie (kamar Dagang Dan Industri Indonesia), Mar’i Muhammad (Menteri Keuangan RI).

Buku “Muhammad Sebagai Seorang Pedagang” tersebut disebutkan sebagai “Panduan Berdagang Umat Islam”, buku petunjuk cara berdagang yang Islami, dasar membangun sebuah sistim ekonomi Islam (REPUBLIKA, 30 Agustus 1996).

Khusus kepada para pkar ekonomi/keuangan dan praktisi bisnis Islam/Muslim semacam Fuad Bawazir, Mar’i Muhammad, Abu Rizal Bakrie, dan lain-lain tertumpah harapan kiranya dapat merintis, mempelopori, menerapkan, menjadikan buku “Muhammad Sebagai Seorang Pedagang”, dan buku-buku yang sejenis dengan itu benar-benar sebagai acuan, rujukan, referensi utama dalam merancang, menyusun, menyelenggarakan kebijaksanaan ekonomi dan moneter, baik makro maupun mikro, dan bukan hanya semata-mata sebagai konsumsi/komoditi diskusi. Khususnya dapat dijadikan sebagai “Panduan Penyusunan Konsep Mengatasi Krisis Ekonomi dan Moneter” yang melanda bangsa dan negra.

Pakar ekonomi Keynes pernah menganjurkan interensi/pengawasan negara secara langsung terhadap beberapa variable ekonomi. Untuk menjamin lapangan kerja penuh, menurut Keynes perlu penurunan suku bungan, walaupun dapat berarti suku bungan mencapai nol. (“The General Theory of Employment, Interest, And Money”).

Mengacu pada telaah Keynes itu, barangkali dapat diharapkan suatu saat nanti dalam hubungannya dengan lembaga keuangan (perbankan), yang ada hanyalah Bank Pemerintah dengan transaksi Suku Bunga Nol.

2. Hapuskan Perdagangan Uang (Bunga Uang)

Ummat secara keseluruhan berdasarkan dari pengalaman kondisi ekonomi akhir-akhir ini, haruslah menemukan format, sistem alternatif baru di bidang ekonomi.

Tanpa ada alternatif sistem, ummat Islam akan terseret pada permainan tertentu yang tidak sejalan dengan prinsip Islam. Kita akan terjebak pada permainan orang lain yang merugikan ummat Islam sendiri.

Pendapat Perdana Menteri Malaysia, Dr Mahatir mohammad, tentang perlu dihentikannya perdagangan uang. Kaena, perdagangan uang secara prinsip tidak berbeda dengan riba atau membungakan uang. Islam melarang perdagangan uang, karena lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya.

Agama Islam secara tegas mengajarkan bahwa harta itu dapat diperoleh manusia dari apa yang dikerjakannya. Bukan didapat dari cucuran keringat orang lain. Orang memperoleh harta sesuai apa yang dikerjakannya.

Sistem yang berkembang sekarang ini merupakan sistem yang dikembangkan Yahudi, yang sangat bertentangaan dengan semangat Islam. Dan, kita sekarang ini tanpa menyadarinya terseret di dalamnya.

Pasar uang bisa dihapus atau ditiadakan. Kita dapat merumuskan kekuatan ekonomi alternatif dengan sistem alternatif, tanpa perdagangan uang,

Yang memahami ekonomi Islam harus memulai menyuarakan perlunya perdagangan uang dihapus. Umat Islam perlu melakukan mobilisasi opini bahwa perdagangan uang itu, sangat merugikan masyarakat dan merusak tatanan ekonomi. Dari sudut Islam, perdagangan uang juga dilarang.

Setiap media Islam hendaknya mau memulai memerangi perdagangan uang itu, langkah-langkah penghapusan perdagangan uang hendaknya dapat dilaksanakan. Dan, secara logika ekonomi, penghapusan perdagangan uang sangat rasional (Seruan Faisal H Basri, dalam MEDIADAKWAH, Oktober 1997, hal 65).

Mengubah fungsi uang dari sebagai alat pembayaran menjadi komoditi yang diperjualbelikan sama dengan perjudian adalah zhalim (KH Hasan Basri, dalam REPUBLIKA, Sabtu, 24 Januari 1998, hal 2).

Selama pasar uang dikuasai para mafia dan godfather, maka pasar uang hanya menjadi laku judi semata (Theo F Tumion, dalam TERBIT, Jum’at, 23 Januari 1998, hal 3).

Bagaimana katiannya antara Bank dan Kesenjangan Sosial ? apakah dengan semakin banyaknya Bank, maka semakin sempit ataukah semakin lebar kesenjangan sosial antara konglomerat dengan yang melarat ? Apakah dengan semakin banyaknya uang yang berputar di Bank, maka semakin sempit atauhak semakin lebazr kesenjaangan sosial, maka semakin sedikit ataukah semakin banyak yang melarat ? bagaiamana konklusi faktuailnya ?

Imam Besar PBB dan Darul Qur:an New York, penulis buku “Satu jama’at Satu Amir”, Syekh Imran Nasr H ketika melawat ke Indonesia dalam raangkaian Seminar Islam di beberapa negara, dalam wawancaranaya kepada tim SABILI mengemukakan bahwa “uang kertas itu haram karena mengandung riba. Sekaranglah saatnya bagi uslim Indonesia untuk mengubah uang kertas menjadi uang logam, emas dan perak” (SABILI, No.01, Th.IX, 4 Juli 2001, hal 55).

3. Riba biang petaka

Sistem perbankan merupakan salah satu instrumen kebijaksanaan sistem moneter dari sistem perekonomian scara makro. Dia merupakan salah satu urat nadi perekonomian negara. Bobroknya sistem perbankan, maka akan berakibat langsung pada kacaunya perekonomian negara.

Di Indonesia, seluruh isi perundang-undangan tentang perbankan merupakan perpanjangan manifestasi sistem ekonomi kapitalisme yang mendasarkan pada sistem perbankan ribawi.

Dalam sistem ekonomi Kapitalis Barat, riba atau suku bunga (interest) seperti nyawa yang tidak dapat dilepaskan dari tubuhnya. Riba sudah demikian menyatu dalam sistem ekonomi Kapitalis, sampai-sampai seluruh bentuk aktivitas ekonomi tidak ada yang terlepas dari sistem riba tersebut, dengan dalih mustahil untuk dihilangkan.

Padahal, sejak masa lalu, riba sudah dikecam habis-habisan. Aristoteles, filosof Yunani Kuno, mengutuk sistem pembungaan uang. Ia menyebut riba sebagai ayam betina yang mandul dan tidak bisa bertelur. Kemudian para pakar ekonomi Kapitalis membuat-buat dalih agar bunga atau riba bisa diterima akal sehat manusia.

Teori-teori yang mengabsahkan bunga/riba (seperti teori Adam Smith, David Ricardo, Marshall) telah dibantah oleh pakar Kapitalis sendiri. John Maynard Keynes (1883-1941), misalnya mengkritik habis-habisan teori bunga uang. Ia menyatakan, bahwa suku bunga uang hanyalah pengaruh angan-angan manusia saja. Manusia dipaksa untuk menganggap wajar dan baik akan adanya suku bunga, padahal kenyataannya dia tidaklah ada. Lebih jauh lagi suku bunga sebenarnya akan melahirkan inefisiensi dan ketidakproduktifan masyarakat. Sebagian akan berprilaku spekulatif dan eksploitatif terhadap manusia lain (homo homini lupus, exploitation de l’home par l’home).

Sistem perbankan ribawi (usurios banking system) merupakan biang bencana dalam sistem ekonomi kapitalis. Sebabnya, bank telah diberi hak untuk menghimpun dana dari masyarakat (yang disebut simpanaqn), lalu mengelolanya seolah-olah milik bank itu sendiri, serta mendistribusikan dana tersebut dengan cara mengkreditkannya kepada para investor dan penguaha (ermasuk para pedagang saham di pasar modal serta penyimpanan sendiri) dengan memungut riba yang telah ditentukan.

Sitem perbankan ribawi secara alamiah akan membuat dana masyarakat hanya berputar pada kalangan terbatas yang sedikit jumlahnya.

Resesi ekonomi dunia yang terjadi selama ini adalah konsekuensi logis dari ciri khas sistem ekonomi Kapitalis yang dianut oleh hampir seluruh negara di dunia yang mengacu pada sistem ekonomi ribawi.

Semua kekacauan itu disebabkan oleh dua hal utama. Pertama, persoalan mata uang, dimana nilai mata uang satu negara (yang tidak lagi dijamin cadangan emas senilai uang yang beredar) harus terikat dengan mata uang negara lain. Kedua, kenyataan bahwa uang tidak lagi dijadikan hanya sebagai alat tukar saja, tetapi telah menjadi komoditas yang diperjualbelikan. (Tertumpah harapan, kiranya PBB/UNO mau merintis, mempelopori, memprakarsai adanya mata uang tunggal bagi seluruh negara anggota PBB/UNO, seperti halnya mata uang EURO yang berlaku bagi semua masyarakat ekonomi Eropah daratan).

Dengan sistem mata uang kertas tnpa jaminan emas dan adanya bursa valuta asing, kurs mata uang suatu negara (yang lemah dan miskin) sangatlah rentan terhadap perubahan, bahkan sangat mudah anjlok dan terguncang. Inilah sebenarnya sebab musaab berbagai krisis yang melanda selama ini.

Pandangan yang menganggap uang tidak hanya sebagai alat tukar, tetapi sekaligus juga sebagai komoditas, serta pembuatan mata uang yang tidak menggunakan basis emas atau perak, sehingga nilai nominal tidak menyatu (inherent) dengan nilai intrinsiknya, merupakan biang dari segala krisis ekonomi bersistem kapitalis.

Dalam mengatasi krisis sekonomi semacam ini, maka di samping harus menata sektor riil, yang lebih penting adalah meluruskan pandangan keliru tentang fungsi mata uang. Bila uang dikembalikan kepada fungsinya sebagai alat tukar saja, lalu mata uang dibuat dengan berbasis emas dan perak, maka ekonomi akan betul-betul digerakkan hanya oleh sektor riil saja.

Dalam hubungan ini, guna memperbaiki perekonomian suatu negara, Islam memberikan pengarahan , antgara lain agar supaya :

Mempersempit jurang kesenjangan (QS 59:7).
Mengharamkan riba dan mencegah pinjaman-pinjaman asing. (Syekh Abdu Rahman al-Maliky menyebutkan empat bahaya hutang luar negeri, dalam kitabnya “Al Siasah al Iqtishadiyah al Mutsla”). Memecahkan masalah krisis utang luar negeri dengan pembayaran utang tanpa membayar bunga..
Membrantas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
Mengharamkan judi dan perkembangannya di tempat-tempat hiburan.
Melarang menimbun harta (kanzul maal) (QS 9:34).
Menetapkan sistem mata uang berbasis emas dan perak. (Mengubah basis uang kertas ke basis uang emas dan perak). Menghentikan keterikatan rupiah dengan dollar AS sebagai devisa, dan tidak mengikatkan dengan menjadikannya sebagai standard harga barang-barang dan jasa dalam perdagangan luar negeri.
Memanfa’atkan lahan-lahan tidur.
Menjamin kebutuhan pokok bagi tiap individu dan masyarakat.
Menjamin pengadaan lapangan pekerjaan bagi seluruh angkatan kerja.

(Drs M Fachry Ali : “Skandal-skandal Perbankan”, Buletin Mingguan TAGHYIIR”, Edisi 100, Agustus 1999, Edisi 37 dan 44).

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: