Umat Islam Umat Pecundang (Korban Provokasi Terroris Global)

Umat Islam Umat Pecundang (Korban Provokasi Terroris Global)

Kondisi Umat Islam dimana-mana adalah sebagai bangsa pecundang, bukan sebagai bangsa pemenang. Padahal umat Islam itu seharusnya (das Solen) adalah umat yang super (QS 3:139, 47:35). Namun nyatanya (das Sein), di Aljazair, di Sudan, di Somalia, di Bosnia, di Palestina, dan di lain-lain tempat, umat Islam jadi bulan-bulanan musuh-musuh Islam yang dikomandani oleh kapitalis Barat (ghalabatir rijaal). AlQaeda, Taliban, Jama’ah Islamiyah, Majelis Mujahidin, Front Pembela Islam, Laskyar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah jadi bulan-bulanan musuh-musuh Islam. Media massa semacam koran PELITA, PANJI MASYARAKAT tak lagi menyuarakan Islam. Nanti, koran REPUBLIKA, SABILI bisa saja menyusul. Umat Islam lemah dalam segala hal. Lemah dalam information war, psy-war, ghazul fikri. Tak mampu melakukan tugas menangkis tudingan lawan dengan cara-cara yang paling baik (QS 18:125, 29:46), jitu. Sebaliknya, kapitalis Barat dengan jaringannya sebagai Sang Provokator amat piawai membangun, menggarap opini publik. Gencar menggarap opini publik, bahwa Irak (dengan Saddam Husseinnya) memproduksi senjata kimia pemusnah massal. Gencar menggarap opini publik, bahwa Taliban dan AlQaeda (dengan Osama bin Ladinnya) adalah terroris, pelaku serangan terror di Washington dan New York pada 11 September 2001. Gencar menggarap opini publik, bahwa Jama’ah Islamiyah dan Majelis Mujahidin (dengan Abu Bakar Baasyirnya) adalah terroris, anggota jaringan AlQaeda, otak pelaku Tragedi Bali 12 Oktober 2002. Umat Islam tak memiliki kemampuan untuk mengcounter (wa jadilhum billati hiya ahsan) tudingan lawan itu. Juga lemah dalam arena phisical-war. Lemah secara ideologis (imaana) dan secara fisik (Ihtisaaba). Lemah dalam kualitas dan kapasitas. Padahal untuk menghadapi lawan (musuh) haruslah (das Sollen) dengan menyiapkan kekuatan yang dapat menggentarkan lawan (musuh) yang nyata dan lawan yang tak nyata (QS 8:60). Dengan semangat berkobar-kobar, dengan kesabaran (ketahanan) tinggi, dengan pimpinan Muhammad Rasulullah, maka pasukan Islam dapat mengalahkan musuh (lawan) yang sepuluh kali banyaknya (QS 8:65), setidaknya dapat mengalahkan musuh (lawan) yang dua kalibanyaknya (QS 8:66). Setelah Muhammad Rasulullah sudah tidak ada lagi, setelah semangat tak berkobar-kobar lagi, setelah kesabaran sudah tak ada lagi, maka (das Sein) tak ada tercatat dalam sejarah, pasukan Islam yang dapat mengalahakan lawan yang lebih besar jumlahnya dari pasukan Islam. Kini, umat Islam tinggal sebagai bangsa pecundang. Tak punya pimpinan pemersatu ummat. Tak punya kekuatan ideologi (akidah), organisasi (jama’ah), displin (bai’ah, nizhamiyah), logistik (perangkat lunak dan perangkat keras). Dimana-mana, umat islam tak lagi berlindung, bernaung dibawah kekuasaan Allah, dan tak lagi berlindung, bernaung dibawah kekuasaan penguasa Islam, tak lagi berpegang pada hablum minallah wa hablum.

Umat Islam pernah jaya, dihormati, dihargai orang, disegani, diperhitungkan lawan. Sehingga orang semacam Simon Jenkins (korespenden London Times) merasa khawatir “serangan hebat terhadap negara-negara Muslim” akan mampu memicu., mendorong “kaum fanatik berbondong-bondong mendukung Osama bin Laden” (Noam Avran Chomsky : “Maling Teriak Maling :Amerika Sang Teroris?”, 2001:XVI). Karena Islam dipandang oleh orang semacam Washington Irving sebagai suatu ajaran yang mendorong sekelompok tentara yang bodoh tidak berpengalaman menyerbu secara buas ke medan perang, dengan keyakinan bahwa kalau hidup mendapat rampasan, kalau mati mendapat surga (Muhammad Husein Haekal : “Sejarah Hidup Muhammad”, 1984:693). Demikianlah tafsiran, interpretasi orientalis tentang “‘isy kariman au mut syahidan”.

Namun kemudian umat Islam pernah pula tak berjaya, tak dihormati, tak dihargai orang, tak disegani, tak diperhitungkan lawan (khauf). Umat Islam susdah dilecehkan, dihinakan lawan (ditimpa dzillah, kehinaan luar biasa), kehilangan ‘izzah (kemuliaan), tidak lagi memliki kekuatan apa pun, meskipun jumlahnya masih mayoritas. Sampai-sampai orang semacam Marshal Lord Allenby (wakil sekutu : Inggeris, Perancis, Italia, Rumania, Amerika) sesumbar pongah berteriak histeris di kuil Sulaiman di Yerusalem, pada akhir Perang Dunia Pertama, ketika kota itu ditaklukkan, didudukinya tahun 1918 “Sekarang Perang Salib sudah selesai” (“Sejarah Hidum Muhammad”, 1984:260,731, “Rencana Barat Menghancurkan Islam”, hal 16). Si pengigau (delirium) Bush kecil (George Walker Bush) tak gentar sama sekali mengikis habis sisa-sisa simbol Islam dengan dendam Salib meluncurkan demokrasi dengan rudal ke Irak.

Umat Islam kini sudah sama dengan umat lain, tak beda lagi dengan umat lain, tak lagi punya identitas (isyhadu bianna Muslimin). IPOLEKSOSBUDHANKAMTIB umat Islam tak beda dengan umat lain. Hal ini disebabkan karena umat Islam masa kini mengidap demam “wahnun (lemah semangat memperjuangkan Islam, tak punya motivasi memperjuangkan Islam), cinta dunia (lebih berorientasi pada kehidupan duniawi dari pada ukhrawi, lebih berorientasi pada kepentingan diri pribadi daripada kepentingan bersama, lebih cinta pada harta, kekayaan, pangkat, jabatakn, kedudukan, kekuasaan, ketenaran daripada Allah dan RasulNya serta berjihad fi sabilillah), panjang angan-angan (terlalu banyak mempertimbangkan risiko memperjuangkan Islam), takut mati (tak berani berjihad memperjuangkan Islam, tak berani menghadapi risiko stigmatisasi, lebelisasi, cap radikal, fundamentalis, teroris). Padahal umat Islam diperintah untuk lebih cinta pada Allah dan RasulNya serta berjihad di jalan Allah dari pada cinta akan harta, kekayaan, pangkat, jabatan, kedudukan, kekuasaan, ketenaran, sana-keluarga, bangsa, negara, tanah air (simak antara lain QS 9:23-24).

Rasulullah saw dan para sahabat di dakam usaha membangun umat sering mempringatkan bahwa perkembangan sejarah membawakan perkembangan pasang-surut dan pasang-naik. Rasulullah mengingatkan, bahwa nanti akan datang suatu masa, yang pada waktu itu umat Islam bagaikan buih yang terapung-apung di atas air. Dianggap enteng oleh orang lain, meskipun mereka banyak, mayoritas. Tak ada rasa segan atau gentar di hati orang yang melihatnya. Hal ini disebabkan di dalam ahti umat Islam bersarang dan berkembang virus “wahn”, yaitu penyakit cinta, rakus dunia, dan takut mati (M Natsir : “Masjid, Qur:an, Disiplin”, AlMunawwarah, KH Firdaus AN : “Detik-Detik Terakhir Kehidupan Rasulullah”, 1983:134, Hadits dari Tsauban, riwayat Abu Daud, nno.3745). 1

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: